Koreksi Gaya Hidup Hedonis Spiritual Islami

Doc: Google

Oleh: Habibah, Prodi TP

 

Money is Everything

(Uang adalah segalanya)

Kata itulah yang sering kita dengar dari mulut manusia. Manusia dan segala hal yang berhubungan dengannya akan selalu tumbuh dan berkembang dari masa ke masa. Selalu berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Dari yang awalnya sederhana menjadi kompleks penuh dengan tujuan dan kepentingan-kepentingan dalam menikmati hidup dan berinteraksi dengan lingkungannya. Berjalan begitu dinamis dan inovatif.

Pada mulanya, uang hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seadanya. Kemudian, terus berkembang menjadi bagaimana cara mendapatkannya lebih banyak, lebih banyak, dan lebih banyak lagi. Sehingga, muncul sebuah ungkapan, “Uang adalah segalanya, kita tak dapat hidup tanpa adanya uang.” Sebuah refleksi dari suatu gaya hidup hedonisme yang cenderung hanya mencari kesenangan dan kenikmatan semata.

Itulah gaya hidup hedonis. Penggalan kata yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Hedonic Lifestyle atau gaya hidup hedonis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf Yunani yang berasal dari Kyrene, Afrika Utara, Aristippos pada masa awal sejarah ilmu filsafat pada tahun 433 SM. Aristippos menjawab pertanyaan dari Sokrates, “Apa yang menjadi tujuan hidup manusia?” bahwa yang terbaik adalah “Kesenangan.” Menurutnya, kehidupan orang yang bijak selalu mencari jaminan kesenangan yang maksimal.[1]

Perubahan gaya hidup ini telah memengaruhi pola pikir manusia dan menjadi persoalan serta godaan besar yang muncul di tengah-tengah kehidupan umat manusia, terutama dalam bidang spiritualitas. Menurut pendapat Kotler (1997) ada dua faktor yang memengaruhi gaya hidup seseorang, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri seseorang (internal) yang meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi. Lalu, faktor yang berasal dari luar (eksternal) yang meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan.[2]

Pada dasarnya, Allah SWT menciptakan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Maka, gaya hidup apa pun yang ingin dilakukan oleh seorang muslim harus berlandaskan ibadah. Dan lagi, dalam setiap etika, umat muslim memiliki sosok yang menjadi suri tauladan, yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Qalam ayat 4 :

وانّك لعلى خلق عظيم

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.“

Dari ayat di atas dapat digambarkan mengenai gaya hidup Islami cukup dengan mencontoh gaya hidup Rasulullah SAW, karena beliau memiliki budi pekerti yang agung dan beliaulah suri tauladan yang utama.

Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup dengan tujuan mencari kesenangan hidup semata. Bagi umat muslim khususnya kalangan menengah, godaan dalam hidup adalah hedonisme spiritual. Sebuah pola hidup yang berlebihan dalam kehidupan keberagamaan. Ciri khasnya adalah larut dengan mengonsumsi aksesoris spiritual dalam taraf berlebihan. Contoh kecil yaitu dalam berbusana muslim. Pada dasarnya, busana muslim wajib dipakai dengan tujuan menutup aurat. Namun, bukan berarti harus berlebihan dalam memakainya, hingga harta yang dimiliki seorang muslim habis bukan untuk berjihad di jalan Allah, tetapi untuk membeli aksesoris dalam taraf berlebihan. Hal ini bukan lagi bentuk dari alasan untuk menutup aurat, melainkan telah berubah menjadi hal yang mubazir. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-A’raf ayat 31:

انّه لا يحبّ المسرفين……

“………. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”

Dari ayat di atas dapat pula digambarkan mengenai gaya hidup hedonis spiritual yang tidak seharusnya dilakukan oleh seseorang, karena Allah SWT tidak menyukai sikap tersebut apalagi dengan membawa alasan untuk agama.

Gaya hidup hedonis spiritual memang dianggap hal yang sederhana. Hingga terkadang seseorang tidak menyadari jika telah bersikap hedonis dalam hal spiritual. Namun, ternyata gaya hidup hedonis spiritual ini dapat menyebabkan seseorang jauh dari syariat Islam. Karena, gaya hidup ini termasuk salah satu hal yang tidak disenangi oleh Allah SWT.

Kita memang diperkenankan untuk menikmati nikmat yang diberikan oleh Allah SWT sebagai ungkapan rasa syukur dan bentuk ketakwaan kepada Allah SWT. Akan tetapi, segala sesuatu harus beriringan dengan syariat Islam dan menghindari gaya hidup yang kurang tepat bagi umat Islam. Sebagai manusia yang berakal dan bermartabat tentu kita tetap berkembang dalam era globalisasi ini. Namun, sebagai umat Islam kita juga mempunyai landasan berpikir dan bertindak, yaitu warisan ilmu dari Nabi Muhammad SAW yang akan membawa kita menuju kebaikan di akhirat.

 

Referensi:

[1]

https://id.wikipedia.org/wiki/Hedonisme#:~:text=Hedonisme%20adalah%20pandangan%20hidup%20yang,tujuan%20hidup%20dan%20tindakan%20manusia, (Diakses pada 3 Januari 2021).

[2] Kotler P,  Amstrong   Principlis Of Marketing. Edisi 3. Alih Bahasa : Sindoro dan Molan. Jakarta: Prehalindo, 1997. hal. 128.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *