
Penulis: Nabila Khusna
Di tengah nyala api unggun yang menari pelan dalam gelap malam,
Kami berdiri mengelilinginya sambil menahan gigil yang mulai menusuk,
Seakan bara kecil itu menjadi satu-satunya saksi yang paling jujur,
Tentang langkah baru yang akan kami tapaki bersama.
Diikrarkannya sebuah janji yang meluncur hati-hati dari bibir yang bergetar,
Bukan karena ragu, tetapi karena maknanya terlalu besar untuk diabaikan,
Dan setiap kata terasa seperti menancap dalam ingatan yang masih muda,
Mengikat kami pada kompas baru yang tidak boleh salah arah.
Dinginnya hembusan angin Kota Batu mengiris kulit seperti bilah tipis,
Membuat napas berubah kabut dan tangan ingin disembunyikan dalam saku,
Namun entah mengapa, di balik itu semua, dada justru terasa lebih hangat,
Karena kami tahu, ada sesuatu yang sedang tumbuh pada malam itu.
Keluarga baru terbentuk pelan di antara tawa yang pecah tanpa aba-aba,
Menghapus canggung yang sebelumnya merayap di sela-sela perkenalan,
Dan api unggun menjadi pusat kehangatan yang menyatukan nama-nama asing,
Mengubah kami dari sekadar teman menjadi rekan seperjalanan.
Tanggung jawab baru menunggu dengan sabar di ujung malam,
Sementara cerita baru mulai menulis dirinya sendiri dalam diam,
Dan bara yang meredup itu terasa seperti tanda lembut dari semesta,
Bahwa langkah kami telah resmi dimulai tanpa perlu pesta, tanpa suara.

