Penyebab Kuota Internet Kampus Tidak Merata

Kru Magang LPM Forma melakukan wawancara dengan Ade Taufikurrachman (kiri)

Reporter: Habibatun Nuriyyah, Zamzam Qodri

Editor: Habib Muzaki

 

FORMA (18/11) – Isu tidak meratanya pembagian kuota internet dari kampus beredar di kalangan mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Beberapa mahasiswa mengeluh tidak mendapatkan kuota sejak awal perkuliahan semester ganjil, tepatnya tanggal 28 September 2021. Hal ini dikarenakan salah satu provider tidak dapat memenuhi persyaratan kontrak yang diajukan oleh pihak UINSA serta kesalahan beberapa mahasiswa dalam penginputan nomor handphone (HP) di portal Siakad UINSA.

Ade Taufikurrachman selaku Kepala Subbagian Rumah Tangga UINSA menjelaskan bahwa untuk melakukan kontrak dengan beberapa provider, menggunakan dana murni dari pusat. Kemudian pihaknya melakukan kontak dengan rekanan dari setiap provider untuk melaksanakan kesepakatan kontrak dan pengiriman data nomor HP mahasiswa. Rekanan sendiri berarti perwakilan dari setiap provider untuk membantu proses pemerataan kuota kampus.

Adapun persyaratan yang diajukan dalam kontrak adalah dengan harga maksimal Rp. 50.000 bagi setiap mahasiswa dengan deadline administrasi sesuai aturan. Namun, dari semua provider hanya rekanan dari pihak Telkomsel yang tidak sanggup memenuhi persyaratan kontrak.

“Kami sudah bekerja sama dengan semua provider, namun dari pihak Telkomsel tidak sanggup memenuhi persyaratan kontrak yang kami ajukan,” ujar Ade.

Ade juga menjelaskan bahwa rumitnya proses kesepakatan kontrak dikarenakan rekanan Telkomsel yang tidak menyanggupi proses panjang dari pihak Telkomsel pusat dengan tenggat waktu yang ditetapkan pihak kampus.

Sedangkan tenggat waktu dari pihak kampus menyesuaikan dengan aturan anggaran dana murni dari pusat. Oleh karena itu, dikarenakan pihak kampus tidak ingin bermasalah dengan pembayaran maka pihak kampus memilih untuk menunda pemerataan kuota dari provider Telkomsel.

Sesuai data yang diperoleh dari Siakad UINSA, memang hanya beberapa mahasiswa dari 24.253 mahasiswa yang memperoleh kuota kampus. Dalam problem ini, Ade menegaskan bahwa hal tersebut bukan hanya disebabkan oleh pihak provider Telkomsel saja, namun juga dikarenakan kesalahan beberapa mahasiswa dalam hal penginputan data nomor HP aktif.

“Banyak juga mahasiswa yang salah dalam penginputan nomor HP. Ada mahasiswa yang tidak menginput ulang nomor yang baru. Dan, ada yang terbalik antara pengisisan nomor telepon dan nomor Whatsapp. Inilah yang juga menjadi sebab beberapa nomor HP dengan provider selain Telkomsel tidak sukses dalam penerimaan kuota,” tambahnya.

Untuk mengatasi problem ini, Ade mewakili pihak kampus akan melaksanakan perancangan ulang kontrak pada awal tahun 2022 untuk pemerataan kuota yang dianggap gagal pada semester ganjil ini. Ade juga meminta maaf atas kurangnya pelayanan dari pihak kampus untuk mahasiswa.

“Untuk kedepannya kami akan melakukan perancangan ulang kontrak pada awal tahun 2022 agar kuota kampus bisa merata. Kami juga meminta maaf atas kurangnya pelayanan baik dari pihak kampus untuk mahasiswa,” tutup Ade.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *