Reporter: Tim Liputan LPM Forma
Editor: Fatwa Am ‘Azza Kd
FORMA (30/06) – SEMA U membuka rekrutmen Tim Komisi Pemilihan Umum Raya (Kopurwa) melalui media sosial pada 29 Juni 2026. Pembukaan rekrutmen tersebut memunculkan pembahasan mengenai mekanisme Pemilihan Raya (Pemira), termasuk wacana penerapan sistem one man one vote, serta sorotan mahasiswa terhadap transparansi pelaksanaan Pemira di tingkat universitas.
Dalam wawancara terkait mekanisme Pemira, Ketua SEMA U terpilih, Hendrayanto Maulana Ghani menjelaskan bahwa sistem one man one vote telah beberapa kali menjadi bahan yang terjadi. Namun, menurutnya, penerapan sistem tersebut lebih memungkinkan untuk dirancang pada pelaksanaan Pemira di tahun-tahun berikutnya.
“Mungkin bisa digunakan di tahun-tahun berikutnya dan mungkin untuk di tahun ini bisa dirancang untuk tahun-tahun berikutnya. Saya juga sudah beberapa kali mendengar kata-kata terkait one man one vote, ” ujar Maul.
Maul juga merasakan tantangan yang perlu mempertimbangkan jika sistem one man one vote diterapkan. Menurutnya, pelaksanaan sistem tersebut memerlukan kesiapan dalam menyebarkan informasi kepada seluruh siswa serta memastikan partisipasi siswa dalam menggunakan hak suara.
“Soalnya kita juga perlu memberikan kabar kepada seluruh siswa dan memastikan siswanya itu semua harus menggunakan hak suaranya,” katanya.
Sistem one man one vote merupakan mekanisme yang memberikan hak suara secara langsung kepada setiap individu pemilih. Sementara itu, beberapa organisasi mahasiswa masih menerapkan mekanisme pemilihan melalui sistem perwakilan organisasi atau ketua lembaga mahasiswa.
Pembahasan mengenai mekanisme Pemira juga mendapat tanggapan dari mahasiswa berinisial MA, salah satu mahasiswa yang aktif di beberapa organisasi kampus, menilai bahwa demokrasi di lingkungan UINSA masih menghadapi tantangan, khususnya pada aspek transparansi pemilihan dan pengelolaan organisasi.
“Sebenarnya kalau menurut saya yang aktif di beberapa organisasi kampus, melihat perkembangan demokrasi di UINSA itu masih sangat minim akan transparansi pemilihan dan juga pengelolaan organisasi. Di UINSA sendiri itu memang berlandaskan demokrasi, tapi apa yang terjadi di dalamnya masih belum mencerminkan demokrasi yang ideal,” ujarnya dalam wawancara.
MA menyampaikan pendapat tersebut saat menanggapi pembahasan mengenai mekanisme Pemira yang kembali menjadi perhatian setelah dibukanya rekrutmen Tim Kopurwa.

