Reporter: Fathimatuzzahra dan Trianda Alivia

Editor: Fatwa Am ‘Azza KD

FORMA (08/05) – Penyelenggaraan Pesta Pekan Olahraga (PESTAPORA) yang digelar Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) memicu polemik akademik. Kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 4 hingga 7 Mei 2026 tersebut bertepatan dengan jadwal perkuliahan aktif di lingkungan FUF.

Salah satu peserta lomba cerdas cermat, Chisnu, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut.

“Saya bisa lebih memahami beberapa mata kuliah lain dalam lomba cerdas cermat kemarin. Jadi bukan hanya politik Islam yang menjadi materi saat itu, tetapi juga beberapa materi dari mata kuliah prodi lain yang bisa kita diskusikan bersama,” ujarnya.

Meski demikian, pelaksanaan kegiatan di tengah jadwal perkuliahan juga menuai kritik dari sebagian mahasiswa. Faqih, salah satu peserta lomba futsal, menilai waktu pelaksanaan kegiatan kurang efektif karena bertepatan dengan jam perkuliahan aktif.

“Jika bisa dilaksanakan setelah jam kuliah mungkin lebih efisien. Kan kewajiban mahasiswa itu kuliah, jadi memang mahasiswa harus lebih dominan dalam perkuliahannya,” ungkap Faqih.

Ia juga menyoroti kondisi teknis pelaksanaan kegiatan yang dinilai belum sepenuhnya kondusif.

“Menurutku, Pesta Pora kemarin itu kurang kompak, baik panitia maupun pesertanya, jadi masih belum terkondisikan dengan baik,” tambahnya.

Tidak hanya dari kalangan mahasiswa, beberapa dosen juga merasakan dampak pelaksanaan kegiatan terhadap proses pembelajaran di kelas. Banyak siswa meninggalkan kelas karena mengikuti kegiatan sebagai peserta maupun panitia.

Salah satu dosen Program Studi Pemikiran Politik Islam (PPI), Khairul Yahya, bahkan memilih menunda perkuliahan hingga acara selesai agar seluruh mahasiswa dapat mengikuti kelas secara lengkap.

“ Tidak perlu izin, harus masuk semua. Saya tunggu acaranya selesai, kita masuk setelah acara. Kapan selesainya?” ucapnya saat banyak siswa izin mengikuti Pesta Pora sebelum perkuliahan dimulai.

Lebih lanjut, Hasan Mahfudz, selaku dosen mata kuliah Hadits Tahlili pada hari itu juga meniadakan presentasi kelas karena siswa yang dijadwalkan menjadi pemateri berhalangan hadir akibat mengikuti kegiatan PESTAPORA. Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya dapat dikondisikan melalui komunikasi yang lebih awal.

“Intinya komunikasi. Seharusnya ada komunikasi dari H-berapa hari sebelumnya, jadi saya juga bisa menyesuaikan pembelajaran agar tetap kondusif dan tidak mendadak seperti ini, kasihan siswa yang lain juga,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *