Penulis: Nabila Khusna

 

Dahulu di sini adalah rumah bagi jutaan kata,

Tempat lembar-lembar kertas mengeja cerita kita.

Namun sunyi perlahan datang dan mengunci pintu,

Membiarkan rak-rak tua membekukan bersama debu.

 

Kini, jejak-jejak kertas itu telah hilang tak tersisa.

Digantikan aroma kopi yang memikat seluruh kota.

Tak ada lagi barisan buku yang setia menunggu,

Hanya ada deretan cangkir di atas meja kayu.

 

Mesin espresso bekerja dari pagi hingga malam,

Mengusir sisa-sisa hening yang dulu mengendap di dalam.

Lampu-lampu kota berpijar, memantul di gelas kaca,

Menghidupkan ruang yang dulu mati tanpa pembaca.

 

Orang-orang datang berbondong mencari rasa hangatnya,

Tenggelam dalam dialog dan tawa yang tak jemu masa.

Mereka memesan segelas pahit yang penuh dengan gengsi.

Di tempat yang dulu menjadi rumah bagi para pemimpi.

 

Toko buku itu telah runtuh, kalah oleh derasnya zaman.

Kini menjelma kedai kopi yang ramai jadi buruan.

Sejarah aksara berganti menjadi riuh yang tiada henti,

Sebab rindu manusia hari ini, rupanya ada pada kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *