Kategori : Puisi

Perihal Rasa

Oleh : Layli Nurul Islamiyah “Dikala bibir tak mampu berucap, Biarlah bait bait ini yang berucap” #I Hilang… Jiwaku kini telah hilang Hatiku pun tersakiti Aku lelah pada dunia yang fana ini Air mataku kian terus memberontak Mencoba keluar walau aku tak mau Di malam yang dingin tanpa bintang Aku bersujud dan lirih bibir ini

Kalang-kabut Kembali ke Tanah

Oleh : Chintya Octavia SH Sel Pemenang Kalau kita sedikit mengenang Kata orang kita semua pemenang Setelah menggenang, berenang, dan berkembang Nahasnya menjadi pembangkang Kita awalnya satu dan melebur Bersatu dan memudar Menjadi mahakarya yang didoakan panjang umur Yang dirayakan setelah sembilan purnama merasa sukar Masa (lebih) Muda Bermain Belajar Bermain lagi Belajar lagi Apa

Dari Segumpal Darah Merah Hingga Menjadikan Diri Ini Resah

Oleh: M. Ali Hafidz Tak Mengerti Setiap kali aku melangkah Berpindah tak tentu arah Terlupakan imajinasi Berkreasi dengan seni Akuisisi hingga independensi kadang menuntut untuk dijalani Terjadi hanya sesaat meski tak terlambat Bahkan tidak terjadi walaupun bahan telah padat Terkadang semangat terkadang juga menyayat Entah bagaimanapun juga, itu semua hanya lembaran sesat Sisi Dimensi Sesosok

Sajak Kehidupan Seorang Puitis

Oleh: Jihan Sajidah Keheningan Malam Hening tanpa suara Hening tanpa cahaya Suara jantung terasa seperti tak biasa Pikiran berlayar kemana-mana Entah hanya kerisauan hati Hati yang tengah mengkhawatirkan diri Keheningan malam terasa berbeda Tenggelam pada lautan dalam gelapnya malam Hidup dengan Peraturan Manusia bernapas tanpa batas Manusia bersabar dengan ikhlas Entah manusia pergi dengan bebas

Sajak-Sajak Kematian Altruisme

Oleh: Habib Muzaki Senyuman Seekor Ular Lagi-lagi kelabu berkunjung Butiran air bercumbu dengan daun Gelegar tak henti menyambar Serta dapur tak henti mengepul Tiba-tiba sesosok ular keluar Menyengat siapapun yang diam Mencari-cari santapan malam Semua memilih berlari Sedang aku terpaku membisu Kulihat lagi lekat-lekat Bahwa itu disebut senyum Sepotong senyuman sinis Yang kuterjemahkan sebagai manis

Pesantren Para Maling

Oleh: Jogang     Tangisan itu memberi bercak darah Di pucuk surat isi kitab Awal kisah Gelandang manis shuffah mais Langit-langit menyaksi Ratusan zikir para sufi Di bawah pohon mahoni Ber-tahannus gelap Bayangan kekasih   Kudekap dia Kutelanjangi dia Malam itu Sadar, sadar, sadar Hanya mimpi?   Malam itu menjemputku kembali Pada bekas pijakan kaki

Kesalahan yang Disengaja

Oleh: Husna   Terlalu paham untuk disesali Bahwa canda kau rangkai sebegitu rapi Berhasil meleburkan hati yang sudah lama dikunci Setiap tawa yang kau layangkan Benar-benar membuat bunga mekar begitu indah   Tak terasa aku mulai jatuh di perangkap semu itu Ku lawan ego yang selalu membisikkan “Dia tidak tercipta untuk kamu, maka jauhilah!” Aku

Seduhan Januari

  Oleh : Tsabita Fauziah   Januari… Sebuah bulan di awal tahun Yang menciptakan seduhan rindu di tahun yang lalu Menyiapkan sebuah awal dari kisah cerita Yang akan terlukis dalam memori di antara kita jua   Bulan ini dibasahi oleh hujan Bertanda hujan rindu dengan bulan yang hampir silih berganti Sedih dan menangis akan kerinduan

The Santet of Java

Oleh: Jogangs Malam menampakkan perwujudan Dewa kahyangan yang menjelma Iblis bertanda aroma keganjilan Bunga-bunga Kelapa dan tebu memaksa Rahwana kala itu meretas cinta Dewi Sinta Sontak Damarwulan menangkap Asmara tubuh bersimbah luka Celakalah Minakjinggo atas dosa Gada wesi kuning menilas Sekujur tubuh penuh lebam Kini mereka menimbun doa Di dalam kerajaan Sebab, udara di luar

Rindu Tertahankan

Oleh: Jihan Sajidah Saat benih cinta tumbuh Jarak dan waktu memisahkan Tak mungkin mudah Seiring berjalan waktu akan terlewatkan   Cobaan hati menghampiri keinginan untuk pergi Menjadi semangat menggapai cinta sejati Ku tak pernah letih Ku tak boleh menyerah   Dalam dekapan malam Ku rindu hadirmu Dalam bait doa sepertiga malam Ku sebut indah namamu