Penulis: Aryanto Dwi Sinergi
Editor: Fatwa Am ‘Azza KD
Di sebuah desa kecil di Madura, hiduplah seorang pemuda bernama Rahman. Setiap hari ia membantu bapaknya melaut. Hidup mereka sederhana. Rumah bambu di pinggir pantai, perahu kecil, dan penghasilan yang kadang cukup, kadang tidak.
Meski hidup pas-pasan, bapaknya selalu memegang teguh sebuah pepatah Madura:
“Pote Tolang Etembang Pote Mata.”
Rahman sering mendengar kalimat itu sejak kecil. Namun, ia belum benar-benar memahami maknanya.
Suatu malam, saat mereka duduk di depan rumah ditemani suara ombak dan angin laut, Rahman bertanya,
“Pak, apa artenah ‘Pote Tolang Etembang Pote Mata’?”
Bapaknya tersenyum pelan lalu menjawab,
“Man, kalimat jhâriyah benni ngajari oreng benyak carok. Tape ngajari cara ngajaga harga diri, kejujuran, ben martabat.”
(Man, kalimat itu bukan mengajarkan orang untuk suka berkelahi. Tapi mengajarkan cara menjaga harga diri, kejujuran, dan martabat.)
Rahman mendengarkan dengan serius.
Bapaknya kembali berkata,
“Oreng Madhura lebbi bhâgus mesken tape jujur, etembang sogi tape ngakan hak e oreng laen.”
(Orang Madura lebih baik miskin tapi jujur daripada kaya tapi memakan hak orang lain.)
Kalimat itu tersimpan kuat di hati Rahman.
Beberapa tahun kemudian, datang seorang pengusaha kaya bernama Haji Burhan ke desa mereka. Ia ingin membeli tanah warga untuk dijadikan tempat wisata dan gudang besar.
Banyak warga setuju karena tergiur uang. Uang yang ditawarkan tidak main-main, berjuta-juta rupiah.
Namun, bapak Rahman menolak menjual tanah warisan keluarganya.
“Tana’ riyah tak akan kaula juel.”
(Tanah ini tidak akan saya jual.)
Haji Burhan mencoba membujuk.
“Pak Karim, panjenengan bisa hidup nyaman kalau menerima uang ini.”
Namun bapak Rahman hanya tersenyum.
“Nyaman benni soal sogi.”
(Nyaman bukan soal kaya.)
Sejak saat itu, tekanan mulai datang kepada keluarga Rahman.
Beberapa warga mulai menjauhi mereka.
“Pak Karim terro deddih pahlawan,” kata sebagian warga.
(Pak Karim ingin jadi pahlawan.)
Rahman sebenarnya marah mendengar omongan itu. Tapi bapaknya selalu menenangkan.
“Sabar, Man. Oreng se jujur kadenng memang haros kowatt.”
(Sabar, Man. Orang yang jujur kadang memang harus kuat.)
Suatu malam, perahu mereka dirusak orang tak dikenal. Jaring dipotong dan mesin dihancurkan.
Rahman sangat marah.
“Pak! Engkok tak terro ngetek!”
(Pak! Saya tidak mau diam!)
Namun bapaknya memegang pundaknya.
“Mon ngelawan cara kotor, apa beddâna ben moso oreng jiyah?”
(Kalau melawan dengan cara kotor, apa bedanya kita dengan mereka?)
Rahman terdiam.
Keesokan harinya ia bekerja lebih keras membantu nelayan lain demi memperbaiki perahu mereka.
Meski lelah, ia tetap bertahan.
Suatu sore, salah satu pegawai Haji Burhan mendatangi Rahman.
“Rahman, jual beih tana rowa. Ramane ka’dinto bisa berobat ben nyaman.”
(Rahman, jual saja tanah itu. Bapakmu nanti bisa berobat dan hidup nyaman.)
Rahman diam cukup lama.
Lalu ia menjawab pelan,
“Tabuk kenyang tak mongken berarti mon ateh tak tenang.”
(Perut kenyang tidak akan berarti kalau hati tidak tenang.)
Pegawai itu pergi sambil tersenyum sinis.
Hari demi hari, keadaan semakin sulit. Musim ombak besar datang. Penghasilan nelayan menurun drastis.
Kadang Rahman dan bapaknya hanya makan nasi jagung dengan ikan asin.
Namun bapaknya tidak pernah mengeluh.
Suatu malam bapaknya berkata,
“Man, oreng se tak andik pa-apah bisa odi’. Tape oreng se tak andik harga diri, biasanah tak mongken e argeih sampek akhir hidupnah.”
(Man, orang yang tidak punya apa-apa masih bisa hidup. Tapi orang yang tidak punya harga diri biasanya tidak akan dihargai sampai akhir hidupnya.)
Rahman menunduk mendengar perkataan itu.
Beberapa minggu kemudian, badai besar datang menerjang desa.
Ombak tinggi menghancurkan bangunan milik Haji Burhan di pinggir pantai.
Warga panik menyelamatkan diri.
Di tengah hujan deras, Rahman mendengar suara anak kecil menangis dari bangunan yang roboh.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menerobos ombak.
Ternyata anak kecil itu adalah cucu Haji Burhan.
Rahman berhasil menyelamatkannya meski tubuhnya terluka terkena kayu.
Haji Burhan terdiam melihat kejadian itu.
Ia malu kepada dirinya sendiri.
Orang yang selama ini ia tekan justru menyelamatkan keluarganya.
Malam harinya, Haji Burhan datang ke rumah Rahman tanpa pengawal.
“Pak Karim, kauleh nyo’on seporah.”
(Pak Karim, saya minta maaf.)
Bapak Rahman memandangnya tenang.
Haji Burhan menundukkan kepala.
“Saya terlalu mengejar uang sampai lupa arti kemanusiaan.”
Bapak Rahman tersenyum kecil lalu berkata,
“Sogi bisa ecareh, tape harga diri mon sampek ejuel, tak gampang ebalikagi.”
(Kaya bisa dicari, tapi harga diri kalau sudah dijual, tidak mudah dikembalikan.)
Haji Burhan hanya diam.
Sejak saat itu, ia membatalkan pembelian tanah secara paksa dan membantu memperbaiki perahu nelayan yang rusak.
Desa kembali tenang.
Warga yang dulu menjauhi keluarga Rahman mulai sadar dan meminta maaf.
Rahman akhirnya benar-benar memahami arti pepatah yang selama ini diajarkan bapaknya.
Bahwa “Pote Tolang Etembang Pote Mata” bukan tentang kekerasan, melainkan tentang menjaga kehormatan, kejujuran, dan martabat hidup sampai kapan pun.
Maka dari itu, istilah tersebut terus hidup dan diwariskan dalam budaya masyarakat Madura sebagai pengingat bahwa harga diri tidak boleh ditukar dengan harta, jabatan, maupun kepentingan sesaat. Sayangnya, tidak sedikit orang di luar Madura yang memahami pepatah ini hanya sebatas carok atau kekerasan.
Padahal, makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih dalam. “Pote Tolang Etembang Pote Mata” mengajarkan bahwa manusia harus tetap memegang teguh kejujuran, kehormatan, dan martabatnya dalam keadaan apa pun. Sebab harta dapat dicari kembali, kedudukan dapat diraih lagi, tetapi kehormatan yang hilang tidak selalu mudah untuk dipulihkan.


