Mengadopsi Buatan Asing, Salahkah?

Doc: Forma

Oleh: Erliana W P

Dewasa kini agaknya anak bangsa tak perlu lagi untuk dicerdaskan. Terbukti dengan adegan-adegannya yang molek memainkan peran orang dewasa, meskipun belum saatnya. Jika dulu orang tua selalu mengajarkan budi dan perilaku baik kepada anak cucunya, maka saat ini rasanya orang tua tak perlu lagi berperan. Drama ini seolah-olah menampilkan keadaan anak negeri yang mendahului tahu, walaupun sebelum yang tua memberi tahu.

Representasi tersebut mulanya dapat disaksikan pada layar kaca TV masing-masing. Apabila dipersentasekan tema program-programnya saja dari beberapa stasiun televisi swasta di Indonesia, maka akan didapati 30% program mengedukasi dan 70% program hiburan. Belum lagi tayangan TV hiburan dari mancanegara yang diadopsi karena sebagian industri pertelevisian tanah air memang hobi mengantongi buah karya anak asing.

Sebenarnya tidak masalah jika program hiburan dari negara mana pun turut mendominasi pertelevisian di negeri ini. Toh, zaman ini TV tidak begitu lagi menjadi idola. Bahkan dongkrak kepopularitasan publik figurnya saja sudah banyak tergeserkan oleh eksistensi para influencer, youtuber, selebgram; dan pengguna sosial media lainnya, juga karena stasiun TV yang berseliweran di layar kaca adalah milik swasta, bukan milik negara. Jadi, dapat dipastikan bahwa pihak mereka lebih kepada meraup profit sebanyak-banyaknya atau lebih kepada menimbang segi kuantitasnya ketimbang kualitasnya. Lalu, apakah ini artinya kita asingkan saja TV di rumah dan beralih pada sosial media dengan berbagai publik figurnya yang mengedukasi?

Seharusnya tidak perlu sampai ekstrim begitu, meskipun bosan menyaksikan tayangan TV yang itu-itu saja. Faktanya masih bisa juga ditemukan tayangan TV yang sifatnya meng-entertain, tetapi juga mengedukasi. Seperti yang baru-baru ini diadopsi oleh stasiun TV swasta ANTV, di mana program serial epik bersejarah dari negeri Hindustan itu kembali ditayangkan. Ada serial Jodha Akbar (2013) yang mengisahkan perjuangan kepemimpinan dan kisah cinta Kaisar Mughal hingga menghasilkan keturunan dari anaknya bernama Shah Jahan, yang mana Shah Jahan menjadi masyhur sebab kisahnya dan keajaiban di balik megahnya bangunan Taj Mahal di India. Kemudian ada lagi serial baru dari Hindustan dengan genre yang sama yaitu Chandragupta Maurya (2018) oleh Swastik Production, di mana satu rumah dengan produksi serial mitologi Mahabharata (2013) yang pernah mencapai rating tertinggi, baik di India maupun di Indonesia.

Kepopuleran dari kisah-kisah epik yang divisualisasikan tersebut. Tergambarkan dalam benak setiap orang, bahwa figur Shri Krishna dengan kearifannya yang sangat berpengaruh dalam wiracarita Mahabharata—tidak peduli agama dan keyakinan apa—mampu membius para penontonnya hingga tertarik untuk menuai nasihat serta perilaku bijak darinya. Seperti juga tokoh ksatria pemersatu sub-benua India, Chandragupta Maurya. Atas rasa cinta tanah air dan kehebatannya memperjuangkan nasib rakyat India, namanya kemudian dikenal di penjuru dunia. Begitu juga pemikiran Jalaluddin Akbar, pemimpin Kekaisaran Mughal ke-3. Dirinya dikenal sebab pemikirannya yang terbuka untuk membebaskan rakyatnya memeluk keyakinan manapun, mengakibatkan dirinya menikahi sosok tuan putri penganut Hindu dari Rajput bernama Jodha, sebagai wujud bahwa perbedaan agama tidak akan menyaingi martabat manusia yang mulia selagi dirinya menerapkan prinsip kebajikan terhadap Tuhan dan sesama makhluk-Nya.

Di samping memang tayangan-tayangan yang disebutkan tadi adalah milik asing, tetapi esensinya berfaedah dalam mengedukasi kehidupan. Berbeda dengan produksi dalam negeri yang kebanyakan ceritanya seputar percintaan remaja, seputar hubungan rumah tangga, berita yang mewartakan isu-isu selebritisnya sendiri sampai jatuhnya ghibah; belum lagi reality show  penuh drama dengan rekayasa belakang layarnya. Maka, tak heran jika penontonnya sampai bergeming bahwa progran TV di Indonesia ini minim ide. Namun, jika buatan asing yang diimpor ke sini, justru lebih mudah menimbulkan kesan dan reaksi-reaksi takjub akan peran, artistik, audio visual, dan keseluruhan ceritanya. Jadi, jika kita tidak senang sebab dari mana atau siapa pemroduksi serial itu berasal. Setidaknya ketahui maksud dan makna tersirat apa yang ingin disampaikan dari isi narasi tersebut sebagai new knowledge.

Betapa hebatnya produksi asing ini, pengaruhnya bahkan mampu mengundang rasa candu untuk terus mengikuti episode-episode berikutnya. Terkait hal ini, penulis tidak bermaksud mengunggulkan berlebihan buatan asing dan mengajak pembaca mencintai sejarah negeri lain ketimbang negeri sendiri. Pasalnya, di Indonesia sendiri tayangan-tayangan yang mengedukasi seperti cerita sejarah ini sudah tidak lagi musim, meskipun dulu ada beberapa, tetapi kini sudah sangat jarang. Bisa jadi banyak faktor yang menghambat—seandainya serius—untuk memproduksinya, terutama modal yang besar untuk setting-an latar belakang cerita dengan properti layaknya masa kerajaan di Nusantara dulu. Sangat disayangkan memang bila rancangan spektakuler ini hanya angan belaka. Namun, apa daya kita sebagai rakyat awam yang bisa mempertontonnya saja, sedangkan di negeri ini jika kita belum menjadi orang, maka sulit membuat apa yang kita mau.

Mungkin saja para sesepuh negeri ini sedang ketar-ketir menyaksikan fenomena luar biasa anak muda bangsa yang berbeda 360°dari masa mudanya dulu. Sebaliknya, justru anak muda bangsa malah sedang asyik berkancah di dunia peran memainkan aktingnya seperti perilaku orang dewasa, di mana melalui peran-perannya yang lihai tersebut, tak ayal sama halnya turut menginformasikan bahwa dalam usia belia pun, anak-anak sudah maklum mengalami fase kasmaran layaknya orang dewasa. Bukankah hal ini miris untuk dipertontonkan? Bukankah mereka mendahului tahu sebelum waktunya?

Sebelum melangkah ke depan, sepertinya terlalu jauh melayangkan angan-angan ini untuk ditargetkan ke antero Nusantara, terutama generasi mudanya. Apalagi sampai mengharapkan para selebritas TV bahkan sosial media untuk mem-follow up-nya. Bukankah lebih baik dan efektif jika diri masing-masing yang mengejar bola. Maksudnya, kita tidak perlu berharap cerita-cerita sejarah negeri ini diadakan penampilan visual dramatisirnya oleh pihak pertelevisian tanah air—sama saja digantungkan. Cukup pergi ke perpustakaan atau akses melalui internet tentang wiracarita Nusantara, kemudian mulai untuk membacanya. Namun,—kata namun lagi-lagi terdengungkan—tidak semudah itu juga dilakukan, bahkan ujaran yang baru saja penulis berikan bukanlah sebuah solusi, melainkan sugesti belaka.

Oleh karena itu, kilas balik dari keseluruhan tulisan ini adalah untuk mengantisipasi terjadinya krisis moral anak bangsa yang bersikap tak senonoh dan terburu-buru dewasa sebelum waktunya—sebelum terlampau jauh—entah itu yang mereka dapatkan dari pengalaman lingkungan sekitarnya atau wawasannya terhadap informasi dunia yang cukup diakses dengan mudah dari gadget-nya. Agaknya tidak salah juga jika tayangan TV swasta tanah air lebih baik menayangkan buatan asing dan mengadopsinya sebanyak mungkin, selagi itu mengedukasi. Daripada harus memaksakan mata dan pikiran untuk menonton produksi dalam negeri, tetapi bermutu rendah. Fenomena ini mengingatkan kita akan kata bijak sang proklamator yang berbunyi, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *