Kategori : Puisi

Dimana Esensi?

Oleh Zaka  Yang mana yang benar? Yang mana yang salah? Ahhh sudahlah, semua hanya mempertontonkan persepsi Tapi yang kucari-cari selama ini cahaya esensi   Mana yang bersinar? Apakah semua memberi sinar? Ahhh tidak, semua malah menggelapkanku dengan ajakan yang melemahkan   Semangat kemenangan  telah berubah sampah Tak ada yang peduli kepadaku yang amat gelisah Semuanya

Sepihak

    Kali ini entah mengapa angin terasa terhenti Mataku yang biasanya mencarimu, sekarang terpatri Ia lelah dengan perasaan Termenung disebrang dermaga penantian Sesekali ikan-ikan menyapa Berkata tentang siapa yang mengawali dusta Aku coba mendekatkan telinga kepadanya Saat aku sadar, ternyata bayangkulah yang nampak pertama Aku dan kau, mungkin tak lagi satu Lagu kita sudah

Iman yang Amin

Malam natal itu semakin gemerlap Dihiasi oleh pernak-pernik lampu gemerlap cemara Saat hening kicau burung gereja menyeruak Ledakan terdengar samar, menghujam telinga tuli Salib tergeletak, jemaat tak sadar diri Tanpa kusadari ternyata disana ada bom bunuh diri Kami meraung atas nama persamaan, lalu bersimbah dengan darah perbedaan Ini semua Mengapa! Ada apa Tuhan! Jika Engkau

Pelita Umat

  Hai, Khoirun umat Saat batu yang diam bershalawat Saat rerumputan ingin berkhalwat Langit bergemuruh saat lahirmu Bumi riang hingga dijaganya agar tetap tenang Hai, pelita Kau muhammad didalam pujian Saat bait-bait barzanji memuji Saat bait-bait diba’ menjujung tinggi Hai, muhammad Rosul pembawa selamat Dulu kau rela dihina, dicaci maki. Namun tak sepatah kata pun

Puisi Proses Protes

        Angka Kata pelopornya madzab Milea, angka adalah anasir alam semesta! Pertama, sebab dengan angka semuanya akan tertata, Kedua,lantaran IPK dan Usiahanya soal angka, Ketiga, karena angka juga dapat menentukan banyaknya saudara. Begitulah hipotesanya.   Kita Pernah sedekat tumpukan tugas dengan mahasiswa. sebelum jauh seperti diskusi dengan membaca. Ke hadapannya dosen hanya

Aku dan Prambanan

Gugup gusar aku menatapmu Malu-malu ku curi pandang lewat sela bebatuan candi Menjulang tinggi tubuhmu, menutup duka ku sebagai bandung bondowoso Aku mencintaimu roro jongrang Dengan peluh ku persembahkan 999 candi semalam Ku kerahkan bala tentara tak kasat mata Kutahan ufuk diujung timur Ku angkat beban batu merapi Semuanya hanya untuk mengikatmu roro yang telah

Bersama di Penjara Suci

    Persahabatan yang indah menuai banyak kisah Tak hanya tentang cinta, tapi juga cita di masa depan Bukan saja belajar,  namun juga tentang kebersamaan Tak peduli kami berasal darimana Di tempat ini kami bak keluarga dalam rumpun rumah tangga Makan bersama, salat bersama Semua hal pun dilakukan secara bersama Kebersamaan merupakan segalanya Bersamamu masalah

Gerilyawan!

    Nyali selalu terselempang di bahu Doanya terikat dilempengan jiwa yang memburu Guna meruntuhkan jajaran kolini dan mengobrak-abrik sistem deksriminasi   Keluar masuk hutan sudah menjadi kegiatan Semboyan perang demi semboyan mereka tulis disetiap papan keberanian melawan imprealis   Ada kalanya debu yang melekati tubuh dijadikan azimat Alam akan memaklumi itu Mengerti bahwa gerilyawan

Manuskrip Hujan

  /1/ Eyang Sapardi berhasil membuat hujan di bulan Juni yang syarat dengan kenangan Guns and Rose dengan senandung melodi November Rain-nya yang menggetarkan hati   /2/ Diantara kau dan aku ada sebuah cuaca Yang sedang menunggu di langit biru agar kita tak lekas berduka   /3/ Aku mengunjungimu di altar sunyi dengan wujud bunga

Harimu tapi bukan hari mimpimu

Sumber: google Dadamu rapuh tergerus Selosong peluru menembus Tekad baja yang kau baktikan pada harkat bangsa yang akan terputus Kau galang kata merdeka dipertigaan jalan Mengumandangkan perang suci pembebasan Atas jasad dan raga yang terbelenggu Berbekal tongkat bambu Kau menerjang serdadu biru Berteriak, !! kau tantang senapan koloni Saat itu dibenakmu hanya tentang rasa abadi