Sweet Home: Tak Seperti yang Terlihat

Doc: Google

Oleh: Sibghoo_

Berawal dari bentuk kejenuhan dengan adanya stresor yang kian hari seolah beranak-pinak. Mulai dari tugas rumah, tugas kuliah, tugas organisasi, ditambah masalah lain yang semakin memicu energi negatif dalam diri. Sehingga, untuk menghilangkan kejenuhan tersebut, mulailah mengalihkan aktivitas dengan cara menonton drama Korea Selatan. “Sweet Home” judulnya, terdiri dari 10 episode yang merupakan serial adaptasi dari Webtoon karya Kim Kan Bi dan Hwang Young Chan dengan judul yang sama (Sweet Home). Dengan ini terbukti bahwa ceritanya yang bagus dan banyak diminati, sampai divisualkan melalui lakon drama.

Meskipun, sebagian dari warga Indonesia sudah tidak meragukan lagi kualitas dari setiap produksi drama asal Negara Ginseng tersebut, tetapi Sweet Home-lah yang paling membuat saya terkagum-kagum. Setiap kali menelusuri media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan WhatsApp banyak yang mengunggah cerita mengenai keheranan mereka antara judul dan scene di setiap episodenya yang terkesan tidak nyambung. Kalimat yang paling banyak terlontar yaitu, “Judulnya Sweet Home kenapa isinya gak ada manis-manisnya sih?” Pada awalnya saya setuju dengan kalimat ini, tetapi setelah menontonnya sampai akhir, saya pun paham pesan apa yang ingin disampaikan dari drama ini. Serial yang dibalut dengan genre drama, horor, misteri, dan fantasi memberikan kesan anti mainstrem untuk menceritakan kisah soft di baliknya.

Sekilas mengenai ceritanya, Sweet Home mengisahkan kehidupan Cha Hyun Soo seorang anak SMA berkarakter tertutup, suka mengurung diri, dan sering melakukan self harm yang hidup sebatang kara setelah keluarganya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Ia berhenti sekolah dan pindah ke apartemen kecil di sebuah desa yang dijuluki Green Home. Rencana awalnya pindah adalah untuk bunuh diri di tempat yang sepi. Namun, kejadian misterius menyerang seluruh penjuru kota. Manusia perlahan berubah menjadi makhluk menyeramkan yang disebut monster, termasuk dirinya. Dari kekacauan inilah berbagai perubahan dimulai.  Ia mengatakan, “Ini adalah kisah kami. Yang mencoba menemukan alasan untuk hidup di dunia, yang bahkan lebih sulit dari pada untuk bertahan hidup.”

Pernyataan ini sangat sesuai dengan peristiwa menyeramkan yang menimpa dirinya dan semua penghuni apartemen tersebut, akibat serangan monster. Menurut pendapat saya, jiwa monster mulai memasuki raga manusia disebabkan oleh beberapa alasan. Yaitu, jiwa manusia yang merasa hampa dan kosong, memiliki dendam, menyalahkan diri-sendiri, menyakiti diri-sendiri, tidak memiliki tujuan hidup, memiliki penyesalan yang mendalam, dan mudah menyerah. Namun, intinya disebabkan karena terlalu lama menimbun jiwa yang negatif.

Contoh saja yang dialami oleh Cha Hyun Soo. Ia mulai mengalami gejala menjadi monster sebab kebiasaan buruknya yang suka menyayat lengannya sendiri. Hal ini terjadi karena ia menganggap semua kebaikan yang telah dilakukannya membawa petaka bagi dirinya. Sebut saja pengalaman buruk yang menimpanya di sekolah. Awal mula dibully yaitu, di saat langit cerah Hyun Soo menawarkan uang koin untuk membayar minuman yang dibeli oleh Do Hun (murid baru sekaligus anak dari bos ayahnya). Tidak disangka hal itu malah membuat Do Hun kesal lalu menyiksa Hyun Soo habis-habisan. Suatu ketika Hyun Soo tidak tahan dan mendorong Do Hun ke jalan, dan ia hampir ditabrak mobil. Kejadian ini membuat ayahnya dipecat. Tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi, orang tua Hyun Soo malah menyalahkannya. Kakak perempuannya pun tidak mengakuinya sebagai adik, sebab malu memiliki adik yang menjadi korban bullying.

Peristiwa pahit yang dialami, menyebabkan jiwa negatif bergejolak dalam dirinya. Rasa menyesal, menyalahkan diri-sendiri, tidak peduli sekitar, marah, kecewa, lalu benci terhadap diri-sendiri dan kenyataan, denial terhadap sakit yang dirasakannya, hingga  berujung pada usaha untuk bunuh diri –termasuk selalu menyanyat lengannya–. Oleh karena itu, ia mengalami gejala untuk berubah menjadi monster.

Contoh selanjutnya, Kim Suk Hyun dan Moon Hyeon Soo. Sepasang suami istri ini juga menjadi monster pada akhirnya. Kim Suk Hyun adalah seorang lelaki tua bangka yang selalu melakukan kekerasan rumah tangga kepada istrinya. Ia orang yang tidak suka berbagi dan egois, ia benci kalau penghuni lain makan gratis di toserba miliknya. Padahal dalam situasi seperti itu, uang sangat tidak berguna. Pantas saja ia berubah menjadi monster. Selain pelit, ia juga jahat, pemarah, dan kasar kepada orang lain, terutama kepada istrinya. Sedangkan, istrinya berubah menjadi monster akibat menaruh dendam yang mendalam kepada suaminya.

Selain mereka, masih ada lagi yang memiliki gejala menjadi monster. Namun, jika disebutkan secara keseluruhan akan memakan tempat dalam tulisan ini. Scene demi scene membawa suasana yang menegangkan. Tapi, ada juga hikmah di baliknya. Seperti yang kita ketahui, bahwa warga korea kurang peduli dengan orang asing, dan menjaga jarak dengan orang yang tidak dikenal sama sekali.

“Keluarga tak harus sedarah,” kalimat inilah yang pantas diucapkan selama menonton Sweet Home. Meskipun pada awalnya para penghuni apartemen selalu mementingkan keselamatan dirinya dan membiarkan orang lain celaka, tetapi dengan berbagai kejadian mengerikan membuat mereka –yang tidak saling mengenal– akhirnya berlagak selayaknya keluarga. Mereka saling menjaga, mengayomi, peduli, dan tolong-menolong satu sama lain, bahkan rela berkorban demi orang lain.

Hyun Soo sebagai pemeran utama mulai menemukan arti penting dari kehidupan. Setelah pindah ke apartemen tersebut, Hyun Soo merasakan suasana yang berbeda. Ia merasa memiliki tempat berkeluh kesah, rasa belas kasihan untuk menolong orang lain, dan keinginan untuk melanjutkan hidup. Selain itu, ia juga menahan diri melawan gejolak jiwa monster yang ada dalam dirinya, hal ini ia lakukan untuk terus bertahan hidup selayaknya manusia. Bentuk pertahanan diri tersebut, membuatnya mulai memperbaiki diri dan menjadi pelindung bagi semua orang di tempat itu. Karena, hanya monster-lah yang mampu melawan sesama monster.

Semua penghuni peduli pada setiap kebaikannya, lalu berbuat baik dan penuh kasih sayang. Dengan ini, berhasil membuka hatinya yang telah lama mengeras. Sehingga, ia menjadi paham betapa pentingnya kekeluargaan, selflove, memaafkan diri sendiri dan orang lain, tidak denial tentang rasa sakit yang dideritanya, dan merasa bahagia karena sudah membantu orang lain. “Sweet Home. Membuatku serasa di rumah,” kalimat inilah yang menjadi penutupnya.

Jiwa monster adalah sebagai manifestasi dari sisi gelap dalam diri. Sebab, emosi negatif yang tertimbun lama menjadi meluap, lalu merepresentasikan sebagai jiwa lain yang menyeramkan. Tulisan ini memang terkesan absurd. Tetapi, dari sini terbukti bahwa menulis itu tidak terbatas, sekalipun terinspirasi dari serial fiksi. Sebagai akhir kata, semua orang bisa menjadi Sweet Home jika dapat memahami diri-sendiri, berusaha selflove, dan mampu berdamai dengan setiap kejadian yang menimpa. Maka, jangan sampai monster mengambil alih diri kita dengan adanya sampah-sampah emosi yang telah terkubur lama dalam jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *