Penulis: M. Hengki Fernando
Editor: Moh.Faiqul Waffa
Di zaman yang serba cepat dan penuh prasangka ini, kebaikan sering kali kehilangan maknanya. Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin pandai menilai motif sebelum melihat niat. Ketika seseorang berbuat baik, komentar yang muncul bukanlah “terima kasih” melainkan “pasti ada maunya” “Awas dia punya kepentingan”. Ungkapan seperti ini menandakan krisis kepercayaan terhadap kebaikan itu sendiri. Akibatnya, banyak orang yang sebelumnya tulus kini ragu untuk melakukan kebaikan. Kebaikan mereka disalahartikan, bahkan dimanfaatkan. Bahkan tidak jarang banyak orang berkata jangan terlalu baik nanti di manfaatin”. Maka benar adanya, seperti kata Hindia dalam Membasuh:
Selama ini
Kunanti
Yang kuberikan datang berbalik
Tak kunjung pulang
Apa pun yang terbilang
Di daftar pamrihku seorang
Sore itu, di tengah perbincangan batin seperti orang yang sakit jiwanya dan rasa lelah setelah kelas di ruang yang dingin, sebatang rokok dan semangkuk mie kuah di warung kecil pojok kampus menjadi ruang refleksi. Ketika Pak Ali, sang penjual, bertanya dengan tulus, “Nasi e akeh ta?”, ada sesuatu yang menampar pelan dari balik kesederhanaan kata itu. Dalam pertanyaan singkatnya terkandung empati, kepedulian, dan rasa berbagi yang tidak mengharapkan timbal balik. Ia memberi tanpa pamrih, tapi juga tidak kehilangan kesadaran akan keberadaannya sebagai manusia yang terhubung dengan manusia lain. Tidak seperti penjual kebanyakan sekarang yang hanya memikirkan keuntungan saja, dia juga memikirkan perut pembeli ini yang sudah mulai keroncongan. Di situlah saya menyadari kebaikan sejati itu masih ada dan dia tidak hanya lahir dari ruang besar atau niat heroik, melainkan dari tindakan kecil yang tulus. Dari situpula saya kembali berprasangka apakah sifat seseorang yang terlalu besar dalam berprasangka membuat kehadiran orang baik semakin menghilang dan orang orang serakah semakin menumpuk dimana mana?. Sial. .. ingin saya lanjutkan percakapan batin dan akal ini tapi, semangkok mie kuahku telah habis dan saya harus kembali ke kost.
Sesampainya di kamar kost yang masih berantakan saya mencoba membersihkan nya dengan terpaksa seolah tau bahwa menjadi baik kadang dilakukan karena terpaksa melihat keadaan sekitar yang sudah tidak nyaman ditempati, lagu membasuh milik Hindia mengikuti alunan sapuan mengingat kan bagaimana menjadi baik yang sejati.
Telat kusadar hidup bukanlah
Perihal mengambil yang kau tebar
Sedikit air yang kupunya
Milikmu juga bersama
Filosofi Membasuh: Hidup Gak Selalu Soal Balas Budi
Dalam diam kamar kos yang masih berantakan aku mencoba rebahan sebentar, di antara putaran lagu Membasuh yang tak henti, saya teringat pada gagasan Heidegger tentang Heimkehr yaitu “pulang ke diri.” Bahwa hidup bukan sekadar rutinitas yang berulang, melainkan perjalanan pulang menuju pemahaman atas keberadaan diri sendiri. Lagu Membasuh menghadirkan ruang renung itu, ketika kita sadar bahwa memberi, mencinta, dan berbuat baik bukan hanya tindakan moral, tetapi juga cara kita memahami eksistensi. Pulang ke diri berarti menyadari bahwa hidup tidak selalu soal menagih balasan, tapi juga tidak membiarkan diri larut dalam pengorbanan tanpa arah. Dalam setiap sapuan tangan yang membersihkan ruang, dalam setiap upaya menata yang berserak, ada kesadaran yang tumbuh, bahwa menjadi baik kadang terasa terpaksa, tapi dari keterpaksaan itu kita belajar arti menjadi manusia.
Membasuh mengajarkan bahwa memberi harus disertai kesadaran, bukan sekadar dorongan moral atau pengorbanan yang buta. Dalam kebaikan tanpa refleksi, seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri. Hindia seolah ingin mengingatkan bahwa cinta dan kepedulian bukanlah tentang meniadakan batas diri, melainkan kesediaan untuk berbagi tanpa menghapus eksistensi pribadi. Hidup bukan soal balas budi, tapi juga bukan tentang kehilangan arah dalam memberi. Kebaikan yang sejati bukan yang menghapus diri, melainkan yang dilakukan dengan kesadaran penuh akan “aku” yang memberi dan “kau” yang menerima. Sebab tanpa kesadaran itu, kebaikan hanya menjadi pelarian dari kesepian.
Epictetus, dalam ajaran Stoiknya, pernah berkata bahwa penderitaan manusia muncul dari harapan yang berlebihan. Dalam konteks Membasuh, harapan akan balasan sering kali menjadi luka paling halus yang tak tampak. Kita menebar kebaikan dengan keyakinan bahwa ia akan kembali, tapi hidup tak selalu setimpal. Stoisisme mengajarkan kita untuk melepaskan kendali atas hasil, dan berfokus pada niat memberi itu sendiri. Dalam memberi tanpa harapan, justru ada kebebasan batin yang tumbuh. Namun, itu bukan berarti meniadakan diri, melainkan memahami batas, kapan kebaikan menumbuhkan, dan kapan ia justru mengikis. Membasuh adalah semacam meditasi atas pamrih yakni sebuah ajakan untuk tidak berhitung, tapi juga tidak membiarkan diri terus-menerus kehilangan.
Sementara itu, Sartre menegaskan bahwa keberadaan manusia selalu “untuk orang lain.” Kita tidak pernah benar-benar eksis sendirian. Apa yang kita miliki bahkan setetes air yang kita bagi bukan hanya milik pribadi, tapi bagian dari kemanusiaan yang saling terhubung. Hindia, lewat lirik “Sedikit air yang kupunya, milikmu juga bersama,” memantulkan pandangan eksistensial ini: bahwa memberi adalah bentuk keberadaan yang sadar akan keterhubungan. Dalam memberi, kita menegaskan eksistensi, bukan karena ingin dilihat, tapi karena sadar bahwa keberadaan kita bermakna bagi keberadaan orang lain.
Di sisi lain, Levinas berbicara tentang the Other wajah orang lain yang memanggil tanggung jawab kita. Dalam memberi, kita menjawab panggilan itu, bahkan ketika diri kita sendiri belum sepenuhnya utuh. Membasuh mengingatkan bahwa kita bisa tetap berbagi meski hidup sedang tidak baik-baik saja. Bahwa saling membasuh luka adalah bagian dari kemanusiaan itu sendiri. Dalam memberi, kita tidak sedang menunjukkan kekuatan, melainkan mengakui kelemahan bersama, bahwa kita sama-sama butuh dibasuh oleh kebaikan.
Membasuh bukan sekadar lagu tentang kebaikan, tapi refleksi eksistensial tentang batas antara ketulusan dan kelelahan. Dunia boleh sinis, tapi bukan berarti manusia harus berhenti berbuat baik. Menjadi baik memang kadang melelahkan, tapi ia tetap satu-satunya cara untuk tidak kehilangan makna hidup. Di tengah prasangka dan pamrih, membasuh adalah pilihan sadar untuk tetap manusia, meski dunia perlahan kehilangan kemanusiaannya.
Tentang Bangun, Berbenah, dan Kembali Menjadi Manusia
Aku terbangun dengan kepala berat rupanya aku tertidur di tengah alunan lagu Membasuh yang terus berputar dari ponsel. Suara Hindia masih mengisi ruang yang belum sempat rapi, dan kamar kostku tetap berantakan seperti sebelum aku terlelap. Tapi entah kenapa, kali ini semuanya terasa berbeda. Ada rasa tenang yang tersisa di antara sisa mimpi dan lirik yang menggantung di udara. Aku duduk sebentar, menatap tumpukan baju, lalu tersenyum kecil, hidup memang tidak pernah benar-benar rapi, tapi kita selalu punya pilihan untuk membereskan sedikit demi sedikit.
Dengan sisa kantuk yang menempel, aku kembali membersihkan kamar, melanjutkan hidup seperti biasa. Sapu di tanganku bukan sekadar alat, tapi pengingat bahwa menjadi baik tak perlu menunggu waktu sempurna. Kadang kebaikan sederhana justru lahir dari hal yang paling kecil seperti merapikan yang berantakan, menenangkan diri, atau sekadar menyapa orang lain dengan tulus.
Di sela-sela debu yang terangkat dan lagu yang terus mengalun pelan, aku tersadar: hidup memang tidak selalu adil, tapi ia selalu memberi ruang bagi siapa pun yang mau tetap berbuat baik. Aku belajar bahwa tidak apa-apa lelah, tidak apa-apa kecewa, asalkan jangan berhenti membasuh diri dari keburukan dunia. Karena pada akhirnya, menjadi baik bukan tentang pengakuan atau balasan, tapi tentang menjaga kemanusiaan tetap hidup di dalam diri sendiri.
Dan setiap kali lagu Membasuh kembali diputar, aku selalu teringat satu hal sederhana: jadilah orang baik, di manapun dan kapanpun sekalipun dunia tidak selalu baik kepadamu.
Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku di sini

