Penulis: M. Nizam Amidhan

Editor: Akmelia Rabbani

Ketahanan pangan bukan hanya sebuah konsep, melainkan pondasi bagi keberlanjutan hidup bagi. Dalam era globalisasi, tantangan terhadap ketahanan pangan semakin kompleks karena dipengaruhi oleh perubahan iklim, pertumbuhan populasi, dan dinamika ekonomi.

Artikel ini akan merinci esensi ketahanan pangan, mengungkap kerentanan yang dihadapi oleh masyarakat global, mengeksplorasi strategi untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan dan iklusif, serta membahas dampak negatif dari impor beras yang berlebihan terhadap para petani yang ada di Indonesia.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Indonesia memiliki lahan pertanian yang besar dan luas serta sumber daya alam yang berlimpah. Pertanian berperan penting dalam perekonomian nasional, dan salah satu komoditas utama hasil dari pertanian adalah beras.

Produksi padi di Indonesia tidak pernah berhenti. Dalam proses produksi, petani kerap menghadapi persoalan, terutama dalam menghitung pengeluaran dan pemasukan agar dapat mengetahui keuntungan bersih yang diperoleh. Tingginya produksi beras menjadikan Indonesia termasuk salah satu negara dengan konsumsi beras terbesar di dunia. Bahkan, Indonesia menduduki posisi ketiga sebagai penghasil beras terbesar setelah Tiongkok dan India, dengan kontribusi sekitar 8,5% atau setara 54 juta ton.

Dengan tingkat produksi beras di Indonesia yang semakin membesar, pemerintah diharapkan mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Namun, realitanya Indonesia masih mengimpor beras. Sejak masa Orde Lama hingga Orde Baru, impor beras tetap dilakukan meskipun Indonesia sempat mencapai swasembada beras.

Alasan pemerintah melakukan impor adalah untuk memenuhi kebutuhan, menambah cadangan beras nasional, serta mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan harga beras lokal. Faktor lain yang mendorong impor adalah terjadinya defisit beras di beberapa provinsi akibat hambatan distribusi, berkurangnya luas lahan panen, serta cuaca ekstrem.

Tingginya konsumsi beras di Indonesia menuntut peningkatan produksi agar kebutuhan nasional tercukupi. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan perhatian serius agar tidak terjadi krisis pangan. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahun memperbesar permintaan beras. Jika kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi, pemerintah terpaksa mengambil kebijakan impor beras.

Salah satu kebijakan pemerintah adalah menugaskan Perum Bulog untuk mengisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melalui impor. Berdasarkan surat dari Badan Pangan Nasional (BAPANAS), Bulog diberi kewenangan untuk melakukan pengadaan CBP dari luar negeri.

Menurut pemerintah, kebijakan kegiatan impor tidak akan mengganggu kesejahteraan para petani. Akan tetapi, berdasarkan penelitian skala Likert, mayoritas petani menolak kebijakan ini. Hasil penelitian menunjukkan berdampak negatif bagi petani dalam jangkan panjang.

Kebijakan impor yang kerap diambil pemerintah ketika harga beras lokal naik membuat harga tersebut tidak stabil dan merugikan petani. Hal ini pernah terjadi pada 2017 ketika produksi padi menurun akibat serangan hama wereng, serta pada 1997 saat terjadi bencana El Nino. Seharusnya penurunan produksi berdampak pada kenaikan harga beras sehingga tercipta keseimbangan pasar. Namun, kenyataannya, ketika harga naik, pemerintah segera melakukan impor sehingga petani tidak menikmati harga yang menguntungkan. Kondisi ini membuat banyak petani tetap hidup dalam kemiskinan.

Secara keseluruhan, ketahanan pangan merupakan aspek penting bagi ketahanan nasional. Ketersediaan pangan yang cukup, aman, dan bergizi adalah syarat utama bagi keberlangsungan bangsa. Tantangan global yang dihadapi Indonesia harus dijadikan peluang untuk membangun sistem pangan yang berkelanjutan dan inklusif. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan aksi kolektif masyarakat bersama pemerintah untuk menciptakan sistem pangan yang lebih adil dan menyejahterakan, baik di tingkat nasional maupun global.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *