Mental, Iman, dan Amanah (2)

Penulis: Luluk Farida

Editor: Sabitha Ayu Nuryani

Sumber: Pinterest.

“Aku takut…” katanya seraya bergumam. “Dia jahat, dia jahat, dia jahat,” lanjutnya dengan memukul kepalanya.

Gimana?? Sudahkah orangtua menyadari bahwa anaknya terkena sakit mental? Banyak orangtua yang masih menyepelekan kesehatan mental anaknya. Larangan yang diutarakan, omelan yang membuat hati anaknya sakit, pukulan yang membuat tubuh anaknya memar dan menciptakan rasa takut bahkan trauma terhadap anaknya.

“Kamu itu main terus!!! Belajar yang bener, jangan main terus, liat itu anak tetangga pinter gak pernah keluar rumah. Sepupumu sendiri itu lo rajin,nilainya bagus lebih baik dari kamu!!” kata ayahnya. “Ampun, Yah… Ampun yah…” katanya sambal terisak.

Ayahnya terus memukul putrinya dengan gagang sapu bahkan sampai patah. Kekhawatiran dan emosi menjadi satu. Emosi yang semakin menjadi ketika anaknya hanya bisa diam jika ayahnya sudah berbicara. Suara lantang itu sampai ke seluruh rumah. Satu kesalahan, dia terkena pukulan.

Anaknya terus merasa takut, diam, dan menjadi pribadi yang tidak bisa akrab dengan sang ayah kembali. Sifat temperamental sang ayah yang selalu ia takuti, disalahkan oleh sang ibu dan kakak, dan dijauhi oleh teman-temannya harus ia rasakan.

Di umurnya yang telah beranjak remaja pun ia harus menerima sikap yang sama dan berakhir menjadi pribadi emosional, baik jika kenal dengannya, cuek jika pertama bertemu, tidak bisa menentukan pendapat yang benar, dan suka memendam masalahnya sendiri.

“Hei, kenapa? Are you okay?” kata Nadia.

No, I’m not okay.” kata Rida. Nadia merangkul Rida dengan lembut dan mendengar suara isakan dari Rida. “Gapapa, orangtuamu mungkin lagi cape kok,” kata Nadia. Setelah cukup tenang, Rida menegakkan tubuhnya. “Thanks, setidaknya berkurang.” kata Rida sambil mengusap sisa air matanya. Nadia pun tersenyum “Gapapa, nangis aja sampai kamu merasa bebanmu berkurang, okay cantik, ya sudah kita lanjutin yuk tugasnya.”

Nadia adalah seorang teman yang sudah dikenal oleh Rida semenjak dia masuk kelas, di mana dia sebenarnya cuek dengan sekitar dan selalu lama dalam berpikir.

Ting…

“Rida, nanti jangan lupa, pulang sekolah kumpul dulu, ya?” kata Febri. “Ya, kabari yang lain.” ujar Rida.

Febri teman seorganisasi dengan Rida, dia yang harus menjadi penengah di antara teman-temannya yang lain. Dan berakhir dia harus berpihak pada satu kubu, cukup menyakitkan dalam pertemanan. Dia juga belum bisa mengambil keputusan secara tepat.

Jam pembelajaran pun berlangsung dengan lancar hingga pulang sekolah dan siswa pun mulai keluar dari kelas untuk pulang ke rumah masing-masing ataupun memiliki keperluan sendiri.

Rida dan teman-temannya pun berkumpul di ruangan untuk melanjutkan tugas masing-masing sie ataupun inti. Rida mendapatkan amanah yang cukup berat yakni ketua acara diklat. Cukup membuat tertekan terhadap apa pun, ditambah lagi banyak teman-teman Rida yang magang (PKL). Pembagian waktu serta prioritas diuji di waktu seperti ini. Sebenarnya Rida mendapatkan tugas bendahara, namun karena ketua yang awal terpilih memiliki kendala keluarga, akhirnya Rida dipilih sebagai ketua.

Menghadapi pembina, pembagian transportasi yang digunakan, adik kelas yang bertanya, kendala tempat yang harus bersandingan dengan sekolah lain, surat izin magang yang tidak bisa keluar, teman-teman yang tiba-tiba miss komunikasi, dan paling akhir serta ujung puncaknya adalah dresscode yang belum sampai pada saat H-1 yang mengharuskan kakak kelas dan salah satu teman Rida harus ke pusat pengiriman.

Pada saat hari H, mereka berkumpul di stasiun untuk berangkat dengan ketentuan untuk pendampingan dengan tiket. Dan tepat jam 9 pagi, mereka masuk ke dalam gerbong dan berangkat. Rida mengecek satu persatu gerbong yang dimasuki oleh para peserta yang telah hadir.

Sesampainya di tempat diklat, Rida dan teman-temannya mulai mempersiapkan semuanya dan memulai acaranya. Materi, pembelajaran diri, amanah, tanggung jawab, dan harga diri telah diterapkan selama tiga hari di sana. Puncak dari keindahannya adalah ketika menaiki sebuah lereng yang dekat dengan tempat acara mereka.

“Kamu gimana sih, Dek, amanah hilang, tanggung jawab hilang, harga diri juga hilang!! Kamu mau harga dirimu diinjak-injak? Ini juga tanggung jawab hilang! Kamu gatau perjuangan mbak-masmu ambil gimana?!” sarkas Rida. “Udahlah, Da, dia gak bakal tau kalo ngga ngerasain sendiri… Udah kamu ngurusin lainnya aja, Da, biar dia sama aku aja.” ucap teman Rida.

Ketika hari terakhir di mana sudah ada beberapa siswa yang terpilih dan sudah menjadi target sebagai pemimpin organisasi ini selanjutnya, telah berkumpul di lapangan semua dengan adek kelas serta alumni yang sudah hadir pada acara tersebut. Rida, Febri, dan kedua temannya telah terpilih sebagai calon pemimpin karena mendapatkan guyuran air untuk awal memahami amanah dan tanggung jawab yang lebih besar.

Setelah acara siraman, mereka bersiap untuk pulang dan mengalihkan para peserta untuk menaiki kendaraan menuju stasiun dan kembali ke kota asal mereka. Perjalanan mereka lewati dengan mengecek kembali adik kelasnya. Sesampainya di kota asal, mereka bersiap dengan semua jemputan dan pulang ke rumah masing-masing.
Rida dan beberapa temannya harus mengembalikan beberapa barang yang dibawa pada acara ke sekolah mereka. Memesan sebuah mobil online untuk mengangkut semua barang tersebut. Sesampainya di sekolah, mereka mengecek kembali untuk memastikan barang tidak ada yang tertinggal.

“Gimana kalo kita makan bakso dulu, biar ada tenaga lagi nih.” kata kakak kelas Rida. “Eum, boleh, Mbak, tapi aku bingung pulangnya gimana?” tanya Rida. “Ah iya, kamu jadi dibantu sama mbak Jihan kan? Gapapa dengerin aja okay ntar,” jawab kakak kelasnya. Mungkin Rida takut untuk menghadapi sang ayah yang seperti itu. Mereka pun makan dengan bercengkerama. Dan Rida menelepon kakak kelasnya yang akan membantunya nanti.

Rida pun memesan ojek online dan pulang ke rumah. Dia terlalu takut untuk hal seperti ini. Terlalu lemah bila berhadapan dengan sang ayah. Dan kakak kelasnya pun datang untuk memberi sedikit penjelasan terkait masalah yang terjadi.

“Saya ya, Mbak, sudah bilang sejak dia SMP, berhenti ikut-ikutan itu, belajar yang bener, bahkan dia ninggalin magangnya demi ikut acara ini?!” kata ayah Rida dengan nada ketus. “Iya, Pak, Rida sendiri terpilih sebagai ketua dan dia diharuskan hadir pada acara tersebut.”  ucap mbak Jihan. “Saya ga peduli ya, Mbak, pokok nilai Rida harus bagus dan tidak ada kendala.” kata ayah Rida. “Ya udah, Dek, sekarang kamu harus ningkatin nilai, ya.” kata mbak Jihan. “Baik, saya pamit ya, Pak.” lanjutnya.

Mbak Jihan pun berpamitan pulang dan sedikit berpesan pada Rida, “Dek, udah turutin orangtuamu aja ya, kamu kalo mau ikut rapat atau acara lainnya pamit ya biar orangtuamu percaya.” Setelah kepulangan kakak kelasnya itu, Rida menuju kamarnya untuk menangis karena ayahnya yang masih saja seperti itu.

Masih ada tanggung jawab lebih besar yang harus kauhadapi, batin Rida.

 

To be continued…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *