Partikel

Doc: Google

Oleh: Sabitha

“Bersiaplah!”

Suasana di ruang eksperimen Damitric Agency sungguh menegangkan petang ini. Suara menggema dari mikrofon itu milik Profesor Velmotte, menatap serius lima remaja yang berdiri di tengah ruang eksperimen melalui layar raksasa di sebuah ruangan khusus. Berharap agar mereka berhasil dan segera kembali. Sebentar lagi, mereka akan menjalankan misi rahasia Damitric Agency untuk kembali ke 1000 tahun lalu, mengambil beberapa biji tanaman dan tanah subur yang kini jarang, dan mengubah kondisi bumi masa kini dengan melakukan sesuatu di masa lalu. Ya, mengubah pemandangan yang mengerikan di luar sana itu: seisi kota yang gersang tanpa diakari sebatang tanaman pun meski hanya semak belukar ataupun tanaman berbunga, tanah yang retak kekeringan dengan gedung-gedung pencakar langit yang terletak berhimpitan di atasnya, udara yang pekat akibat kadar oksigen yang semakin menipis, radiasi UV yang menyengat jalan magnetik penuh debu, dan asap-asap industri yang hitam dan selalu memenuhi langit siang hingga kelabu.

“Tim Echo, kuharap kalian dapat menyelesaikan misi ini dengan baik demi bumi ini! Kuharap kalian melakukan yang terbaik. Berjuanglah!” tambah Velmotte. Tim Echo menunduk hormat kepada sosoknya yang terlihat di layar raksasa, lantas mereka mulai mengaktifkan portal waktu dengan gelang serbaguna yang ada di pergelangan tangan masing-masing. Mereka pun berubah menjadi piksel-piksel kecil yang bergerak menuju kekosongan udara satu per satu. Dimulai dari Chloe, Robert, Fany, Alyssa, dan Damien. Setelah sepersekian detik berlalu cepat, sebuah titik cahaya di ujung kegelapan akhirnya muncul. Titik itu semakin membesar dan menyilaukan mata.

Portal mereka akhirnya terbuka di dalam sebuah gua. Masih terbawa suasana di dalam portal yang penuh guncangan, mereka pun sedikit terhuyung. Chloe mengedarkan pandangan. “Robert? Fany? Alyssa? Damien?” panggilnya lirih dibersamai rasa mual yang berangsur hilang. Semuanya lengkap dan mengangguk bersamaan. Ia pun mengamati langit yang penuh dengan bintang, pertanda hari sudah larut. Juga membuka layar hologram yang menampilkan lokasi Indonesia sebagai tempat mereka berpijak kali ini. Suatu tempat yang kerap dielu-elukan dalam mata pelajaran Sejarah sebagai Zamrud Khatulistiwa dan Heaven Earth di masa lampau. Diliriknya jam yang menunjukkan tepat pukul 10 malam.

Chloe menatap jauh ke depan sana. “Kita ada di Indonesia, Kawan-kawan,” ungkapnya. Lihatlah, di dalam gua ini ada air terjun yang eksotis. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terpampang sebuah papan besar bertuliskan Air Terjun Madakaripura. Hanya Robert dan Fany yang bisa memaknai tulisan itu karena mereka berasal dari Indonesia. Robert menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Wow, aku pikir kita akan tetap berpetualang di Prancis,” gumamnya. Fany berkacak sebelah pinggang, menatap kagum air terjun yang mengalir deras di hadapan mereka itu. “Mungkin kita memang harus menyelesaikan misi di negeri ini…”

Suasana begitu lengang, tak ada seorang pun yang bermain-main di sini karena potongan malam benar-benar telah gulita. Namun, tetap saja panorama air terjun memanjakan atma mereka. Bagaikan paradiso! Mereka juga baru menyadari bahwa air terjun ini terletak di dalam sebuah gua yang begitu luas, asri oleh semak belukar dan lumut yang lebat. Udara berhawa sejuk tanda oksigen belum sekrisis yang terjadi pada tahun 3020. Ada lubang yang menganga besar di ujung langit-langit gua, mengemas langit malam yang berpendar-pendar oleh bintang itu dengan bentuk tak beraturan. Bulan yang bersinar menggantung anggun di bumantara yang redup. Cipratan dari ribuan liter air yang berjatuhan merdu dari langit-langit gua itu membasahi kulit-kulit mereka yang belasan tahun dehidrasi. “Huah… Beginikah rasanya udara dan air segar?!” Fany bergumam kegirangan sembari terpejam dan merentangkan kedua tangannya ke arah udara.

“Ayolah, Fany. Jangan kampungan!” Damien berkomentar sembari meregangkan ototnya. Fany melotot, “Hei! Siapa yang kau panggil kampungan?!”

“Jangan berisik, Fany. Aku ingin menikmati semua ini.”

“Bagus. Sekalian saja tidak usah ikut kami pulang ke tahun 3020!”

Robert tiba-tiba ikut bergabung ke dalam obrolan. “Jangan! Nanti Damien melumut dan menjadi buruk rupa,” guraunya. Semuanya justru hanya terdiam mendengar lelucon itu. “Garing.” ujar Fany, membuat tawa Chloe dan Damien pecah karena tidak tahan melihat raut mukanya yang datar. “BWAHAHAHA!”

Ckrik! Mendengar itu tanpa sengaja, Alyssa yang sedari tadi hanya diam jadi celingak-celinguk mencari sumber suara. Mencurigakan.

“Kau tidak tahu seni bergurau, ya, Rob?” tambah Chloe. “Hahaha! Ya Ampun. Semenyedihkan itukah mendekam di penjara sampai fungsi otaknya menurun??” timpal Fany. Sementara ketiga temannya masih terbahak, Robert justru diam saja. Tanpa mereka sadari, kata-kata itu begitu menusuk hingga lelucon itu menjadi gurauan pertama dan terakhirnya seumur hidup. “HAHAHAHA–”

Ssstt. Aku mendengar suara aneh!” potong Alyssa. Mereka mulai memperhatikan sekitar. Nampak seorang remaja sebaya dengan kamera kecil yang tergantung di lehernya sedang mematung karena kaget dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba. Sebenarnya sudah sejak tadi ia bengong menatap lima orang asing itu, tetapi baru beberapa detik lalu ia mengambil foto mereka diam-diam. Sekujur tubuhnya gemetaran karena ketahuan. Ia mencoba berlari sambil melangkah mundur. Namun, ia tersandung sebuah batu.

Chloe dan yang lain segera memasang alat bantu penerjemah di telinga—kecuali Robert dan Fany—lantas berlarian membantu pemuda itu berdiri. Ia hampir menjerit, namun Robert sudah lebih dulu membungkam mulutnya. “Ssstt, jangan berteriak. Kami tidak akan melukaimu.” Pemuda yang masih shock itu akhirnya mengangguk seraya mengatur napas yang tersengal. “Namaku Robert,” ujar Robert memperkenalkan diri. “Yang ini Chloe. Ini Fany. Ini Alyssa. Dan, yang terakhir ini adalah Damien,” lanjutnya.

“Baiklah… Namaku Satya.” sahut pemuda itu, lalu berdiri dengan canggung dan membenahi pakaian yang lusuh ternodai serpihan tanah basah. Seluruh anggota Tim Echo mengangguk-angguk. “Siapakah kalian sebenarnya? Mengapa tadi tiba-tiba muncul dari dinding gua itu?” tanya Satya memastikan.

“Kami adalah penduduk bumi ini yang datang dari masa depan, tahun 3020. Yang tadi itu namanya portal waktu,” jawab Chloe mewakili seluruh tim. Satya mengerutkan dahinya. “Benar-benar sulit dipercaya.”

Robert ikut menjelaskan. “Yah, begitulah. Kami datang ke sini untuk menjalankan misi kami dan mengubah masa depan.”

Satya akhirnya menawarkan kepada kelima anggota Tim Echo itu untuk beristirahat sejenak di vila yang disewanya sembari menjelaskan beberapa hal lain. Termasuk berdiskusi mengenai lokasi yang tepat untuk menyelesaikan misi Profesor Velmotte. “Kalian datang di saat yang tepat. Manusia di masa kini mulai bertindak semaunya. Sampah di mana-mana, air sungai dan laut tercemari, juga hutan-hutan banyak dibakar dan digunduli! Keterlaluan, bukan?” Satya bercerita.

Sembari termenung, Chloe menimpali ceritanya. “Itu dia yang harus kita perbaiki. Mungkin di masa kini dampaknya belum terlalu kelihatan, alam masih terlihat baik-baik saja, masih ada keindahan yang bisa dinikmati. Tapi, bagaimana dengan kondisi bumi ini 1000 tahun lagi bila mereka tetap egois? Atau bahkan lebih lama dari itu? Bumi akan hancur…”

“Aku akan membantu sebisaku. Sekarang kalian bisa bermalam dulu di sini, besok jam 9 pagi kita akan pergi ke toko Raima Garden. Di sana mereka menjual banyak bibit tanaman, kalian bisa membeli seluruhnya!” pungkas Satya. Kelima anggota Tim Echo mengangguk mengerti.

Esok hari ketika matahari sudah meninggi, mereka segera berganti pakaian setempat untuk menyamar, namun mengecualikan gelang serbaguna itu. Satya beranjak keluar vila setelah semuanya siap dan diikuti oleh Chloe, Robert, Fany, Alyssa, dan Damien. Mereka berangkat menaiki mobil jeep sewaan Satya. “Wow, kendaraan di zaman ini benar-benar kuno,” celoteh Damien. Satya hanya tersenyum lebar, “Di tahun 1900-an, kendaraannya jauh lebih kuno dibandingkan mobil ini.”

Jalanan sudah ramai. Murid-murid berseragam, pegawai kantoran, penjual kaki lima, dan yang lainnya berdesakan di jalan raya dengan kendaraannya masing-masing. Bayang-bayang pegunungan menghiasi cakrawala di sepanjang perjalanan. “Kau suka memotret, Satya?” tanya Robert, hanya untuk basa-basi. Satya yang sedang memegang kemudi sedikit menimang-nimang kamera yang selalu ia kalungkan di lehernya itu. “Yah, kurasa begitu. Kemarin malam, aku ke Air Terjun Madakaripura untuk mengambil beberapa foto.”

“Wah. Itu hobi yang seru. Di tempat kami, tidak ada pemandangan dan keindahan yang bisa diabadikan oleh kamera. Tidak ada yang menarik, yang ada justru pemandangan yang mengenaskan dan membuat siapapun merasa ‘lebih baik aku mati’ ketika melihat fotonya.” Satya tertawa. “Apakah di sana separah itu?”

“Iya!”

“Itu mengerikan, Satya. Kok kamu malah tertawa, sih?” protes Fany. Satya terkekeh ke arah spion tengah. “Maafkan aku. Peace!

Mereka sampai di depan toko Raima Garden. Sebelum turun dari mobil, Satya mengingatkan. “Astaga, aku hampir lupa. Kalian perlu uang untuk membeli semuanya. Ada, kan?” Chloe menepuk jidatnya. “Sial. Kami tidak membawa uang dalam bentuk rupiah. Lagipula, di masa kami, uang-uang memiliki bentuk yang jauh berbeda dan akan membuat mereka curiga!”

Fany berdeham bangga dan merangkulkan tangannya ke bahu Chloe serta Damien yang duduk di kanan-kirinya. “Ehem… Kalian tahu kan, aku adalah si jenius dalam tim ini. Aku selalu membawa barang-barang hasil eksperimenku di dalam tas. Mau lihat?” Perhatian mereka tertuju kepada Fany dan memandang penuh harap. “Ta-da! Alat pencetak benda tiruan! Alat ini kurakit sekitar dua tahun yang lalu. Penuh perjuangan, lho.” Chloe, Robert, Alyssa, dan Damien tersenyum cerah. “Profesor Velmotte tidak salah memilihmu untuk tim ini! Dasar jenius!” seru Damien. Fany terlihat senang mendapatkan pujian itu. Mereka pun segera meminjam selembar uang milik Satya dengan nominal terbesar dan mencetaknya hingga miliaran rupiah. “Sempurna! Mari kita masuk!” ajak Chloe pada akhirnya.

Udara sejuk pagi hari membelai lembut rongga pernapasan mereka. Sejak dari halaman depan, toko ini benar-benar asri, banyak tanaman hijau di sana-sini. Pohon-pohon berbuah juga tumbuh tinggi menghalau cahaya matahari, menciptakan bayangan-bayangan teduh di sepanjang koridor yang mereka lewati. Kelima anggota Tim Echo menganga dan menatap takjub. Mereka menemui seorang wanita tua yang sedang menghitung uang di meja kasir. “Permisi, apakah Anda adalah pemilik toko ini?” tanya Satya. “Iya, benar. Ada yang bisa dibantu?” sahut wanita tua itu.

Anu… Kami berenam akan membeli seluruh jenis bibit dan pupuk di toko ini yang belum terjual kepada pembeli lain beserta tanahnya!” pinta Satya dengan penuh percaya diri. Sang pemilik toko terkejut namun segera mengemas pesanannya.

Sepulang dari sana, mereka tersenyum lega dan berbincang santai di dalam mobil. “Hei, Satya. Kau senang mengambil foto, bukan? Apakah kau terkenal juga?” tanya Fany. “Ya, aku lumayan terkenal di Instagram dan channel Youtube-ku.” jawab Satya. Dahi Fany mengerut setelah mendengarnya. “Apa itu? Ah, lupakan. Begini, bagaimana kalau kita membuat video, lalu kita sosialisasikan kampanye ‘Menjaga Bumi’ agar lebih awet hingga 1000 tahun kemudian, bahkan jika mampu, selamanya?” Yang lain menjentikkan jari dan manggut-manggut tanda setuju.

“Ide bagus!” Satya menyimpul senyum. Mereka pun merealisasikan ide Fany dan video itu benar-benar viral hingga ke seluruh dunia dalam waktu kurang dari seminggu. Salah satu pesannya adalah “Percayalah, perbuatan baik untuk bumi sekecil apapun itu, akan sangat berdampak bagi bumi di masa yang akan datang.” Melihat isi konten yang bagus dan menginspirasi, orang-orang mulai mengurangi sampah plastik, menyemarakkan kembali program sajisapo dan reboisasi, hingga menjaga lahan-lahan di sekitar rumah mereka agar tetap lembap dan subur.

Tim Echo saling berpelukan dengan Satya. Pulang ke tahun 3020 dengan selamat. Profesor Velmotte memberikan penghargaan kepada mereka dan memublikasikan semua itu kepada dunia. Menanam biji-biji tanaman di seluruh kota dan terus mengamati pertumbuhan serta perkembangan yang terjadi sebagai bahan penelitian besarnya. Kadar oksigen di udara, kadar bersihnya air, juga yang lainnya. Negara-negara lain rela membeli biji-biji itu dengan harga mahal. Partikel-partikel bumi di seluruh penjuru dunia mulai berkedip-kedip dan berubah bentuk seketika. Satu per satu biji yang ditanam pun tumbuh dengan cepat. Tanah-tanah yang gersang mulai menghijau dengan sendirinya. Air-air yang mengering di sungai, danau, hingga lautan mulai meninggi dan berwarna biru segar. Segalanya seperti timelapse yang menampilkan banyak kejadian dalam hitungan detik saja. Profesor Velmotte dan Tim Echo tersenyum lega.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *