Kategori : Puisi

Sajak-Sajak Kematian Altruisme

Oleh: Habib Muzaki Senyuman Seekor Ular Lagi-lagi kelabu berkunjung Butiran air bercumbu dengan daun Gelegar tak henti menyambar Serta dapur tak henti mengepul Tiba-tiba sesosok ular keluar Menyengat siapapun yang diam Mencari-cari santapan malam Semua memilih berlari Sedang aku terpaku membisu Kulihat lagi lekat-lekat Bahwa itu disebut senyum Sepotong senyuman sinis Yang kuterjemahkan sebagai manis

Pesantren Para Maling

Oleh: Jogang     Tangisan itu memberi bercak darah Di pucuk surat isi kitab Awal kisah Gelandang manis shuffah mais Langit-langit menyaksi Ratusan zikir para sufi Di bawah pohon mahoni Ber-tahannus gelap Bayangan kekasih   Kudekap dia Kutelanjangi dia Malam itu Sadar, sadar, sadar Hanya mimpi?   Malam itu menjemputku kembali Pada bekas pijakan kaki

Kesalahan yang Disengaja

Oleh: Husna   Terlalu paham untuk disesali Bahwa canda kau rangkai sebegitu rapi Berhasil meleburkan hati yang sudah lama dikunci Setiap tawa yang kau layangkan Benar-benar membuat bunga mekar begitu indah   Tak terasa aku mulai jatuh di perangkap semu itu Ku lawan ego yang selalu membisikkan “Dia tidak tercipta untuk kamu, maka jauhilah!” Aku

Seduhan Januari

  Oleh : Tsabita Fauziah   Januari… Sebuah bulan di awal tahun Yang menciptakan seduhan rindu di tahun yang lalu Menyiapkan sebuah awal dari kisah cerita Yang akan terlukis dalam memori di antara kita jua   Bulan ini dibasahi oleh hujan Bertanda hujan rindu dengan bulan yang hampir silih berganti Sedih dan menangis akan kerinduan

The Santet of Java

Oleh: Jogangs Malam menampakkan perwujudan Dewa kahyangan yang menjelma Iblis bertanda aroma keganjilan Bunga-bunga Kelapa dan tebu memaksa Rahwana kala itu meretas cinta Dewi Sinta Sontak Damarwulan menangkap Asmara tubuh bersimbah luka Celakalah Minakjinggo atas dosa Gada wesi kuning menilas Sekujur tubuh penuh lebam Kini mereka menimbun doa Di dalam kerajaan Sebab, udara di luar

Rindu Tertahankan

Oleh: Jihan Sajidah Saat benih cinta tumbuh Jarak dan waktu memisahkan Tak mungkin mudah Seiring berjalan waktu akan terlewatkan   Cobaan hati menghampiri keinginan untuk pergi Menjadi semangat menggapai cinta sejati Ku tak pernah letih Ku tak boleh menyerah   Dalam dekapan malam Ku rindu hadirmu Dalam bait doa sepertiga malam Ku sebut indah namamu

Tentang Pemuda dan Dewasa

Bingung sungguh bingung Seperti ada yang berdengung Laksana macan yang memaum di atas gunung. Dengan suara yang memantul tak Temu ujung.   Seorang berkata “pemuda adalah kunci martabat bangsa” Ya,, tepat sekali perkataannya. Tapi,,  sayangnya. Bukan begitu kenyataannya.   Lihatlah!! Betapa banyak pemuda yang menganut paham Hedonis. Meniru gaya hidup orang british. Mereka sebut itulah

Mati Rasa

Oleh: Nuroniah Sania Rizqi   Senja, kamu datang membawa duka Duka hati yang membawa lara Tangisan darah yang menghapus cerita Kini, aku semakin tenggelam dalam nista   Aku ingin suasana cepat berganti Tak ingin kumeniti hari ini Tak ingin kumembuka lembaran lagi Biarkan musnah selamanya   Senja, mengapa dia harus ada? Sedangkan aku tak menginginkannya

Dimana Esensi?

Oleh Zaka  Yang mana yang benar? Yang mana yang salah? Ahhh sudahlah, semua hanya mempertontonkan persepsi Tapi yang kucari-cari selama ini cahaya esensi   Mana yang bersinar? Apakah semua memberi sinar? Ahhh tidak, semua malah menggelapkanku dengan ajakan yang melemahkan   Semangat kemenangan  telah berubah sampah Tak ada yang peduli kepadaku yang amat gelisah Semuanya

Sepihak

    Kali ini entah mengapa angin terasa terhenti Mataku yang biasanya mencarimu, sekarang terpatri Ia lelah dengan perasaan Termenung disebrang dermaga penantian Sesekali ikan-ikan menyapa Berkata tentang siapa yang mengawali dusta Aku coba mendekatkan telinga kepadanya Saat aku sadar, ternyata bayangkulah yang nampak pertama Aku dan kau, mungkin tak lagi satu Lagu kita sudah