Kancah Idealisme Masyarakat Ilmiah
Penulis: Nafa' Kamaliyah
Editor: Akmelia Rabbani
Pada lembaran sunyi, ku tulis diksi-
tentang tuan, yang kini kian pudar,
meninggalkan jejak pada aksara di atas kanvas.
Renjanaku kini merintih tanpa suara
seperti waktu yang tak sempat kembali.
Sebuah filosofi antara aku, kamu dan sastra,
terbingkai dalam sajak, bait dan kata.
Mengumpulkan sebagian makna,
dan merangkai asa dilembaran yang penuh enigma,
sebab kita pernah bicara tanpa perlu bersuara.
Maaf, dalam setiap aksara yang ku goreskan,
kutemukan serpihan dirimu.
Dalam setiap bait yang kita baca,
kau menyelam di samudra pikiranku,
namun tak satu pun bisa kau bawa pulang.
Karna sejatinya aksara, telah menjadi saksi,
bahwa kita pernah menjadi asmara loka dengan sejuta harsa,
meski pada akhirnya menjadi lara yang kian amerta.
Mungkin semesta hanya ingin kita belajar melepaskan.
Dua insan yang pernah menyatu
Kini kian pudar tanpa meninggalkan jejak,
sebab bumantala tak merestuinya, takdirnya hanya untuk dikagumi,
bukan didekap untuk dimiliki.
Seperti lukisan yang tak pernah selesai diwarnai.