Tiga Ribu Kilometer (1)

Sumber: favim.com

Oleh: Sabitha Ayu

Namanya Wahyu. Lengkapnya Sa’aduddin Wahyu Utomo. Nama tersebut blasteran dari nama Jawa dan Sulawesi. Sebab ayahnya berasal dari Jakarta dan ibunya dari Sulawesi Utara. Sa’aduddin diambil dari nama atau gelar Islam untuk Arung Palakka, seorang Raja di Palakka, salah satu kerajaan bawahan yang ada dalam wilayah Bone. Sedangkan Wahyu diambil dari nama Islam, yang berarti petunjuk, isyarat, perintah, ilham, dan inspirasi dari Tuhan dan Utomo dari nama Jawa yang berarti utama.

Wahyu hidup sebagai anak tunggal dari pasangan Kharismawan dan Hayati Rachmadita. Kharismawan adalah seorang akademisi dan ilmuwan di bidang Biologi. Sudah terbang ke mana-mana untuk mewakili Indonesia, menunjukkan kebolehannya dalam keilmuan Parasitologi, cabang ilmu Biologi yang berfokus mempelajari tentang parasit pada tubuh makhluk hidup dan alam semesta. Pernah di umurnya yang ke-4 tahun Wahyu digendong sang ayah memasuki laboritoriumnya di Jakarta Pusat dan berkali-kali mengucap wah karena ia terkagum betapa kerennya seragam para laboran. Ya, setahun sebelum sang ayah pergi selamanya.

Ayahnya sudah meninggal sejak ia masih berumur lima tahun. Kenangan yang tersimpan tentangnya masih terlalu singkat dan tiba-tiba harus berpisah begitu saja. Saat itu, ia yang masih kecil hanya bisa menangis setiap malam merindukan kelonan sang ayah dan merajuk kepada ibu. Barulah di saat ia telah berumur tujuh tahun, ia mengerti bahwa ayahnya bukan tak kunjung pulang dari kuliah S2-nya di Jakarta, tapi memang sudah waktunya berpulang ke Rahmatullah.

***

“Wahyu… tahu nggak, ini batu apa?” seru ibu.

Dengan cepat, Wahyu menggeleng, “Enggak.”

“Ini namanya batu nisan, Sayang. Ayah ada di bawah gundukan tanah ini.”

Wahyu kecil pun panik dan menangis. Wajahnya memerah marah. Jemari kecilnya menarik-narik baju ibu dan sesekali berusaha mengais-ngais tanah, “Kenapa Ayah ada di dalam sana? Tanahnya jahat, bikin Ayah nggak bisa napas! Ayo ajak Ayah pulang… Kasihan Ayah…!!!” Kemudian, Wahyu menginjak-injak tanah gundukan itu dengan penuh kekesalan sembari menangis.

“E-eh… Bukan gitu, Sayang. Tanahnya nggak salah apa-apa, jadi nggak boleh dimarahin. Harus disayang dan dirawat baik-baik, biar Wahyu juga disayang sama Allah yang menciptakan tanah, yang menciptakan Ayah. Oke?” Ibu mencium lembut pipi Wahyu.

Tangis si Wahyu kecil mulai mereda, dan ia mengangguk-angguk saja. “Terus Ayah kenapa?”

“Ini namanya meninggal dunia, Sayang. Semua manusia… termasuk Ibu dan Wahyu, pada akhirnya pasti akan menemui kematian. Tapi kita tidak pernah tahu takdir Tuhan, Sayang. Tuhan bisa mengambil nyawa makhluk-Nya kapan pun ia telah ditakdirkan. Karena, Tuhannya Wahyu sudah menetapkan. Coba, deh, siapa Tuhannya Wahyu?”

“Allah.”

“Pinter, anak Ibu… Berarti, siapa Yang Menghidupkan dan Mematikan manusia, termasuk Ibu dan Wahyu?”

“Allah.”

“Nah, gitu… Wahyu harus percaya sama Allah. Boleh Wahyu sedih nggak bisa ketemu Ayah lagi, tapi nggak boleh keterusan. Nggak baik. Karena, yang Allah takdirkan pasti selalu yang terbaik buat Ibu dan Wahyu. Sekarang dan seterusnya, Wahyu harus memanfaatkan kesempatan Wahyu untuk beramal saleh dan belajar dengan baik. Oke?”

“Oke, Ibu.” jawab Wahyu. Kini tangisnya benar-benar telah sirna. Matanya menatap Sang Ibu dengan penuh kepercayaan.

“Sekarang, kita berdoa sama Allah, yuk, biar di alam barzakh Ayah tenang dan diampuni dosa-dosanya… Diterima amal-amalnya…”

“Hmm? Alam barzakh itu apa, Bu?”

“Alam barzakh itu… tempat bagi ruh-ruh manusia yang sudah meninggal untuk beristirahat sambil menunggu datangnya Hari Kiamat, Sayang…”

“Apa itu Hari Kiamat??”

“Hari di mana kesempatan kita buat beribadah di bumi Allah sudah habis… Makanya, Wahyu harus jadi anak yang saleh dan banyak beramal untuk menjadi bekal nanti.”

“Ooh,” sahut Wahyu yang telah memahaminya, “Ya Allah… Bismillah, aamiin!” suara Wahyu yang comel menggema pagi itu.

Ibu tertawa dengan tingkah lucu Wahyu. Dielusnya pipi anak semata wayangnya dengan gemas dan penuh kasih sayang. Lantas, ia mengangkat kedua tangan untuk berdoa dan diikuti oleh Wahyu.

Sejak ayah meninggal, Wahyu dan ibu kembali ke kampung halaman di Manado, Sulawesi Utara. Rumah berdiam di Bandung kota telah mereka jual, dan hasilnya digunakan sebagai modal untuk membuka usaha butik di dekat pintu masuk perumahan dan menyekolahkan Wahyu hingga tamat SMA.

Baru saja ibu dan Wahyu bertengkar hebat karena mimpi lama Wahyu untuk berkuliah ke luar negeri tidak sejalan dengan kemauan ibu. Ia sangat marah dan tidak bisa menahan emosinya sampai-sampai berkata-kata dengan nada tinggi tanpa ia sadari. Wahyu tidak bisa mengerti mengapa ibu tidak menyetujui mimpi ini di saat orang tua lain mendukung mati-matian agar anak-anaknya sekolah di luar negeri.

“Pokoknya, aku ingin kuliah di Oxford, Bu! Aku sudah belajar mati-matian sejak kecil! Aku mengumpulkan ratusan piagam dan piala, medali olimpiade ajang olahraga, lantas untuk apa jika bukan untuk menembus persaingan beasiswa luar negeri? Ibu tidak tahu aku belajar begitu keras sampai-sampai sering mimisan hampir di setiap malam. Berlatih keras di ekstrakurikuler Badminton sampai-sampai handukku terlalu banyak menampung keringat dan air mata agar aku diakui sebagai pemain terbaik di seluruh Indonesia! Bagaimana mungkin beasiswa untuk kuliah ke Oxford yang susah payah kudapatkan ini kusia-siakan begitu saja??” sentak Wahyu dengan mata nanar.

“Apa pun yang terjadi, kamu harus kuliah di Universitas Indonesia. Ibu akan mencoret namamu dari Kartu Keluarga jika kamu membantah!”

“Oke! Silakan saja! Kalau perlu bakar kartunya.” Wahyu geram.

“Oh, sekarang berani ngebentak dan ngelawan Ibu, kamu, ya. Anak durhaka!”

Huh. Gak peduli! Ibu nggak pernah mau ngertiin aku. Ibu egois!”

Wahyu membanting pintu dan keluar rumah. Saking emosinya, ia berjalan terlalu cepat, telinga dan kepalanya terasa panas, dan sialnya ia terlupa membawa dompet atau sekadar beberapa lembar uang untuk makan. Tidak ada apa pun di saku celananya. Apakah ia berniat kabur dari rumah? Entahlah, ia sudah muak untuk kembali ke dalam rumahnya lagi.

Sebentar lagi memasuki waktu Magrib.

Malam berlalu dan kini jarum jam menunjuk pada pukul 22.04. Sudah menjelang larut. Wahyu kelaparan karena tadi sore terlalu sibuk bersilat lidah dengan Sang Ibu selama tiga jam. Ia tak sempat menjamah makan malam, karena keburu kabur dari rumah. Lagipula, karena sibuk mengomeli Wahyu, ibu tak sempat menyelesaikan masakannya di dapur. Untung saja kompor yang saat itu sedang menyala untuk merebus sup dimatikan terlebih dahulu. Ia ingat sekali, tadi ibu sempat memukuli pelan mulut Wahyu yang membentaknya sementara tangannya masih berbau bawang dapur.

Cih, sial. Aku laper banget. Kenapa, sih, aku harus hidup jadi manusia sial di bumi ini? Maunya Ibu gimana coba, udah capek-capek berjuang untuk dapetin beasiswa Oxford, masa harus aku tolak, sih!” umpatnya dalam hati. Ia pun menjambak rambutnya sendiri hingga berantakan dengan perasaan geram.

Wahyu terus berjalan. Kakinya mulai lelah setelah berjalan sejauh dua setengah kilometer tanpa jeda. Sudah jauh sekali dari rumahnya dan ia tidak tahu hendak ke mana karena tak merencanakan tujuan sebelumnya. Rumah Rio, sahabatnya? Ah, itu ide buruk. Pasti ibunya akan mengecek ke sana dan menemukannya untuk menjemput pulang. Dan, ya, kembali berdebat dengannya. Wahyu lelah dengan segala perdebatan yang tak kunjung menemukan akhir. Mereka selalu berdebat tentangnya empat hari terakhir. Wahyu punya mimpinya sendiri, dan ibu tak menyetujuinya. Padahal mimpi itu sudah Wahyu persiapkan matang-matang sejak kecil, dan restu serta dukungan ibulah yang paling ia harapkan. Ibu tak pernah tahu perjuangannya, tahunya hanya kerja di butik seharian penuh. Pulangnya sore hari ketika Wahyu harus berangkat les dan kursus Badminton. Kemudian jam sebelas malam barulah ia pulang ke rumah, langsung salat Isya dan tertidur. Anggapan seperti itu yang terus berputar di pikiran Wahyu. Ah, sekarang Wahyu benar-benar merasa sangat kesal!

Ia berhenti di depan sebuah warung Pedagang Kaki Lima. Di kaca buram pada gerobak masakannya tertulis besar-besar dengan stiker berwarna merah: NASI GORENG DAN BAKMI GORENG. Wahyu menelan ludah. Baunya sedap. Ia hanya bisa melihat tangan bapak penjual yang mengobrak-abrik masakan di wajan dengan lincah.

Pukul 01.00 dini hari. Pelanggan sudah habis. Piring-piring pun telah dicuci bersih. Dan Wahyu masih melamun di kursi paling pojok dekat gerobak. Ucok sang penjual menyadarinya dan menghampiri Wahyu.

“Hei, Anak Muda. Kau ingin pesan nasi goreng? Atau bakmi goreng?”

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *