Di atas lembar-lembar kertas yang menguning,
Dunia diringkas dalam baris-baris yang hening.
Kita datang mengetuk pintu masa lalu,
Mencari wajah nyata di balik debu.
Kata adalah lensa, jadi mereka berkata,
Membawa yang jauh menjadi dekat di pelupuk mata.
Namun, kebersamaan tangan yang memegang pena,
Sering kali menari di bawah bayang-bayang takhta.
Bait-bait pujangga adalah cermin yang retak,
Memantulkan cahaya, namun menyembunyikan jejak.
Keagungan sang pemenang dipahat dengan rima,
Sementara rintih yang kalah kematian tanpa nama.
Frasa yang indah bisa menjadi tirai sutra,
Menutupi darah dengan diksi yang penuh citra.
Metafora bukan sekedar hiasan dalam sastra,
Tapi terkadang ada kabut yang menghapus acara.
Maka bacalah dengan mata yang terjaga,
Sebab kebenaran sering terselip di sela-sela angka.
Antara yang tertulis dan yang sengaja dihapus,
Di sanalah kenyataan yang murni berhembus.

