Reporter: Febi Irma Safitri
Editor: Fatwa Am ‘Azza KD
FORMA (21/05) – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) mengadakan Seminar Dialog Tafsir Nusantara bertema “Jihad Ekologi: Sinergi Tafsir Kontekstual dan Advokasi Lingkungan dalam Menghadapi Krisis Ekosistem Nasional” Selasa (20/05) di Auditorium UINSA. Seminar tersebut menjadi ruang diskusi mahasiswa untuk membahas krisis lingkungan melalui perspektif tafsir Al-Qur’an dan kondisi ekosistem di Indonesia.
Dalam wawancara, Wakil Ketua Umum HMP IAT, Muhammad Fakhrur Rozi, menjelaskan bahwa tema ekologi dipilih karena berangkat dari keresahan terhadap maraknya kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini. Menurutnya, Al-Qur’an memiliki keterkaitan dengan berbagai permasalahan kehidupan manusia, termasuk isu lingkungan.
“Kita menghubungkan isu-isu yang terjadi saat ini dengan Al-Qur’an, bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang ekosistem,” ujarnya.
Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber dari latar belakang yang berbeda, yakni Ahmad Musta’in Syafi’ie, sebagai ahli tafsir dan Abdul Haq dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur sebagai praktisi lingkungan.
Muhammad Dhiya’ul Millah selaku Ketua Pelaksana seminar memaparkan perpaduan dua perspektif tersebut sengaja dipilih agar peserta dapat melihat persoalan lingkungan dari sisi keagamaan sekaligus realitas lapangan.
“Satu dari ahli tafsir, salah satunya dari ahli lingkungan, lalu kita komparasikan bersama. Kalau kendala pasti ada, terutama soal pendanaan dan persiapan teknis. Tapi alhamdulillah acara tetap bisa berjalan lancar,” katanya.
Perpaduan perspektif tafsir dan advokasi lingkungan tersebut menarik perhatian peserta dari berbagai kampus. Dinda Anisa, mahasiswi UIN Malang, mengaku tertarik mengikuti seminar karena isu lingkungan yang dinilai masih jarang dibahas dalam forum kajian mahasiswa.
“Kebanyakan kajian tidak membahas lingkungan, lebih banyak soal era digital dan burnout. Padahal kita sedang menghadapi krisis lingkungan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Latifah Fuadah, salah satu peserta seminar, juga mengaku tertarik dengan tulisan narasumber terkait peran ulama dalam menanggapi permasalahan lingkungan.
“Yang paling saya ingat ketika narasumber menyampaikan bahwa kehancuran suatu negeri bukan hanya karena pelaku kerusakan, tapi juga karena ulama yang memilih diam,” ujarnya.

