Mematematikakan Ulama sebagai Tolok Ukur Majunya Moral

Penulis : Zamzam Qodri

Editor: Andi Purnomo

 

Dalam sejarah tercatat bahwa pendidikan tidak lepas dengan yang namanya seorang guru. Guru adalah orang yang pandai akan sesuatu ilmu dan mengajarkan ilmunya. Dalam Islam, guru-guru itu disebut ulama. Ulama dalam Islam sering disebut dengan ‘pewaris nabi’. Ia adalah tonggak dari tegaknya ilmu pengetahuan dan moral umatnya. Namun, pada tulisan ini aku menemukan sedikit ilmu matematika yang aku pelajari dulu mulai dari SD, SMP sampai SMA untuk mematematikakan ulama. Bagaimana itu?  Jadi begini…..

Aku sempat berpikir ketika orang mengatakan bahwa zaman modern adalah zaman kebobrokan moral. Ditambah lagi dengan mengaitkannya pada kalimat “kiamat sudah dekat”.

Bagi pemikir seperti saya (pemikir= yang bukan ahli pikir, tapi subjek yang berpikir), kadang merasa tersentuh. Karena sudah dianggap pemikir, maka saya bertanya, “apa hubungan antara zaman modern, kebobrokan moral dan kiamat sudah dekat?”

Banyak perspektif yang menjawab pertanyaanku ini. Dibuka dengan yang berlatar belakang kejawen murni, ia menjawab, “Karena di zaman modern tidak ditekankan etika hanya ditekankan logika,”

Yang berlatarbelakang pun Pendidikan pun menyahut, “Gimana mau beretika, Pak. Wong di zaman modern gak ada pendidikan moral, di sekolah hanya diajarkan material?”

Disusul dengan argumen orang berlatar belakang militer, “Itulah akibat jika guru hanya nurut pada kurikulum, gak ada inisiatif untuk mendidik secara tegas seperti para militer.”

“Itu bukan salah gurunya, itu salah pemerintah, guru hanya menjalankan apa yang ada di pemerintah,” jawab orang berlatar belakang pendidikan.

Yang berlatar belakang pemerintahan pun menjawab, “Pemerintah udah memaksimalkan hal itu, lho. Anda lihat bagaimana beasiswa banyak disebarkan. Itu bukti pemerintah peduli pendidikan!”

Mendengar perdebatan itu, ada yang orang berlatarbelakang pesantren menjawab , “Udahlah, gausah ribut. Semua itu gara-gara banyaknya ulama yang dipanggil oleh Allah. Jika anda tahu ada haids Nabi yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari setiap orang, tapi dengan memanggil para ulama. Lihat sekarang banyak ulama yang wafat. Itu sudah menjadi takdir kiamat sudah dekat. Maka dari itu, orang modern bisa bobrok moralnya karena jarang bahkan tidak sama sekali dekat dengan ulama. Yang seharusnya kita lakukan adalah mendekati para ulama yang masih ada”

Dari semua jawaban aku serap semuanya. Namun, yang paling berkesan bagiku adalah jawaban orang yang berlatar belakang pesantren itu. Benar sekali, jika tak ada ulama, siapa yang akan membimbing. Tapi entah kenapa aku sempat terbesit sebuah pertanyaan lagi dipikiranku. “Bukankah sekarang tambah banyak ulama?” pertanyaan itu berdasarkan pengetahua dangkalku terkait ilmu nahwu (grammar Arab). Setahuku, kata ulama bermakna orang-orang pandai. Kata dasarnya adalah ‘alim. Jika dilihat pada zaman modern, terdapat ribuan bahkan jutaan pakar, cendikiawan, ilmuwan dan lain sebagainya. Bukankah mereka disebut orang-orang pandai (ulama’)? Sekali lagi, ‘Bukankah pada zaman sekarang (modern) malah banyak ulama’?’ tapi pertanyaan itu tidak aku lontarkan lagi.

Saat itu aku berpikir dan berusaha mengingat. Karena saya rasa persoalan atau pertanyaanku kali ini pernah menemukan dalam suatu jargon negara demokrasi, “Suara rakyat adalah suara tuhan”. Jika ada yang mengkhianati rakyat sama saja berkhianat pada tuhannya. Ehh, kok malah kesitu ya pembahasannya, hahahaha. Anggap saja ini tulisan yang gak bisa dihapus. Oke, jika rakyatlah yang terbanyak, berarti negara tersebut tergantung kemauan dan pikiran rakyat. Jika rakyatnya kebanyakan gila, maka negara atau wilayah tersebut akan berjalan sesuai dengan pikiran gila mereka. Dan jika ada yang waras di wilayah tersebut, maka satu wilayah akan mengarakan orang waras itu, orang yang gila, karena gak sesuai dengan mereka. Sederhananya, jika suatu wilayah dikuasai oleh orang gila, maka wilayah itu juga gila.

Jika kita berklakar dengan ilmu matematika yang pernah kita pelajari, ini akan menjadi menarik. Dulu guru kita menerangkan, jika minus (-) bertemu minus (-), maka hasilnya adalah plus/positif (+). Dan jika plus (+) bertemu dengan minus (-), maka itu tergantung dengan keadaannya. Hasilnya bisa plus/positif (+), jika yang plus (+) lebih banyak daripada yang minus (-). Bisa juga sebaliknya, hasilnya bisa minus (-) jika yang minus (-) lebih banyak daripada yang plus (+).

Sama halnya dengan persoalan tadi, anggap saja ada ulama yang ngerti (yang melihat umat dengan kacamata rahmat) ditandai dengan plus (+) dan ulama yang pandai doang (kepandaiannya untuk membodohi yang awam) kita kasih tanda minus (-). Tinggal kita ambil hipotesanya saja. Jika disuatu negeri banyak ulama yang ngerti (+) daripada (><) ulama yang hanya pandai, maka hasilnya positif kemaslahatan. Begitu pula sebaliknya, jika lebih banyak ulama yang hanya pandai (-) daripada (><) ulama yang ngerti (+), maka hasilnya negatif kemaslahatan atau tidak tercapai kemaslahatan. Apalagi semuanya adalah ulama yang hanya pandai, yang artinya minus (-) semuanya, maka hasilnya positif kebobrokan. Ya tinggal amati aja wilayah kita masing-masing. Seberapa banyak antara ulama yang plus (+) daripada yang minus(+).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *