Reporter: Imron Amirullah dan Roikhan Nur Faiz
Editor: Imdi Fahma

FORMA (14/05) – Komunitas anak muda lintas agama dan kepercayaan menggelar peringatan reflektif bertajuk “Solidaritas Surabaya Inklusif” untuk mengenang tragedi pengeboman gereja tahun 2018 di GKI Diponegoro, Surabaya, Rabu (13/05/2026). Peringatan ini menjadi ruang kolektif bagi masyarakat untuk merawat ingatan sekaligus menguatkan semangat toleransi.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan kali ini dikemas dengan pendekatan seni dan audio-visual melalui pameran foto, dinding harapan, pertunjukan teatrikal, musik, hingga pembacaan puisi. Acara kemudian ditutup dengan doa lintas agama dan pembacaan ikrar perdamaian.

Imanuel Erlangga, salah satu panitia, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini bertujuan agar luka masa lalu tidak melahirkan perpecahan, melainkan menumbuhkan rasa kebersamaan yang lebih erat. “Dari luka itu, kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat bisa tumbuh bersama menjadi komunitas yang kuat dan inklusif,” ujarnya.

Konsep acara sengaja dibuat lebih mengalir tanpa menggunakan pembawa acara (MC) formal, melainkan dipandu oleh Leader Talent (LT). Ike dari Gusdurian Surabaya menambahkan, penggunaan unsur teatrikal diharapkan dapat memberikan kesan yang lebih mendalam bagi peserta. “Tahun ini lebih banyak bermain di peran dan musik agar pesannya lebih mengena dan semua pihak bisa terlibat aktif,” jelasnya.

Pendeta Andri, salah satu penggagas Surabaya Guyub, memberikan apresiasi atas konsistensi gerakan ini yang sudah berjalan hampir satu dekade. Menurutnya, peristiwa duka tersebut telah bertransformasi menjadi pemicu lahirnya gerakan-gerakan cinta di kalangan anak muda.

“Peristiwa duka itu memang tidak dapat dihapus, tapi ternyata telah melahirkan banyak gerakan cinta. Hal inilah yang harus selalu kita syukuri dan rawat bersama,” pungkas Pendeta Andri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *