Oleh: Wafiq Azizah
Ruangan itu tampak lembab
Menjorok ke sudut-sudut dinding raksasa
Berwibawa, meski cat dinding riang mengelupas
Hawa panas mengeriak dikerah baju.
Tirai kusut, saksi sekaligus satir sederhana
Layar remang, lentera sedikit temaram
Pria gondrong, memberisik mengusik lamunan
Di mana hati nurani berbicara, di situ yang mati, kembali.
Dua tahun lalu, ia tak benar-benar raib
Mengusung diskusi dalam tikar sempit lusuh
Dentuman jarum jam mengawal hening
Lirih, namun pasti.
Kepalan tangan seluruh insan
Menangkap tawa, luka dan sastra
Menengadah akan kehidupan baru
Kami tak mati, hanya diam sejenak untuk,
Bangun dan menjunjung keadilan di negeri sendiri.

