Reporter: Fatin Azmi Fauziyah dan Miftakhul Jannah

Editor: Fatwa Am ‘Azza KD dan Thoriq Syauqillah

FORMA (23/04) – Unit International Office UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) kembali menggelar UINSA Cultural Festival 2026 dalam peringatan hari Kartini pada Rabu (22/4/2026). Acara yang berlangsung di Hall Pertemuan, Gedung Student Central UINSA ini mengusung tema “Women’s Roles Across Cultures” untuk membangun pemahaman peran perempuan lintas budaya, meningkatkan kesadaran multikultural, serta menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan suportif bagi semua gender.

Mada, sebagai perwakilan dari Interntaional Office UINSA sekaligus panitia penyelenggara menjelaskan latar belakang acara ini sebagai bentuk untuk mengenang jasa Kartini dan seluruh perempuan di Indonesia.

“Karena kita menjunjung ya, budaya Hari Kartini. Untuk saat ini, International Office mempunyai acara Culture Fest sekalian ditempatkan hari ini untuk mengenanglah jasa pahlawan Ibu Kartini dan perempuan semua di Indonesia,”ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa festival tahun ini lebih meriah dari tahun sebelumnya, karena ada penambahan konsep acara yang berbeda. “Kayak gini kan ada festival kuliner, kalau yang tahun kemarin nggak bisa. Jadi sekarang lebih meriah. Ada beberapa negara yang membuat makanan dari kampung halamannya, seperti itu,”imbuh Mada.

Kemeriahan acara terlihat dari pengalaman kuliner internasional yang memanjakan para peserta. Melalui bazar makanan yang dikelola langsung oleh mahasiswa asing UINSA. Para peserta diajak untuk mencicipi langsung hidangan khas dari berbagai negara seperti Thailand, Malaysia, Somalia, Pakistan, hingga Nigeria.

Selain itu, acara ini juga dimeriahkan dengan fashion show dari Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) UINSA dan kompetisi kostum daerah terbaik. Aisyah Humairoh, sebagai pemenang kostum daerah terbaik, mengungkapkan makna dibalik busana yang ia kenakan.

“Makna dari baju yang saya pakai ini menunjukkan bahwasanya perempuan itu kuat dan tangguh. Namun tetap menunjukkan keanggunannya. Jadi cocok dengan isu zaman sekarang, jadi kuat tapi tetap menunjukkan femininnya,”ungkapnya.

Hadir sebagai narasumber utama dalam acara, Prof. Yuyun menjelaskan mengenai peran perempuan yang seringkali dikonstruksi secara sosial, mulai dari peran esensialis yang berkaitan dengan kodrat perempuan hingga peran yang bersifat sosial dan budaya.

“Kadangkala peran perempuan itu dikonstruksi secara sosial. Kalau kita berbicara tentang peran perempuan lintas budaya, maka peran perempuan itu sangat beragam. Mulai dari peran yang sangat esensialis, yang sesuai dengan kodrat sampai dengan peran yang menurut saya sifatnya sosial dan budaya,”ujar Prof. Yuyun dalam sesi wawancara dengan tim LPM Forma.

Lebih lanjut, Prof. Yuyun juga membandingkan perspektif sejarah antara budaya Barat dan Indonesia. Ia memberi contoh pada era Victoria di Barat yang membatasi perempuan sebagai objek, sementara Indonesia memiliki tokoh-tokoh wanita kuat yang berperan luar biasa tanpa batasan pakaian.

“Kita harus bersyukur kita hidup di peradaban Indonesia karena sangat memuliakan perempuan. Jangan pernah merasa tertinggal, karena modernitas tidak diukur dari pakaian. Tapi cara kita berpikir dan melihat peran perempuan di ranah publik,”tegasnya.

Zulfa, mahasiswa prodi Studi Agama-Agama juga mengungkapan kesannya selama mengikuti acara Cultural Festival ini. “Untuk cultural festival hari ini sangat bermanfaat dan sangat berkesan. Acaranya tidak hanya menghibur, tapi juga memberikan pembelajaran yang baik tentang budaya daerah Indonesia,”ucapnya.

Ia juga menyoroti relevansi tema acara dengan kondisi perempuan saat ini. “Dari tema ini, membuat orang lain sadar bahwa kesetaraan gender itu penting. Jadi tidak membedakan antara pihak perempuan dan laki-laki,”tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Prof. Yuyun menyampaikan kepuasannya dengan diadakannya acara seperti ini yang mengangkat tema peran perempuan dan budaya Indonesia. “Hebat! Saya merasa inilah Indonesia, terbuka terhadap budaya luar, menghargai perbedaan budaya, dan lebih dari itu, rukun menghargai satu sama lain,”ungkap guru besar FISIP UNAIR itu.

Selain itu, pihak panitia penyelenggara juga berharap pada mahasiswa dapat meneladani Kartini sebagai pahlawan yang berjasa. “Kami harap semua mahasiswa dan para peserta di acara kali ini bisa meneladani Ibu Kartini ya, pahlawan kita. Menjunjung tinggi keibuan. Jadi apa yang kita lakukan sehari-hari kita nggak boleh lepas dengan jasa ibu kita, seperti itu,”pungkas Mada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *