Penulis: Syauqi Royyan Fa’izul Khak
Editor: Thoriq Syauqillah
Pada setiap pencapaian kecil maupun besar, pada proses yang sulit dan akhirnya kita lewati, sering kali kita merasa senang, bahkan bangga, atas diri kita sendiri yang akhirnya berhasil melewati dan mencapainya. Namun, jarang kita bertanya, bangga yang kita rasakan itu sebenarnya pride atau proud?.Dua kata ini sering dipakai bergantian, seolah maknanya sama. Padahal, di balik kemiripannya, tersimpan perbedaan sikap yang pelan-pelan mempengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Kedua hal ini harus dikenali oleh diri kita setidaknya untuk tahu bagaimana sikap yang harus kita lakukan.
Dalam keseharian kita, kerap kali tanpa disadari. Kita menyebut diri sendiri “punya pride”, atau berkata “saya proud dengan diri saya”. Kedengaranya ya memang sederhana, bahkan positif. Tapi, jika kita telaah lebih jauh, keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan. Tentu terlihat samar, namun saya mengklasifikasikan keduanya pada kebanggan yang menguatkan dan kebanggaan yang diam-diam meninggikan ego.
Saya menulis ini bukan hanya untuk mencari perbandingan kata atas keduanya, melainkan sebagai refleksi kepada kita semua, dan khususnya diri saya sendiri. Terkait makna apa yang terkandung di dalamnya, perbandingan sikap dan cara memandang diri. Sebab, cara kita merasa bangga sering kali menentukan apakah kita sedang bertumbuh atau malah terjebak dalam bayangan diri sendiri.
Pride dan Proud Sama-sama Bangga, Tapi Tidak Sepenuhnya Sama
Secara sederhana, pride dan proud memang sama-sama berbicara tentang rasa bangga. Dan keduanya sering dipakai untuk “menandai” pencapaian, identitas, atau seseuatu yang dianggap bernilai bagi kita. Namun perbedaan keduanya mulai terlihat ketika kita mencari tahu lagi lebih dalam, dari mana datangnya rasa bangga itu berasal dan kearah mana tujuannya.
Saya tidak membahas dan membawakan diksi yang familiar bagi teman teman, seperti pride itu sombong, lalu proud itu bangga. Namun kita bersama menelisik ini lebih lanjut. Dan mari kita bergulir pada pembahasan perbandingan keduanya, karena baru saja, kita membahas tentang kesamaan rasa bangganya.
Proud sendiri biasanya berangkat dari proses dan usaha. Rasa ini hadir ketika seseorang menyadari bahwa dirinya telah berjuang, bertahan, atau berkembang. Cukup dengan kesadaran “bahwa aku sudah berusaha”, perasaan proud sudah mempunyai tempatnya sendiri. Karena itu, proud cenderung bersifat tenang, tidak defensif, dan tidak perlu untuk meninggikan diri.
Sementara itu, pride sering kali lebih dekat dengan identitas dan ego. Ia muncul ketika bangga dilekatkan pada status, citra diri, atau pengakuan eksternal. Dalam kadar tertentu, pride memang dibutuhkan untuk menjaga harga diri ataupun dalam konteks zaman ini ramai dengan istilah personal branding. Namun, ketika itu terlalu kuat, pride mudah berubah menjadi sikap merasa paling benar, sulit menerima kritik, dan enggan mengakui keterbatasan.
Di sinilah perbedaannya mulai terasa. Proud membantu seseorang bertumbuh karena ia menghargai proses. Pride, jika tidak disadari, justru bisa membuat seseorang berhenti belajar karena merasa sudah cukup. Keduanya sama-sama bernama bangga, tetapi gerak keduanya sepenuhnya berbeda.
Saya mengklasifikasikannya menjadi tiga poin, sebagai rumus yang menjadi dasar untuk dipahami
Pertama, jika ditinjau dari sumber emosinya, pride cenderung berakar pada ego dan identitas yang sangat haus akan pengakuan eksternal. Sebaliknya, proud tumbuh dari dalam diri, ia berakar pada penghargaan atas proses, usaha yang telah dikerahkan, serta nilai-nilai personal yang kita yakini.
Kedua adalah soal orientasi diri. Seseorang yang terjebak dalam pride biasanya memiliki cara pandang “aku di atas”, di mana rasa bangga hanya muncul jika ia merasa lebih hebat dari orang lain. Namun, seseorang yang memiliki rasa proud akan fokus pada prinsip “aku berkembang”, ia hanya membandingkan dirinya hari ini dengan dirinya yang kemarin.
Terakhir, perbedaan ini membawa dampak psikologis yang nyata. Pride sering kali membuat seseorang menjadi defensif, mudah tersinggung, dan menutup diri dari kritik karena merasa citra dirinya terancam. Sementara itu, rasa proud justru melahirkan jiwa yang stabil dan tenang, sehingga ia jauh lebih terbuka terhadap evaluasi demi pertumbuhan yang lebih baik ke depan
Pandangan Para Tokoh terkait Kebanggan yang Menumbuhkan serta Kebanggan yang Membelenggu
Saya menemukan kutipan yang menarik dari C.S Lewis
“Pride gets no pleasure out of having something, only out of having more of it than the next man… It is the comparison that makes you proud: the pleasure of being above the rest. Once the element of competition is gone, pride is gone.”
Dalam kerangka ini, pride tidak lagi berakar pada proses atau usaha, tetapi pada posisi diri di hadapan orang lain. Inilah yang membuat pride mudah melahirkan sikap defensif, sulit menerima kritik, dan cenderung menutup ruang pembelajaran. Pandangan Lewis ini menguatkan gagasan bahwa pride, jika tidak disadari, lebih dekat dengan ego daripada pertumbuhan.
Menurut Brene Brown, ia punya dua klasifikasi terkait Pride: Healthy Pride dan Toxic Pride. Setelah melihat gagasan dan pandangan ini, Pride tidak selalu dimaknai dengan konotasi negatif. Healthy pride muncul ketika seseorang menghargai kerja keras, keberanian, dan ketekunan dirinya. Sementara toxic pride lahir dari kebutuhan untuk selalu terlihat benar, unggul, dan tidak boleh gagal. Brown menegaskan bahwa kebanggaan yang sehat justru membuat seseorang lebih rendah hati dan berani mengakui keterbatasan, ciri yang sangat dekat dengan apa yang kita sebut sebagai proud.
Carl Rogers juga berpendapat – kita tentu tidak asing dengan tokoh psikologi humanistik ini-, dalam gagasannya tentang self-acceptence. Meskipun tidak menyebutkan secara eksplisit dalam gagasannya mengenai proud namun didalam itu ia berpendapat seseorang yang sehat secara psikologis adalah mereka yang mampu berkata, “Aku belum sempurna, tapi aku sedang bertumbuh.”
Pada akhirnya, rasa bangga tidak pernah benar-benar salah. Ia manusiawi, wajar, bahkan perlu. Namun yang perlu kita sadari hanyalah ke mana rasa bangga itu kita arahkan. Apakah ia membuat kita lebih jujur pada proses, atau justru sibuk menjaga citra diri.
Mungkin kita tidak perlu terlalu sering menanyakan, “Aku lebih pride atau proud?” Cukup sesekali berhenti dan bertanya pelan, “Setelah merasa bangga ini, aku jadi ingin belajar lagi, atau justru ingin terlihat paling benar?”
Kalau rasa bangga itu membuat kita lebih tenang, lebih lapang menerima kritik, dan lebih menghargai perjalanan diri sendiri, barangkali itulah proud, bangga yang menumbuhkan. Tapi jika ia membuat kita mudah tersinggung, merasa paling layak, dan sulit mengakui keterbatasan, mungkin di situlah pride.
Tidak ada rumus kaku dalam hidup. Yang ada hanyalah kesadaran kecil yang terus dilatih. Merayakan pencapaian, tanpa mengeraskan ego. Menghargai diri, tanpa menutup ruang bertumbuh. Karena pada akhirnya, bangga yang paling sehat bukanlah tentang berdiri lebih tinggi dari orang lain, melainkan berdiri lebih jujur di hadapan diri sendiri.

