Kaktus Memoria

    Kenangan di histori chat dan galeri foto bisa saja dihapus permanen. Barang-barang spesial yang membawa makna tersendiri bisa saja musnah atau hancur. Tapi kenangan murni yang telah tersimpan di dalam benak, tak akan pernah benar-benar hilang. Akan menyempatkan diri untuk terputar ulang tanpa ada yang meminta. Membuatmu menertawakan banyak kekonyolan dan kebodohan.

   Cerita dan degup yang menjelma sejarah, akan mengalahkan posisi hafalan rumus matematika dan klasifikasi rumit biologi dalam benak. Lebih mampu abadi bahkan tanpa diusahakan untuk dihafal. Begitu juga dengan perasaan, dipaksa sekeras apapun untuk lupa, ya nggak akan pernah bisa. Justru semakin memaksa lupa akan membuat jeratnya semakin rekat, semakin tak mampu melupa dan meniti jalan perelaan.

     Mereka umpama bintang gemintang di gelap malam, akan tetap di sana meski malam berganti siang. Meski cakrawala tertutup awan dan debu tebal. Meski hujan di sudut bumi sedang disertai badai petir. Meski lautan menumpahkan ombak yang mengamuk di atas tanah yang sedang dipijak. Meski gempa meluluhlantakkan seisi bentala dan dasar samudera. Meski cahaya surya menutupi gemerlap bintang di waktu dhuha yang kian terik.

     Semuanya tetap ada di antara hampa angkasa dan kegelapan sana, selalu. Tak ada yang hilang meski mereka berpindah titik diam atau bahkan meledak lebur bersama warna semesta. Semua memori, kisah, dan debaran kerinduan tentangnya tak pernah pergi, hanya bersembunyi, laiknya teman-teman masa kecil yang mengajak kita bermain petak umpet di sore hari.

     Akan tetap kau temukan kesemua itu di sudut-sudut rak memori yang berdebu. Di balik kegelapan benak setiap sepimu hadir. Di balik tembok-tembok tinggi yang menjadi saksi bisu setiap tangismu kembali mengalir. Bahkan menyatu dalam butir air matamu setiap rindu dan sedu kembali bergulir. Jangan kau tutup pintu lama itu, tetaplah tersenyum dengan tangan yang terbuka. Menerima dan memaafkan apa-apa yang pernah ada. Bila perlu, dekap mereka lebih erat meski justru menjelma kaktus-kaktus gurun yang berduri dibandingkan dedaunan segar lagi asri.

     Biarkan meski raga dan hatimu berdarah-darah. Biarkan luka mendewasakanmu meski dengan kisah dan perasaan yang membuatmu lara. Sebab semakin kau kunci dan hindari pintu itu, semakin semua itu memberontak di dalam dan menjebakmu untuk kembali menghadapi segala tentangnya.

    Sedih itu seperti bumbu. Dan, bahagia menjadi bahan dasar utamanya. Ingatlah bahwa di dalam sana, kau pernah begitu bahagia. Hargai kebahagiaan yang pernah ada sehancur apapun pada akhirnya setelah terluka. Dan, bahagiamu bukan hanya pada dia, kan? Itu tak mungkin terjadi, sebab Tuhanmu sungguh Maha Baik. Masih banyak bahagia yang belum kau temukan. Buka pintu-pintu bahagiamu yang lain.

     Jangan lupa untuk berterima kasih pada Sang Pencipta, sebab sejarah dan semesta perasaan yang lalu telah menjadi jembatan untukmu menemukan berlian kehidupan. Menemukan harta karun pelajaran hidup. Bersahabat baik dengan masa lalu. Memaafkan diri dan segala sedu sedannya. Yang kau butuh bukanlah lupa, tapi sembuh dan terbiasa. Bisa, ya? 🙂

—sabithaayu, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *