Penulis: Moh. Faiqul Waffa
Editor: Zerlinda Prasanti S
Liburan akhir tahun menjelma saat-saat aku kembali ke pangkuan kampung halaman. Di kedai kopi seberang stasiun, aku merenungi perjalanan, menanti waktu mengantarku menaiki kereta yang akan membawaku pulang. Seduh Kopi, begitu orang-orang menyebutnya, sebuah kedai yang telah menjadi legenda, berdiri kokoh menantang waktu selama puluhan tahun. Bangunannya lapang, menampung puluhan kursi di dalam, sementara lima kursi di luar setia menyapa pejalan yang lalu-lalang.
Bangunan itu berdiri di tepi jalan, menyaksikan waktu berlalu bersama debu dan langkah pejalan. Di hadapannya, sebuah stasiun tua berdiri diam, memanggul usia yang tak kalah renta, menjadi saksi bisu perjumpaan dan perpisahan yang tak terhitung jumlahnya.
Aku memilih duduk di pojok kedai, tak jauh dari bibir pintu. Angin tipis menyelusup dari luar, membawa hiruk-pikuk jalanan ke dalam ruang yang temaram. Segelas kopi tubruk tersaji di hadapanku, hitam pekat, harum menyesak dada. Satu seruput, dan kehangatan menjalar, membangunkan ingatan yang entah sejak kapan tertidur.
Mataku menembus kaca jendela, membelah jarak yang memisahkan dunia dalam dan luar. Di kejauhan, seorang anak kecil berdiri kaku, di hadapannya seorang wanita dengan sorot mata yang sarat tuntutan. Kata-kata meluncur dari bibirnya, tajam dan tak terbantah. Si kecil menunduk, entah paham atau hanya pasrah pada dunia yang terlalu dini menimpakan beban di pundaknya.
Tak lama, wanita itu menyodorkan gitar kecil pada si anak, sebuah isyarat tanpa kata. Bocah itu menurut, berdiri di hadapan para pembeli kopi, suaranya lirih menyelinap di antara denting sendok dan percakapan yang berbaur dengan aroma tembakau. Ibunya menunggu tak jauh darinya, mata tajam mengawasi. Anak itu tersenyum saat bernyanyi, namun matanya, matanya tak bisa berdusta. Ada sesuatu di sana, lebih dalam dari sekadar lirik yang ia lantunkan.
Dari tempatku duduk, suaranya hanya samar, terhanyut dalam riuh rendah kedai. Aku tak bisa menangkap pasti lagu yang ia nyanyikan, namun dari gerak bibirnya, ada sesuatu yang bisa kubaca, seperti gaung sunyi yang merintih ingin merdeka.
Di ujung gitar, tempat senar-senar disetel, terselip bungkus jajan yang telah terbuka lebar. Bukan sekadar sisa camilan, melainkan wadah kecil bagi keping-keping receh yang mungkin dilemparkan sebagai penghargaan. Sebuah pengakuan bisu dari orang-orang yang lewat, entah untuk lagunya, atau untuk kehidupan yang ia jalani tanpa sempat memilih.
Meja demi meja ia susuri, tiap lagu diserahkan seperti persembahan sunyi. Keping demi keping, lembar demi lembar jatuh ke dalam wadah kecil itu, penghargaan seadanya dari tangan-tangan yang tak selalu peduli. Sesekali, ia menundukkan kepala, bukan sekadar ucapan terima kasih, tapi mungkin juga bentuk kepasrahan pada dunia yang terlalu dini menuntutnya dewasa.
Ia semakin mendekat, langkahnya pelan tapi penuh beban. Sepertinya ia akan masuk. “Gawat, haruskah aku menanyakan keadaannya?” tanyaku pada diri sendiri, tapi pertanyaan itu hanya menggantung di udara. Wajahnya menyiratkan lelah yang tak sekadar fisik, lebih dalam, lebih sunyi. Kurasa, selembar uang tak akan cukup untuk mengobati letih yang ia pikul.
Sebelum melangkah masuk, ia lebih dulu menghampiri wanita itu, ibunya, barangkali. Dengan gerakan cepat, wanita itu meraup seluruh isi wadah kecil di ujung gitar, seolah itu memang haknya yang tak perlu dipertanyakan. Tanpa sepatah kata, ia mendorong bocah itu ke dalam, lalu berdiri di luar, menunggu. Tidak ada senyum, tidak ada belaian, hanya perintah tanpa suara yang menggantung di udara.
Aku duduk di ujung ruangan, menjadi orang pertama yang ia hampiri. Membiarkannya bernyanyi, aku menatapnya dengan iba. Ia menunduk, jemarinya memetik gitar perlahan, seperti seorang pemula yang tengah belajar. Bibirnya melantunkan lagu yang familier di telingaku, Andai Ku Tahu dari Ungu. Lirik-liriknya menggugah belas kasihanku, mengingatkanku pada kefanaan dan kematian yang selalu mengintai.
Aku membiarkannya melantunkan setiap lirik yang dihafalnya, sementara tatapanku tetap tertuju padanya. Tanganku merogoh saku, merasakan dinginnya koin dan lembaran uang, namun hatiku bergulat dengan keinginan untuk bertanya. Kata-kata mendesak di kerongkongan, tapi tertahan oleh keraguan yang membelenggu.
Ia menghentikan petikan gitarnya, lalu mengarahkan ujung instrumen kecil itu ke arahku, sebuah permintaan sunyi yang tak terucap. Aku menyelipkan selembar uang sepuluh ribu ke dalam wadahnya. Seketika, sorot matanya berbinar, namun bayang-bayang ketakutan masih menyelimuti. Dengan hati-hati, aku memberanikan diri bertanya, “Adek umur berapa?” Suaraku lirih, hampir tenggelam dalam riuhnya suasana kedai.
Ia menunduk, diam seribu bahasa. Namun, di balik sunyi itu, jemarinya terangkat, membentuk sepuluh. Isyarat bisu yang mengungkapkan usianya. Seketika, rasa iba dalam diriku menggelegak, menyadari betapa dunia telah menuntutnya dewasa sebelum waktunya.
“Tunggu di sini sebentar ya, Dek,” ucapku lembut. Ia mengangguk patuh, lalu duduk di hadapanku, bersebelahan dengan tas dan barang-barangku. Matanya menunduk, entah lelah atau sekadar terbiasa merendah. Aku bangkit, melangkah menuju kasir, memesan dua potong roti siap saji. Dalam benakku, terbayang wajah ibunya yang menanti di luar, dan harapan kecilku agar setidaknya, malam ini, mereka bisa berbagi sejumput kehangatan bersama.
Dari balik meja kasir, mataku menangkap sosok ibunya di kejauhan. Gerak-geriknya mengisyaratkan perintah tanpa suara, memanggil si bocah untuk segera kembali. Wajah anak itu seketika pucat, ketakutan menyelimuti rautnya. Tanpa ragu, ia berlari meninggalkan kedai, seolah bayangan ibunya adalah tali tak kasatmata yang menariknya pergi.
“Mbak, tolong lebih cepat!” seruku pada penjaga kasir, suaraku mengandung desakan yang tak biasa. Sambil menunggu, bayangan masa kecilku menyeruak dari relung ingatan. Dulu, aku bebas berlarian, seusia bocah itu, menjelajahi gang-gang sempit yang penuh misteri bersama teman-teman sebaya. Kami menerbangkan layang-layang, tertawa lepas tanpa beban, merasakan dunia seolah milik kami sepenuhnya. Tak ada yang merenggut masa kecilku. Namun, bocah itu… sungguh malang nasibnya, terkungkung dalam realitas yang menyesakkan, jauh dari keceriaan yang seharusnya ia nikmati.
“Silakan, Mas,” suara kasir memecah lamunanku. Dengan sigap, kuambil dua pesananku dan bergegas keluar, mataku mencari sosok bocah itu. Di kejauhan, kulihat ia menangis, tubuh mungilnya dicubit-cubit oleh ibunya. Isak tangisnya tertahan, sementara tangan kecilnya berulang kali mengusap bekas merah yang timbul akibat cubitan wanita itu. Pemandangan itu menyesakkan dadaku, menyadarkanku betapa kejamnya dunia bagi mereka yang tak berdaya.
Dari balik tiang di depan kedai, aku mencuri dengar percakapan mereka. Suara wanita itu terdengar tajam, menusuk malam yang mulai larut.
“Kenapa berhenti di sana? Masih banyak orang yang harus kita datangi, masih banyak uang yang harus kita kumpulkan. Usap air matamu dan berhentilah menangis,” ucapnya tegas, seolah tak memberi ruang bagi si bocah untuk bernapas lega.
Bocah itu mengusap air matanya perlahan, seolah mencoba menghapus jejak penderitaan yang terukir di wajahnya. Tak kuasa menahan iba, aku memberanikan diri melangkah mendekat.
“Permisi,” ucapku pelan, suaraku nyaris tenggelam dalam riuh rendah kehidupan jalanan.
Wanita itu tersentak, matanya menatapku dengan gugup. “Iya, ada apa ya, Mas?” tanyanya, suaranya bergetar halus.
Aku berjongkok, menyamakan tinggi dengan si bocah, mencoba menembus dinding ketakutan yang membelenggunya. “Adek, kenapa menangis?” tanyaku lembut, berharap dapat meredakan gejolak di hatinya.
Ia diam, bibirnya terkunci rapat. Tangan kecilnya berusaha menyembunyikan bekas merah yang masih membekas di kulitnya, saksi bisu atas kerasnya dunia yang ia hadapi.
Aku pura-pura tak melihat bekas cubitan itu, lalu mengulurkan tangan, menyerahkan dua bungkus roti yang kubeli. Matanya berbinar, seolah beban di pundaknya sedikit terangkat. Dengan senyum lepas, ia menerima pemberianku, kemudian berbalik, mempersembahkan roti itu kepada ibunya. Melihat senyumnya, hatiku pun merasa lega, seakan secercah cahaya menyelinap di antara kelamnya malam.
itu tampak diliputi rasa bersalah, pandangannya menghindar dari tatapan si bocah. Dengan suara lirih, ia berkata, “Makanlah, Nak. Jangan lupa ucapkan apa kepada Mas ini?”
Si bocah menatapku dengan mata penuh harapan, lalu berkata, “Terima kasih banyak, Mas.”
Aku termenung sejenak, membiarkan pikiranku mengembara ke dalam kehidupan mereka. Dalam benakku, terbayang diriku berada di posisi bocah itu, menanggung beban yang terlalu berat untuk pundak sekecil itu. Betapa rapuhnya aku jika harus menghadapi kenyataan serupa. Seketika, rasa syukur menyelimuti hatiku, mengalir deras tanpa henti.
Pikiran-pikiran berputar dalam benakku, dipenuhi pertanyaan tentang bocah itu. Aku merasa tak pantas mengajukan banyak tanya, namun beban di kepala ini kian berat. Tanpa sadar, kata-kata meluncur dari bibirku, “Adek kelas berapa?”
Bocah itu tak menjawab, hanya menggeleng pelan sambil meraih tangan ibunya, seolah berharap wanita itu yang akan memberikan penjelasan.
“Mas siapa, ya? Jangan ikut campur, Mas!” suara wanita itu meluncur tajam, hampir membentak, memecah keheningan di antara kami.
Aku terdiam, lidahku kelu. Pandanganku jatuh pada bocah itu, yang kini menunduk, matanya menghindari tatapanku. Hati kecilku merintih, namun aku tetap bungkam, membiarkan kata-kata yang tak terucap menggantung di udara.
Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benakku, menari-nari tanpa henti. Apakah wanita itu benar ibunya? Ataukah ia sekadar pemungut yang menemukan bocah itu di sudut-sudut kehidupan yang keras? Atau mungkin, bocah malang itu adalah buah dari kasih yang tak diakui, ditinggalkan oleh sang ayah yang enggan mengakui? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar, menghantui setiap sudut pikiranku, tak memberi ruang bagi ketenangan.
Menunduk, aku menahan gelombang belas kasihan yang mengalir deras. Pandanganku jatuh pada jam di pergelangan tangan, jarum-jarum kecil itu menunjukkan pukul 19.45. “Lima belas menit lagi keretaku berangkat,” bisikku lirih kepada diri sendiri. Di saat yang sama, kulihat wanita itu meraih tangan si bocah, mengajaknya pergi menjauh, meninggalkan jejak tanya yang tak terjawab di relung hatiku.
Waktu terus berlari, tak peduli pada gelisah yang menggelayut di dada. Kereta akan tiba sepuluh menit sebelum keberangkatan, dan dalam sekejap, lautan manusia akan berebut tempat duduk, mengejar kenyamanan dalam perjalanan. Aku bergegas, meraih tasku yang tergeletak di sudut kedai, lalu menyeberangi jalan menuju stasiun, berharap tak tertinggal oleh waktu yang kian menipis.
Langkah-langkahku menggema di lorong-lorong stasiun, namun bayangan wajah bocah itu terus menghantui benakku. Setiap detik yang berlalu menambah beban rasa bersalah yang menggelayuti hati. “Ah, sial,” desisku lirih, “bahkan aku belum mengetahui nama bocah itu.” Penyesalan mengalir deras, namun waktu tak pernah sudi berbalik arah.
Aku melangkah masuk ke dalam kereta tepat waktu, memilih duduk di tepi jendela. Kereta masih diam, belum beranjak. Pandanganku menerobos kaca jendela, tertuju pada kedai di kejauhan. Bayangan bocah itu kembali hadir, menari-nari dalam benakku, seolah enggan pergi, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan.
Saat kereta mulai bergerak perlahan, aku merasakan sesuatu yang aneh di saku jaketku. Merogoh dengan hati-hati, jemariku menemukan secarik kertas kusut. Aku tak ingat pernah menyimpannya. Dengan alis berkerut, kubuka kertas itu dan membaca tulisan tangan yang samar:
“Terima kasih, Mas. Doakan aku.” Jantungku berdegup kencang. Bagaimana kertas ini bisa ada di sakuku? Kapan bocah itu menyelipkannya? Ataukah… ini bukan darinya?

