Toleransi dan Pengalaman Selama Menjadi Mahasiswa SAA

Sumber: Republika.co.id

Penulis: Habib Muzaki, Pimred LPM Forma

 

Prodi Studi Agama-Agama (SAA) memang masih asing di telinga masyarakat. Saat pertama kali diterima disini, awalnya saya mengira akan menjadi seperti Dzakir Naik yang mengislamkan banyak orang.

Mungkin saja kegiatan rutinan kami adalah berdebat dengan para pastur, biksu, maupun para ateis. Eh salah, kami malah main ke gereja, foto-foto sama patung Yesus untuk diupload ke snap WhatsApp. Tapi dengan catatan: kontak orang tua dan guru ngaji disembunyikan.

Setidaknya itulah yang saya rasakan setelah tiga semester menjadi mahasiswa SAA. Kebetulan Prodi kami berada di dalam fakultas Ushuluddin dan Filsafat, ya gak jauh-jauh dari Ariestoteles, Ar-Razi, Karl Marx, Auguste Comte, Sigmund Freud maupun Nietzsche yang katanya bisa membunuh tuhan. Saya sebagai member pengajian masjid Salafi cuman bisa geleng-geleng kepala.

Terlebih pada masa ospek yang merupakan ajang pdkt dengan sesama maba eh maksudnya dengan fakultas maupun prodi. Ketika mahasiswa fakultas Tarbiyah identik dengan guru, fakultas Hukum identik dengan ahli hukum. Kami punya julukan khusus, “mahasiswa tuhan.” Bayangin tuh betapa bangganya kami yel-yel dengan berusuara keras, “mahasiswa tuhan.. tuhan.. tuhan..” Nietzsche pasti pusing mendengar hal ini.

Akhirnya, saya sendiri dan teman-teman seper-sesat-an mulai dikenalkan kepada prodi oleh senior-senior kami. Isinya, kumpulan orang-orang yang gak tau mau ngapain di prodi ini saat awal masuk.

Seperti maklumnya manusia di zaman persaingan kerja ini, kami juga diajak untuk menerka pekerjaan di masa depan. Tidak mungkin juga kan kita jadi teknisi, profesor nuklir, maupun pilot. Disinilah kami minder karena prospek kerja mahasiswa lain keliatan begitu jelas. SAA? Gamungkin juga setelah lulus kita bikin agama.

Tapi setelah berproses di dalamnya. Saya akhirnya menyadari pentingnya Prodi ini. Prodi saya ternyata berfokus pada studi agama, dimana agama dan masyarakat dikaji secara ilmiah dengan berbagai perspektif. Mulai dari antropologi, sosiologi, ekonomi, politik, dsb. Banyak juga materi penunjang lain seperti budaya, orientalisme, filsafat, ilmh sosial, dsb. Gamudeng? Ya sini coba daftar bagi kalian yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi siapa tahu jodoh.

Jadi kita belajar agama-agama lain bukan untuk kemudian diislamkan orang-orangnya. Kita tidak sesakti itu. Melainkan kita belajar memahami masyarakat non-Islam. Salah satu tujuannya ya untuk untuk menerapkan barang mahal yang namanya toleransi.

Alih-alih mengislamkan orang non-islam, kami malah diajak untuk melakukan kunjungan di berbagai rumah ibadah. Bahkan dosen-dosen mengusahakan agar kami bisa melakukan dialog dengan penganut agama-agama lokal dan minoritas. Itulah alasan kenapa kita sering mengunjungi gereja, pura, kelenteng, dsb.

Karena sering main ke rumah ibadah agama lain, tak jarang kami dicap sesat, kafir, bid’ah selayaknya mahasiswa Ushuluddin pada umumnya. Tidak apa sebenarnya, karena kurang afdol rasanya menjadi mahasiswa Ushuluddin kalau belum dikafirkan.

Tenang, kami nggak sedang dikristenisasi. Melainkan untuk bersilaturahmi. Tak jarang kami mendapati bahwa masih ada umat non-Islam yang masih mendapatkan perlakuan diskriminasi. Seperti dituduh sesat, dilarang merayakan hari besar, sampai dipersulit membangun rumah ibadah.

Bayangkan ternyata jumlah tindakan intoleransi terhadap mereka masih cukup mengkhawatirkan. Ini membahayakan mengingat Indonesia adalah negeri yang beragam penduduknya, namun tak jarang dipaksa untuk seragam secara implisit.

Cerita-cerita mereka menyadarkan saya bahwa sebagai umat Islam, kita kadang lalai dengan perasaan umat agama non-Islam itu sendiri.

Buat pembaca sekalian, kira-kira pernah berpikir gak berapa rumah ibadah agama lain yang mendapat kerusakan? Gereja misalnya, yang ternyata jumlah pembakaran gereja mencapai 1.000 kasus pasca reformasi.

Banyak gak tuh? Bayangkan kalau masjid yang dibakar? Pastinya langsung geger se-Indonesia sambil ormas putih-putih menyiapkan demo besar-besaran. Eh mereka kan udah dibubarin, canda ormas.

Pernahkah kita sendiri merasa terpaku untuk hanya membela mereka yang seagama? Rohingya, Palestina, Uighur. Kita membela mereka karena tahu ada  berita diskriminasi. Ini bagus. Tapi kita kadang lupa membela saudara setanah air yang berbeda agama dan mendapatkan diskriminasi. Jadi, sebenarnya kita sedang membela kemanusiaan atau hanya manusia yang seagama?

Saya ingat ucapan seorang kating gondrong yang menjadi teman diskusi. Karena quote-nya terlalu bagus, saya yakin dia dapatnya pasti dari tokoh besar. Bahwa kita terlalu menuhankan agama bukannya Tuhan itu sendiri. Tuhan yang menyuruh kita berbuat baik kepada semua manusia direduksi menjadi pembelaan terhadap saudara yang seagama saja. Katanya Islam itu rahmatan lil ‘alamin?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *