Menjadi Pembela Samudra, atau Perusaknya?

Sumber Google

 

Setiap tahun, manusia bisa menggunakan plastik hingga sebanyak 78 juta ton. Dari jumlah tersebut, hanya 2% saja yang didaur ulang dan 32% diketahui masuk ke dalam ekosistem darat yang kemudian masuk juga ke dalam laut. Tak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini laut kita sedang rusak. Entah karena polusi, sampah, ataupun limbah. Harus dengan apalagi bumi menegur kita? Lihatlah lebih jeli, produksi ikan kini tercemar, biota laut banyak yang punah karena terikat dengan sampah-sampah plastik manusia, kandungan dalam daging ikan-ikanan hasil laut mulai tercemar dengan mikroplastik yang lagi-lagi berasal dari sampah manusia, dan sebagainya. Pantai mulai keruh tak seindah pemandangannya yang cantik dulu, pasir-pasir pantai yang dulunya lembut kini mulai terasa kasar ketika diinjak dikarenakan banyaknya sampah yang berserakan begitu saja.

Kita dapat melihat juga pada apa yang sedang terjadi di Kutub Utara dan Kutub Selatan. Gunung-gunung es mulai mencair dan beruang-beruang kutub sampai harus kehilangan rumahnya. Permukaan air laut meninggi. Ikan-ikan yang biasa diburu untuk makanan mereka sehari-hari pun kini mulai berkurang drastis karena banyak yang mati dan tercemari. Semua itu dikarenakan ulah -ulah manusia tak bertanggung jawab serta suhu bumi yang meninggi akibat adanya pemanasan global. Yang paling utama diamati dan diteliti adalah kawasan Kutub Utara.

Perlu diketahui, kini lapisan es di Kutub Utara terus menyusut drastis dalam kurun 30 tahun terakhir. Sampai-sampai, laju penyusutan lapisan es tersebut diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2080 mendatang. Peneliti iklim bernama Jochem Marotzke juga memperkirakan pemanasan global akan terus berlanjut. Perhitungan menunjukkan bahwa Kutub Utara memanas dua kali lebih cepat antara 8 sampai dengan 10 derajat Celcius daripada kawasan lainnya di dunia. Melihat semua hal ini, tentu nampak begitu miris dan sudah pasti akan berdampak pada lautan juga di kemudian hari.

Hari Laut Sedunia, tak banyak yang menyadari bahwa tepat di tanggal 8 Juni ini merupakan hari yang spesial perihal laut dan samudra. Apakah kita akan merayakannya dengan menjadi lebih baik dalam merawat samudra dan dunia? Atau acuh tak peduli bahkan baru tahu bila tanggal 8 Juni merupakan Hari Laut Sedunia? Kita sebagai manusia kerap egois dan terlupa, bahwa bumi yang kita rusak kelak akan berakibat buruk pada kita juga. Kita terlalu tamak, tak peduli sebanyak apa pohon yang telah tumbang, asap kendaraan dan pabrik yang telah membumbung dan memenuhi udara, limbah dan sampah yang mencemari samudra.

Hari Laut Sedunia diperingati setiap tanggal 8 Juni sejak pengajuan pertama pada tahun 1992 oleh Kanada di Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil. Hari peringatan ini kemudian disahkan oleh PBB pada akhir tahun 2008. Hari peringatan ini bertujuan untuk menghargai laut-laut di dunia dengan merayakan hasil-hasil yang disediakan oleh samudra, seperti makanan laut dan kehidupan laut untuk akuarium, hewan peliharaan, dan waktu untuk menghargai nilai intrinsik itu sendiri. Hari peringatan ini juga memberikan kesempatan berbeda untuk menyelenggarakan aksi komunitas dan personal untuk menjaga samudra dan hasil di dalamnya.

Dengan adanya Hari Laut Sedunia ini, saya pikir seharusnya kita lebih mempertajam intuisi bahwa samudra sedang berkali-kali menyuarakan lukanya, tak terkecuali di lautan Indonesia. Misalnya saja, data membuktikan bahwa saat ini diperkirakan jumlah mikroplastik di air laut Indonesia berada di kisaran 30 hingga 960 partikel per liter. Fakta tersebut diuraikan oleh Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) M. Reza Cordova belum lama ini. Menurutnya, keberadaan mikroplastik di dalam air laut Indonesia memiliki jumlah yang sama dengan jumlah mikroplastik di air laut Samudra Pasifik dan Laut Mediterania. Reza berpendapat bahwa keberadaan mikroplastik di lautan mirip seperti monster mini yang setiap saat bisa merusak ekosistem di dalamnya.

Kita semua tahu bahwa pemanasan global, efek rumah kaca, dan berbagai pencemaran pada laut akan berdampak besar bagi bumi ke depannya termasuk pada ketinggian muka air laut secara global. Iris Werner, seorang Biolog dari Universitas Kiel mengungkapkan bahwa akan terjadi pula kerusakan drastis pada ekosistem flora dan fauna untuk banyak organisme di kawasan manapun, terutama Kutub Utara, akibat dampak yang didapatkan dari pemanasan global dan efek rumah kaca. Organisme-organisme tersebut amat tergantung dengan habitat lautan es di sekitar kutub, bila binatang-binatang ini kehilangan rumah dan makanannya maka akan banyak di antara mereka yang musnah bahkan punah.

Bila sudah begini, kelak manusia akan mengeluh dan merutuki perbuatannya sendiri. Namun, agar kita tidak termasuk ke dalam barisan manusia yang merutuk dan menyesal tersebut, kita dapat memulai perubahan yang lebih baik untuk samudra kita dari diri sendiri. Sebagai manusia yang turut berperan dalam dampak buruk yang terjadi pada lautan seperti ini, salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah mengubah perilaku konsumtif kita terhadap plastik agar menjadi lebih rendah. Seperti mengurangi penggunaan tas plastik ketika berbelanja, menggunakan barang-barang perkakas untuk makan dan minum yang dibawa dari rumah, membiasakan diri memakai sedotan alumunium, dan lain-lain.

Ditulis oleh: Sabitha Ayu Nuryani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *