Reporter: M. Daffa Ramadhani dan Muthmainnah

Editor: Fatwa Am ‘Azza KD

FORMA (20/05) – Seminar bertajuk “The Geopolitical Compass: Menavigasi Kebenaran di antara Narasi Global dan Labirin Disrupsi” yang digelar Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pemikiran Politik Islam (PPI) UIN Sunan Ampel Surabaya di Self Access Center (SAC) pada Selasa (19/05), berlangsung dengan jumlah peserta yang minim. Sepinya partisipasi mahasiswa dalam forum akademik tersebut menjadi bahan evaluasi panitia, mulai dari penentuan waktu pelaksanaan, koordinasi publikasi, hingga keterlambatan acara.

Ketua Umum HMP PPI, Muhammad Rendra Nasrullah, mengakui waktu pelaksanaan seminar dinilai kurang tepat karena bertepatan dengan suasana Ujian Akhir Semester (UAS) dan kepulangan mahasiswa menjelang libur semester.

“Ini jadi evaluasi ke depan. Mungkin dari panitia kurang tepat menentukan tanggal karena banyak mahasiswa sudah fokus UAS, bingung mau pulang, bahkan ada yang sudah pulang duluan,” ujarnya.

Selain faktor waktu, seminar tersebut juga sempat mengalami keterlambatan pelaksanaan hingga sekitar dua jam akibat kendala teknis dari panitia dan pemateri.

Cisnullah Aziz selaku ketua pelaksana seminar menyebut kondisi tersebut turut menjadi catatan evaluasi bagi kepanitiaan ke depan.

“Karena memang ada keterlambatan dari panitia dan juga dari pemateri sehingga acara sempat terhambat,” jelasnya.

Chisnu juga mengakui koordinasi publikasi kegiatan belum berjalan maksimal. Menurutnya, komunikasi antara divisi humas dan media masih kurang optimal sehingga penyebaran informasi seminar belum menjangkau mahasiswa secara luas.

“Dari humas juga kurang koordinasi dengan anak media. Jadi eksekusinya masih jauh dari harapan saya,” ungkap Chisnu.

Meski jumlah peserta tidak terlalu banyak, beberapa mahasiswa yang hadir tetap mengikuti seminar hingga akhir acara. Mahira, mahasiswa PPI angkatan 2023, menilai tema seminar sebenarnya cukup relevan dengan kondisi politik saat ini. Namun, menurutnya, rendahnya jumlah peserta lebih dipengaruhi momentum pelaksanaan acara dibanding tema yang diangkat.

“Kalau temanya sudah bagus banget. Mungkin lebih ke kondisi mahasiswanya dan momentum acaranya,” katanya.

Senada dengan itu, peserta lain, Adinda Vika menilai forum diskusi seperti seminar geopolitik tetap penting untuk melatih mahasiswa lebih kritis dalam memilah informasi di tengah maraknya hoaks dan framing media sosial.

“Kita harus bisa verifikasi informasi, cek data, dan memisahkan mana fakta dan mana narasi yang belum tentu benar,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *