Peran Pemuda dalam Mewujudkan Euforia Perdamaian

Kompasiana, google.com

Judul tulisan ini ada kaitannya dengan seminar yang diadakan oleh kawan-kawan PMII Rayon Ushuluddin pada Jumat  (23/03) kemarin, bahwa pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam dunia perpolitikan. Karena politik itu sendiri juga memiliki peranan penting untuk sebuah negara, yang berfungsi sebagai bentuk pertahanan dan tatanannya. Berbicara politik mungkin akan terlintas sebuah stigma negatif seperti money politic, ajang mencari kedudukan, kehormatan bahkan kekayaan. Stigma-stigma negatif itu telah melekat dalam pikiran masyarakat luas, bahkan dalam pikiran pemudanya. Maka tak khayal jika sebagian besar pemuda atau bahkan mahasiswa membangun anti-pati pada politik. Tentulah seminar bertema “Politik Penggembira; Peran Pemuda dalam Mewujudkan Eforia Perdamaian” ini  sangat perlu diselenggarakan.

Mas Boby selaku narasumber yang juga merupakan alumni aktivis PMII sekaligus salah satu dosen UINSA mengatakan bahwa pada era millenial ini masyarakat memiliki tiga kategori yakni, confiden (percaya diri), creative (pemilik daya cipta), connected (memiliki koneksi). Dimana hal tersebut diharapkan bisa membantu mewujudkan perpolitikan bangsa Indonesia menjadi lebih baik sehingga terwujudnya politik santun dan beradab. Pernyataan tersebut menuai pertanyaan yang masih menyinggung masalah money politic yang memang merupakan masalah yang sangat sensitif. Kurang lebih seperti ini pertanyaan yang dapat penulis tangkap, “Money politic rasanya akan sangat susah untuk diatasi di Indonesia, lantas bagaimana kami sebagai pemuda untuk mengatasinya? Belum lagi hampir setiap orang yang awalnya baik kemudian bergabung dalam dunia perpolitikan mereka ikut tercemari juga, bagaimana kita menanggapi hal tersebut?”

Menghapus money politic menurut Bobby memang merupakan suatu hal yang khayal dalam dunia perpolitikan. Jangankan pihak pemerintah, masyarakat pun setiap harinya dapat dipastikan tak terlepas dari yang namanya money politic. Contoh, ketika terkena tilang polisi. Masyarakat lebih memiliki membayar langsung daripada mengikuti sidang. Itu masih salah satu contoh dari berbagai contoh lainnya.

Arzeti Bilbina Huzaimi, SE, M. AP yang merupakan kosmisi X DPR RI yang juga turut menjadi narasumber dalam seminar tersebut memberikan sebuah tanggapan atas permasalahan tersebut, ia lebih berpesan untuk itu, “money politic memang sering terjadi, akan tetapi di sini kita pemuda tidak harus berjauhan dengan politik, kita harus lawan itu, harus berani membenahi. Sebagai agent of change pemuda, khususnya mahasiswa bukan hanya memperbaiki diri sendiri, namun juga masyarakan. Bukan hanya untuk kepentingan sendiri, namun kepentingan masyarakat.”

Pemuda tak pantas anti-pati terhadap politik. Karena estafet pemerintahan selanjutnya akan tiba di tangan-tangan mereka. Seyogiyanya mulailah membenahi “politik” dalam dirinya sendiri, kemudian pada perpolitikan negara. Buang anti-pati, tumbuhkan simpati. Pemuda layak mewujudkan politik yang damai, bersih dan terpercaya. Maka, mulailah memahami dan mencari sistem apa yang harus dibenahi untuk membersihkan perpolitikan yang curang, sehingga mampu kembali menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada dunia politik.

Penulis;Mufida (kru LPM Forma ’16)

Editor: Ulya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *