Penulis: Farahdilla Aulia

Dalam bilik lensa kamera, lahir siluet tak bernama.
Ia tersenyum pada langit di balik cahaya,
seperti arwah bintang yang enggan mati sepenuhnya.

Potret wajahnya tersimpan dalam gelap,
menembus malam tanpa bulan.
Butir debu berubah menjadi rasi, menyusun rahasia yang tak pernah selesai ditafsirkan oleh mata.

Tak ada yang tahu siapa ia,
namun setiap butir emulsi
bergetar seperti mantra cinta.
Seakan kosmos bukan sekadar ruang,
melainkan mata raksasa
yang mengintai balik dengan sunyi.

Setiap klik shutter berderak seperti doa patah, membekukan bayangan yang tak sengaja berhenti.
Hasil yang tercetak hanyalah kebohongan, tertangkap abadi dalam kecepatan waktu.

Dan bila malam terbelah,
rasi-rasi akan runtuh ke bumi,
membawa kabar dari ruang gelap itu,
bahwa setiap gambar adalah pemanggilan,
dan setiap bintang hanya dapat disentuh lewat mimpi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *