
Penulis: Nafa’ Kamaliyah
Ku rangkai cerita dalam satu ruang sore itu
Namun disela-sela itu aku masih kebingungan tuk tafsirkan suara
Apakah benar itu langkah ibu?
Atau hanya sekedar angin yang meniru
Sebuah ritme kecil yang mengantarkanku dalam mimpi
Ku rindu sebuah nama yang tak mampu ku sebutkan
Sebuah nama yang didalam tubuhnya terkandung makna bentala yang sabar
Ia merupakan tanah pertama yang membuat lara ini tertanam dan perlahan sembuh tanpa senyap
Bumantara pun tak mampu menandingi luas dekapnya yang diam-diam menyimpan banyak enigma tersembunyi didalamnya
Menyerap segala duka yang tanpa bertanya sebabnya
Ia mengajariku berbicara dengan aksara yang hening
Mengeja kehidupan ini tanpa adanya huruf kapital
Namun penuh dengan tanda tanya dan tanda baca yang sabar ia sematkan pada alam
Ia adalah agni yang tak pernah padam meski hujan mengguyur halaman dan waktu menusuk tulang
Sebab ia adalah definisi pahlawan yang tak kunjung terselesaikan
Si bungsu, lahir ketika doa-doa sudah setengah letih
Di mana Ibu tak lagi mencatat pertumbuhan harian
Ayah lebih sering diam menyimpan semua beban, dan
Kakak yang sibuk menjadi dewasa terlalu cepat
Ia tumbuh diantara sisa mainan, waktu, dan ruang
Terkadang ia berbicara pada kaca
Berlagak menjadi dewasa dengan meniru gaya kakaknya
Entah itu bicara tentang mimpi, beasiswa dan juga dunia yang tak bisa ditunda
Namun ia tahu, sejak lahir ia hanya pewaris dari cinta yang sudah kehabisan bentuk
Dan waktu yang sudah terlalu tipis untuk diulang
Pada malam nan sarat gulita itu
Ketika Sandyakala tinggal gurat jingga
Ia bertanya pada bumantara “Apakah menjadi bungsu berarti harus selalu tersenyum paling akhir?”
Menyimpan banyak lara dalam puing bentala
Dan menyembunyikan enigma yang tak semua orang mengetahuinya
Di saat semua sibuk menjadi seseorang yang membahas tentang mimpi, cinta dan masa depan
Namun ia masih sibuk dengan menebak teka-teki kehidupan yang tersisa untuknya
Di antara agni kopi sachet dan catatan kuliah yang tak lengkap
Menuliskan sebuah aksara rindu yang tak pernah cukup oleh waktu
Memikirkan IPK yang bukan satu-satunya hal yang membuat ibu tersenyum
Mereka tak banyak bertanya tentang organisasi maupun nilai
Namun hanya tentang makan dan tidur cukup
Hal-hal remeh yang selalu kurindukan bagai nirwana
Dan jika ini baris terakhirku malam ini biarkan kututup dengan hening
karena tak semua kasih harus dirayakan dengan kata tapi cukup dengan diam yang penuh makna

