Kategori : Opini

Mencari Tuhan (?)

Oleh: Achmad Fauzi Nasyiruddin “Fondasi dari hukum syariat yang adil tidak dibangun oleh kelompok-kelompok mayoritas atau kelompok dominan dalam masyarakat, dan bukan pula oleh kelompok-kelompok yang hanya mengejar kepentingan partisannya sendiri. Fondasi hukum syariat yang adil ini hanya dibangun oleh Tuhan. Akan tetapi, hukum syariat yang adil tersebut dijalankan, dijelaskan, dan diterapkan pada realita-realita baru

Agamawan Vs Aparat: Permainan Pemerintah Berkedok Keamanan

Oleh: Zamzam Qodri Apa yang terbayang di benak Anda, jika mendengar ada lomba sabung ayam? Pasti seru, bukan? Jika tempat itu dekat, maka tentu Anda akan langsung menghampirinya. Itu pun hanya sebagai penonton. Bagaimana jika Anda yang bermain langsung? Pasti lebih seru dibandingkan menonton saja, ‘kan? Begitulah perasaan pemerintah saat mengadu aparatnya untuk sabung-menyabung melawan

Korupsi Manifestasi State Failure (Kegagalan Negara)

Oleh: Irfan Fadilah Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits (1895-1963) mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Indonesia amat kaya akan kebudayaannya yang membanggakan. Namun, ada beberapa Track Record kebudayaan sosial politik dalam menjalankan pemeritahannya yang kurang baik.

Agent of Money

  Mahasiswa yang katanya agent of change mendadak berubah menjadi istilah agent of money. Memang penggerak kedua setelah Tuhan adalah Uang, Aku dan temanku sudah menyadarinya ketika kita sedang berkumpul melakukan sebuah aksi. Aku dan temanku direcoki oleh segelintir orang berpakaian hitam bermuka kusam sedikit berkeringat karena gerah kepanasan. Ketika Aku ditanya, “apa tujuanmu disini?”,

Paradigma Beragama dalam Tantangan Zaman

Akhir desember 2019 ditemukan virus baru yang dinamakan Novel Corona Virus (2019-nCov) dan dikenal sebagai wabah Covid-19. Tidak lama kemudian menyebabkan pandemi dan menimbulkan perubahan luar biasa pada aktivitas sehari-hari. Beragam cara masyarakat dalam menanggapi hal ini. Dari keharusan untuk hidup lebih sehat dan disiplin, sampai menyatakan bahwa wabah ini adalah ulah kekuatan roh jahat,

New Normal dan Pemulihan Ekonomi

  Pandemi global yang kini melanda dunia menjadi penyebab merosotnya ekonomi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan tajam sejak beberapa bulan terakhir, seperti yang telah diberitakan hampir seluruh stasiun televisi swasta. Sesuai dengan apa yang diumumkan oleh Presiden Republik Indonesia, negara kita ini akan segera memasuki tahap kenormalan baru atau yang lebih viral disebut new

Corona, Lebaran dan Silaturahmi Online

Saat ini, kemungkinan besar umat beragama Islam, khususnya di Indonesia pasti merasakan kesedihan dalam momentum Idul Fitri tahun ini. Dalam konteks kesehatan, pandemi Covid-19 saat ini belumlah usai, justru semakin rumit seiring dengan semakin banyaknya pasien yang terindikasi virus ini. Dilansir dari Surya.co.id (26/5) Surabaya sendiri kasus positif Covid-19 sudah mencapai angka 2095 jiwa dengan

Dongkrak Tarif di Awal Tahun

doc.google   Petasan-petasan menyala indah di langit Nusantara, membentuk sebuah formasi yang sekaligus menjadi doa bangsa Indonesia. Lagu-lagu band ibukota menyanyikan hampir sama semua liriknya, dalam memberi suguhan tahun baru. Semua masyarakat Indonesia berkumpul merayakan apa yang mereka sebut, sebagai malam pergantian tahun. Dengan euforia yang dibuat-buat men-forward pesan melalui media social berupa ucapan selamat

Setan-Setan Pendidikan

  Setiap tahun kita dapat melihat tak sedikit para peserta baru memasuki kampus UINSA. Mereka rela mengeluarkan banyak uang hanya demi mengenyam pendidikan melalui program studi tujuan yang mereka pilih masing-masing. Tanpa menghiraukan biaya operasional yang harus mereka bayar setiap semester, sekalipun mahal, terpenting bagi mereka adalah mendapatkan ilmu dan wawasan. Berbagai macam latar belakang

De-sakralisasi

Oleh: Darah Kopi* Geger genjik tentang teologi kembali mewarnai Bumi Pertiwi. Dalam drama bernuansakan konflik internal yang tersaji dan disajikan oleh alam semesta, aktor dan sutradanya tetap: kalang ekstrimis Kanan. Seolah-olah, para kaum ekstremis Kanan tersebut memang didapuk sebagai protagonis di setiap drama-drama dalam negeri. Namun ada hal yang berbeda dari drama ini, yaitu dengan