Penulis: Nabila Khusna

Ia duduk di bangku taman yang setia menua bersamanya,

memandang senja seperti menonton film lama tanpa suara.

Di ranselnya ada buku catatan penuh coretan tak selesai,

karena setiap senja selalu menunda tanda titik.

 

Langit jingga tampak seperti amplop raksasa,

dikirim Tuhan tapi tak pernah berisi alamat jelas.

Perempuan itu tersenyum dan berkata pelan,

“Mungkin aku hanylah catatan kaki di tubuh senja.”

 

Bayangannya merayap di aspal, mencari jalan pulang.

Kadang tersandung batu, kadang tercebur selokan.

Ia tertawa kecil sebab sadar pada akhirnya,

bahkan bayangan pun bisa salah arah.

 

Ia menulis do’a di udara dengan ujung jarinya,

lalu membiarkannya hilang sebelum sempat terbaca.

“Mungkin beginilah hidup,” gumamnya,

sebuah kalimat panjang yang lupa diberi koma.

 

Dan ketika matahari akhirnya pamit ke laut,

ia tak merasa ditinggalkan, justru merasa dipanggil.

Senja adalah pintu rahasia yang selalu terbuka,

meski tak ada kunci, ia tetap berani melangkah masuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *