FUF Adakan IC-MUST 3, Perkuliahan dialihkan Selama Dua Hari

Reporter: Habibatun Nuriyyah, Tsabita Fauziah

Editor: Habib Muzaki

 

FORMA (13/10) – Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) mengadakan Opening Ceremony dan The 3rd International Conference on Muslim Society and Thought (IC-MUST 3) 2021 yang bertajuk “Indonesian-Islamic Culture and Literature: Continuities and Transformation”. Acara ini diadakan via Zoom yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga 16.25 WIB dan dihadiri oleh sejumlah 755 peserta dengan menghadirkan dua orang pemateri yang berasal dari Brunei Darussalam dan Malaysia.

Agenda ini dilaksanakan dua tahun sekali sejak tahun 2017 lalu dan sudah menjadi agenda rutin di FUF. Pada tahun ini, perkuliahan di FUF dialihkan ke acara ini mulai tanggal 13-14 Oktober 2021. Terlebih, tema yang diangkat relevan dengan materi perkuliahan.

IC-MUST 3 dibuka dengan sambutan dari Kunawi Basyir selaku Dekan FUF. Ia mengatakan bahwa adanya acara ini dilatar belakangi oleh kondisi kekinian masalah agama, dimana secara cepat terjadi perubahan yang sangat luar biasa dan kultur masyarakat yang selalu berbeda serta kultur tersebut mengalami perubahan dinamika yang tepat. Sehingga kultur dan wacana ilmu pengetahuan yang berkembang luar biasa tersebut akan mempengaruhi terhadap praktek dan perilaku keagamaan seseorang.

“Ini nanti akan memunculkan sebuah tipologi Islam yang sangat berbeda-beda dan mereka membenarkan pendapat mereka masing-masing,” tambah Kunawi Basyir.

Masuk dalam sesi panel atau penyampaian materi yang diawali oleh Masdar Hilmy selaku Rektor UINSA sekaligus sebagai Keynote Speaker dalam acara tersebut.

Lalu dilanjut dengan pemaparan dari pemateri pertama, Anis Malik Toha dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam yang memaparkan terkait lintasan pemikiran Islam Indonesia secara kontemporer dalam konteks masyarakat yang majemuk. Ia menjelaskan bahwa di sepanjang akulturasi modern, terdapat satu hal yang sangat jelas yaitu ideologi, budaya, serta agama Barat dan Barat adalah asing.

“Modernisasi itu sama halnya dengan westernisasi. Oleh karena itu, seruan westernisasi di dunia muslim dilakukan oleh sejumlah tokoh dan cendekiawan muslim, seperti halnya Sayyid Ahmad Khan dari India. Maka dari itu, pemikiran Islam kontemporer di Indonesia telah tumbuh dan berkembang di tengah keinginan untuk berkembang nasional yang diselimuti dan dibayangi oleh adanya iklim westernisasi,” tambah Anis Malik Toha.

Dilanjutkan dengan pemaparan dari pemateri kedua, Wan Fariza Alyati Wan Zakaria dari Universiti Kebangsaan Malaysia yang memaparkan terkait kasus ancaman radikalisme-terorisme di Malaysia. Ia menjelaskan bahwa terorisme di kalangan perempuan semakin diakui sebagai masalah keamanan dunia yang serius. Kunci dari terorisme adalah mempercayai pandangan seseorang yang tidak selaras dengan ideologi yang diterima.

“Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor media atau politik global dan ketidakadilan yang dihadapi umat Islam, pernikahan, dakwah agama, cara bertaubat atas dosa-dosa sebelumnya dan pengaruh ideologi. Oleh karena itu pemerintah dan lembaga agama harus mengambil tindakan yang hati-hati dan tegas terhadap penyebaran ideologi ekstrim,” tegas Wan Fariza.

Selanjutnya, masuk dalam sesi parallel atau sesi diskusi penelitian dosen yang dilaksanakan mulai pukul 13.00 WIB hingga 16.25 WIB. Dalam sesi ini setiap perwakilan dari universitas maupun institut dipersilahkan menyampaikan materi penelitiannya lalu didiskusikan bersama para dosen dan mahasiswa.

“Harapan kami setelah mengikuti acara ini, para mahasiswa dapat menambah wawasan dan khazanah keilmuan ushuluddin, dengan hal tersebut juga akan membantu mahasiswa dalam melakukan riset dalam penulisan artikel,” ucap Kunawi Basyir

Sulis Nuriyawati, salah satu peserta mengatakan bahwa acara ini sangat mengagumkan. “Karenanya, saya dapat memahami betapa pentingnya pengkajian terhadap sikap, ciri-ciri atau bahkan gerak-gerik daripada fenomena radikalisme-terorisme khususnya di Indonesia dan saya sangat berharap sebuah kampus bisa menjadi pilar pemersatu bangsa melalui para alumni dan mahasiswanya. Dikarenakan kami merupakan sasaran empuk bagi kaum radikalisme dan terorisme untuk menyebarkan ideologi mereka,” tambah mahasiswi Ilmu Hadis tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *