Ungkapan Rakyat Marginal

Penulis: Zamzam Qodri

Editor: Habib Muzaki

 

Di dalam sebuah negara, pasti terdapat strata sosial. Mulai dari yang yang kaya, menengah dan yang miskin. Dari masing-masing strata tersebut, tentu juga memiliki perbedaan dalam kebiasaan dan tingkah laku.

Di negara kita Indonesia sendiri, sering kita sebut sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya, kaya akan keragamannya, dll. Perkataan itu hampir benar bagi orang yang miskin seperti kami. Jika Indonesia adalah “negara bagi yang kaya” itu baru benar. Karena hampir semua kebijakan dan peraturan berpihak pada mereka yang punya uang. Sultan mah bebas, hehehe.

Kami bisa melihatnya dengan kacamata kotor kami. Kami dituntut untuk bayar pajak. Beli sepeda motor ada pajaknya sampai kuburan pun ada pajaknya. Bayangkan bagaimana makam keluarga kami yang mati juga dikenakan pajak. Kok seperti ngekos ya? Padahal tanah juga kekayaan alam katanya milik negara.

Dengan berbagai pajak yang kami bayar, mungkin hanya sebagian kami yang mendapatkan bantuan. Seperti PKH dan lain-lain. Ingat hanya sebagian saja. Entah bagaimana nasib sebagian yang lainnya.

Kami kerap mendengar bahwa pemerintah banyak menyinggung soal kami. Kata mereka menyejahterakan orang seperti kami adalah tujuan mereka dalam memimpin negara ini. Sehingga dengan seenaknya mereka menyiarkan kepada media bahwa angka kemiskinan semakin menurun. Maka dari itu, jangan salahkan kami jika kami mengatakan, “Menurun gimana, menurun kepada anak cucu maksudnya?”

Kami juga mendengar pemerintah kerapkali membangun jalan tol. Apakah itu termasuk uang kami? Dalam pikiran kami terlintas kata ‘bisa jadi’. Lalu mengapa kami tidak bisa menikmatinya? Siapa sih pengguna tol yang dibangun dengan begitu panjangnya? Para pemilik mobil bukan? Para pengendara truk bukan? Pemilik mobil itu siapa? Tentu bukan kami. Kami mempunyai sepeda motor itu sudah untung. Jawabannya tak lain adalah mereka yang kaya.

Kemudian truk. Siapa pemilik truk? Tentu bukan kami. Mungkin sebagian dari kami adalah pengendara truk. Mempertaruhkan nyawa dengan beban truk yang sangat berat. Tapi siapa pemilik truk? Sekali lagi bukan kami. Kami memiliki toko kecil saja sudah untung. Jawabannya tak lain adalah mereka yang kaya. Dan ternyata itulah sebab banyak  jalan tol dibuat.

Orang miskin seperti kami, pasti kecewa melihat semuanya. Kami disuruh bayar listrik, bayar air PDAM, padahal air adalah sumber kekayaan alam yang kata undang-undang adalah milik negara. Kami berpikir, “Siapa yang dimaksud negara? Kami sebagai rakyat atau mereka yang menjadi pejabat? Atau milik orang kaya?”

Tapi kami tak mau menjawabnya. Orang seperti kami ini bisa apa? Yang bisa kami lakukan hanyalah berusaha berbaik sangka. Bagi kami, udahlah toh pejabat yang ada di struktur kepemerintahan juga kami yang pilih. Dan, sebagian kami juga mengaku salah karena memilih mereka demi secarik uang kertas. Itupun hanya cukup buat makan satu hari.

Hal itu kami lakukan karena kami orang lapar. Lapar kami maksud bukan tidak makan, tapi kami diselimuti oleh rasa iri dengan orang kaya yang makan enak. Darimana kami tahu? Dari televisi. Kami juga ingin seperti artis yang beli baju atau tas yang harganya tak akan habis jika diberikan pada kami. Kami tahu darimana? Juga dari televisi. Ini yang membuat kami merasa iri.

Jika kami dituduh orang yang amoral, maka silahkan. Kami memang amoral. Tontonan yang di suguhkan kepada kami tak banyak menuntun pada kesadaran masyarakat. Apalagi orang seperti kami yang sebagian adalah orang yang tak berpendidikan.

Tapi kami sadar, jika kami bukan mereka. Kami tahu siapa kami. Kami harus bekerja sampai keringat kami masuk dalam dubur demi makan kami per hari. Kami bukanlah orang yang mendapatkan uang dengan bermuka pucat karena ruang kerjanya ber-AC. Kami sadar itu.

Kami bukan menyalahkan mereka karena kekayaan mereka. Itu hal lumrah dalam kehidupan. Tapi kami tidak suka dengan circle yang dibangun oleh mereka yang kaya. Padahal mereka tahu bahwa membunyikan suara piring kepada orang yang lapar itu amoral. Malah dishooting lewat televisi. Kami tidak suka circle seperti itu. Karena menyebabkan sebagian kami akan kehilangan pengakuan terhadap diri kami sebagai orang miskin. Kami akan kehilangan kesadaran untuk bekerja selayaknya orang miskin. Kami akan berkhayal mendapatkan apa yang sudah mereka dapatkan dengan cara instan. Maka dari itu tak sedikit dari kami yang berbuat kriminal.

Sudahlah, kami mohon hentikan circle seperti itu. Dan, mohon kepada pejabat yang sedang menjabat, buatlah kebijakan yang seutuhnya untuk rakyat. Jangan buat kami merasa bersalah karena telah memilih kalian semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *