Reporter: Fatkhur Rozaq Al-Akbar dan Muhammad Bachrul Ulum

Editor: Imdi Fahma

FORMA (09/03)– Sejumlah elemen masyarakat yang terdiri dari mahasiswa, Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), dan berbagai komunitas aktivis berkumpul di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (09/03/2026). Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD).

Massa memulai aksi dengan berkumpul di kawasan Basuki Rahmat pada pukul 13.00 WIB, sebelum melakukan long march ( berjalan kaki) menuju titik utama di depan Grahadi. Selain diisi dengan orasi-orasi dari perwakilan pekerja dan mahasiswa, aksi ini juga menampilkan pertunjukan teater yang menggambarkan realitas penindasan terhadap perempuan di berbagai sektor.

Anggota FSPMI, Eka Ernawati, menegaskan bahwa aksi IWD ini merupakan momentum untuk menyadarkan masyarakat terhadap ketimpangan sosial yang masih dialami perempuan, terutama di lingkungan kerja.

“Banyak dari kawan-kawan kami yang mengalami ketimpangan gender seperti gaji, jam kerja, dan lain-lain. Kami sebenarnya ingin mengajak semua perempuan untuk menyuarakan unek-uneknya agar mendapatkan perlindungan,” ujar Eka.

Senada dengan Eka, Nudia dari GMNI Unesa menyatakan bahwa keterlibatan mereka bertujuan untuk membela hak-hak perempuan yang tertindas. Ia menilai kebijakan negara saat ini belum sepenuhnya berpihak pada pekerja wanita.

“Saya cukup melek dengan keadaan negara ini yang kekurangan pekerja perempuan. Kemudian terkait undang-undang kebijakan terkait perempuan belum sepenuhnya mendukung terhadap pekerja wanita,” ungkapnya.

Sebagai penutup rangkaian aksi, Bria ssalah satu massa menyampaikan tuntutan agar pemerintah lebih responsif terhadap isu gender dan menolak segala bentuk diskriminasi.

“Harapan ke depannya pasca demonstrasi ini adalah pemerintah lebih terbuka terhadap isu-isu tentang gender dan menolak adanya ketimpangan gender. Kami juga mengharapkan terbitnya undang-undang yang lebih tegas mengenai kasus-kasus seperti KDRT, kekerasan seksual, hingga pedofilia. Kami akan terus mengawal kasus-kasus seperti itu,” tegas Bria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *