Virus, Ateisme, dan Tantangan Pemikiran

Ludwig Feuerbach, dianggap sebagai bapak ateis modern.

Penulis: Habib Muzaki, Pimred LPM Forma

 

Dua tahun lalu, tepatnya pada desember 2019 ditemukan virus baru yang dinamakan Novel Corona Virus (2019-nCov) dan dikenal sebagai wabah Covid-19. Tidak lama kemudian menyebabkan pandemi dan menimbulkan perubahan luar biasa pada aktivitas sehari-hari.

Beragam cara masyarakat dalam menanggapi hal ini. Dari keharusan untuk hidup lebih sehat dan disiplin, sampai menyatakan bahwa wabah ini adalah ulah kekuatan roh jahat, pertanda bumi yang marah, bahkan menyebut ini adalah hukuman dari Tuhan.

Banyak yang kaget dengan dampak dari wabah penyakit yang bisa sampai sejauh ini. Namun sebenarnya, manusia sudah sejak ratusan tahun lalu kerap bersinggungan dengan berbagai wabah penyakit. Sebut saja wabah Maut Hitam pada abad ke 14. Wabah ini terjadi bertahun-tahun, salah satunya hingga merenggut sekitar 75 juta nyawa.

Wabah di masa lalu adalah bencana yang telah merenggut banyak nyawa. Manusia saat itu tidak tahu sebab pastinya dan bagaimana cara penanganannya. Di Eropa pada abad pertengahan, suatu penyakit kadang diidentikkan dengan kerasukan setan.

Paradigma yang hampir sama juga ada di masyarakat suku Aztec di Meksiko abad-16. Mereka menganggap wabah cacar yang baru menyebar saat itu sebagai ulah dewa Tezcatlipoca dan Xipetotec ataupun sebuah sihir jahat.

Kita pun mungkin pernah mendengar kisah tentang Firaun dan bangsa Mesir yang diberi bencana wabah oleh Tuhan karena kedurhakaannya. Penanganan atas suatu penyakit atau wabah pun identik dengan taubat atau pengusiran roh jahat yang ternyata tidak efektif sama sekali.

Namun kemajuan ilmu pengetahuan modern akhirnya membawa perubahan cara berpikir. Dari mitos menjadi logos atau dari mempercayai hal-hal ghaib berubah menjadi cara berpikir yang ilmiah. Wabah tak lagi dipahami sebagai kekuatan supranatural namun diteliti dengan metode ilmiah.

Sebenarnya, hal ini sudah berkembang sejak lama di peradaban Islam. Lalu oleh zaman rennaisance di Eropa mengembangkannya dan menyumbang kemajuan pengetahuan dengan lebih masif.

Berubahnya paradigma, tentunya membuat perbedaan dalam cara menanganinya. Dari cara lama seperti membacakan doa dan pengusiran setan, menjadi lebih ilmiah yaitu dengan ilmu kedokteran. Sebut saja Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2002, flu burung pada tahun 2005, flu babi pada tahun 2009, dan Ebola pada tahun 2014 adalah deretan wabah yang berhasil dijinakkan.

Lain halnya dengan pandemi Covid-19. Tidak seperti prestasi umat manusia modern dalam menghadapi wabah seperti sebelumnya, kali ini wabah meluas pada level global sehingga melumpuhkan aktivitas manusia di segala bidang. Meskipun angka kematian tidak separah wabah-wabah sebelumnya.

Tapi, kemajuan ilmu pengetahuan masih kalah cepat untuk membendung mutasi alamiah virus ini. Sementara itu, seluruh dunia keburu merasakan dampaknya dan beramai-ramai menanggapinya. Sudah menjadi naluri alamiah manusia ketika menanggapi suatu fenomena, ia akan berusaha mengartikan fenomena tersebut.

Namun, wabah ini dianggap seolah sesuatu yang baru dan besar. Ini terkadang menimbulkan intrepetasi berlebihan yang kerap dikaitan dengan kekuatan supranatural di baliknya. Hal ini membuat kurang objektif dan tepat dalam memahami serta menyikapi realitas.

Di Indonesia sendiri pernyataan bahwa “Virus ini adalah tentara Allah” cukup populer sampai kebanyakan orang akhirnya meninggalkannya. Anggapan virus adalah hukuman Tuhan pun dengan sendirinya berdialektika dengan realita.

Pasalnya, virus ini menyerang siapa pun tanpa memandang agamanya. Bahkan semua umat beragama pun merayakan hari besar mereka tidak seperti biasanya demi melawan penyebaran virus ini. Tahun lalu, mulai dari Candi Borobudur harus sepi meskipun sedang dalam masa peringatan Waisak, lapangan Santo Petrus di Vatikan juga demikian kala menggelar Misa Minggu Paskah. Tak terkecuali ibadah haji di Ka’bah pun mengalami hal yang serupa pula.

Ada juga pernyataan bahwa kematian sudah berada di tangan Tuhan. Pernyataan ini kerap dijadikan justifikasi untuk menghiraukan virus ini. Beberapa masih tetap bersikukuh beribadah secara beramai-ramai dengan berpikiran hal itu adalah adalah kewajiban agama yang tidak boleh ditinggal. Lantas beranggapan sikap seperti ini adalah sikap paling saleh dan sesuai.

Namun ketika satu orang terdeteksi positif virus, yang lain pun banyak tertular akibat mengabaikan protokol kesehatan. Paradigma ini lalu mendapatkan tantangan dari realita, karena menjalankan ibadah beragama malah menimbulkan keburukan. Kita pun perlahan juga memperhatikan dalil ilmiah yang rasio -selain dalil teologis juga- dan besikap lebih rasional.

Senada dengan perspektif yang dimiliki oleh G.W.F. Hegel (1770-1831) tentang dialektika yang berisi tesis, anti tesis, dan sintesis. Masyarakat akan menuju pada pandangan dan sikap yang lebih rasional jika dapat mendamaikan tesis dan anti tesis.

Tesis dapat diandaikan realitas dan wacana yang membangun pernyataan tertentu. Misalkan tesis bahwa rumah ibadah harus terus dibuka sebagai bagian dari sikap keberagamaan yang wajib dilakukan. Di dalamnya terkandung anti tesis, apakah baik membuka rumah ibadah jika malah menimbulkan keburukan yang lebih besar? Maka sintesis semisal menutup rumah ibadah atau membukanya dengan syarat menerapkan disiplin protokol yang ketat adalah sintesis yang cukup rasional. Jika saja berhenti pada tesis awal tadi, maka umat beragama dengan sendirinya akan kalah dengan realitas yang ada.

Dari dua contoh tadi, juga dapat kita perhatikan masih ada sisa-sisa paradigma lama yang tidak ilmiah dalam menyikapi wabah meskipun berbeda bentuknya. Manusia modern masih mudah percaya pada hal-hal supranatural namun mengabaikan eksistensi mahluk bernama virus. Tapi, pada akhirnya kita diharuskan berpikir lebih rasional.

Wabah perlahan sudah tidak lagi diklaim sebagai superioritas suatu agama dan doktrin kebeneran tertentu lagi. Pembukaan rumah ibadah dilakukan secara perlahan dengan memastikan protokol kesehatan. Sikap seperti ini tentunya positif bagi kelangsungan umat beragama kedepannya. Terlebih Islam menyatakan dirinya sebagai agama yang Shalihun li kulli zaman wa al-makan.

Maka Islam harus mampu menjawab semua tantangan dan menghasilan pemahaman serta sikap yang tepat. Tetapi jika hanya menggunakan pendekatan teologi saja, penulis rasa akan menciptakan sikap yang kurang tepat.

Hal yang seperti ini juga mendapat kritikan dari pemikir-pemikir ateis. Adalah sebuah kemunduran apabila memahami realitas hanya dengan pendekatan teologis semata. Sebab tidak akan ada usaha berarti yang kita lakukan. Ketika wabah datang dan hanya dianggap sebagai hukuman Tuhan misalnya. Maka, kita hanya akan mengandalkan upaya-upaya teologis seperti taubat dan doa untuk mengatasinya.

Jika meminjam pemikiran Karl Marx (1818-1883) dengan pendekatan ontologi dengan berpegangan kepada pandangan materialisme. Tidak ada sesuatu yang disebut supranatural. Wabah sebelumnya memang dipandang kekuatan supranatural karena belum dipahami saja. Setelah dipahami dengan upaya yang berdasarkan pendekatan empiris, maka akan menghasilkan ilmu pengetahuan dan terbukti lebih bermanfaat. Maka sematan supranatural hanya tinggal sesuatu yang tidak berguna. Hal ini memang tidak sepenuhnya benar. Namun dapat dijadikan perenungan terhadap cara pandang yang serba teologi.

Mengapa pendekatan teologi cenderung dipakai dalam memahami realitas? Sigmund Freud (1856-1939) menjelaskan bahwa ini hanyalah akibat dari ketidakmampuan menghadapi masalah dan mencari pegangan terhadap sesuatu yang tidak ada seperti Tuhan. Berdoa ternyata tak mampu melawan wabah. Kalaupun dianggap efektif, itu tidak lain hanyalah tipuan dari alam bawah sadar yang mempersepsikan Tuhan sebagai solusi. Freud lebih jauh mengatakan bahwa sikap seperti itu khas sikap orang neurosis, sekaligus infantil.

Feuerbach (1804-1872) juga mengatakan bahwa Tuhan tercipta dari angan-angan manusia. Maka, agama tak lain hanyalah proyeksi dari manusia itu sendiri. Kekuatan untuk menghadapi wabah adalah angan-angan manusia yang sulit tercapai. Maka konsep pertolongan Tuhan diciptakan dan dipuja karena ketidakmampuannya menghadapi tantangan.

Meskipun ketiga tokoh tadi adalah ateis. Paradigma mereka serta metodenya dalam memandang realitas perlu di timbang meskipun kita beragama. Bukan untuk setuju dengan ateismenya. Tapi lebih ke membaca realitas.

Ilmuwan dan dokter muslim pada zaman dahulu pun tidak jauh berbeda ketika memahami suatu penyakit. Mereka mampu untuk menyeimbangkan pendekatan teologi dan pendekatan empiris sehingga lebih maju dari pada dokter lain di zamannya. Umat Islam pun mendapatkan keutungan yaitu menjadi peradaban yang maju karena berhasil menjawab tantangan zaman secara tepat. Mampu berpikir rasional tanpa kehilangan jati diri Islam yang dianut adalah kuncinya. Justru, dengan berpikir rasional mampu membuat kita menjalankan tujuan agama Islam itu sendiri sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Dalil agama jika tidak dipahami secara rasional juga menyebabkan sikap yang statis atas dunia yang dinamis. Kemunduran dunia Islam adalah ketika takut untuk memaknai ulang teks agama di tengah dunia yang senantiasa berubah.

Inilah yang dikritik oleh Muhammad Jamaluddin al-Afghani (1818-1883), juga muridnya, Muhammad Abduh (1818-1883), dan oleh para pemikir Islam modern setelahnya. Abduh mengatakan sumber epistemologi ada ada dua, yaitu akal dan wahyu. Akal mempunyai peranan yang sangat penting. Bahkan Alquran tanpa akal tidak akan membuat manusia mendapatkan pengetahuan yang benar.

Terlebih memahami pandemi Covid-19 dengan kacamata teologi dengan mengaitkannya dengan kiamat, kedatangan Dajjal, dan murka Allah rasanya kurang tepat. Selain bersifat spekulatif semata, paradigma semacam itu hanya akan memperkeruh keadaan. Karena yang terpenting dari fenomena ini adalah sejauh mana kita berusaha untuk menjawab tantangan saat pandemi ini dan setelahnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *