Iman yang Amin

Sumber: Google.com

Malam natal itu semakin gemerlap
Dihiasi oleh pernak-pernik lampu gemerlap cemara
Saat hening kicau burung gereja menyeruak
Ledakan terdengar samar, menghujam telinga tuli

Salib tergeletak, jemaat tak sadar diri
Tanpa kusadari ternyata disana ada bom bunuh diri
Kami meraung atas nama persamaan, lalu bersimbah dengan darah perbedaan
Ini semua Mengapa!

Ada apa Tuhan!
Jika Engkau menciptakan kami berbeda, lantas mengapa harus ada darah yang menetes ?.
Mengapa diantara kita harus, berebut benar atas ke taatan kepadaMu.

Tuhan jika kami berseteru atas namamu, maka dimana lagi tempat bagi kami untuk berdamai.
Jika lautan darah perang agama, sudah mengering
Hingga salib yang dipikul yesus runtuh
Adakah musa yang membelah lautan
Sedang Engkau melumat fir’aun dikaki laut merah

Aku mungkin tidak akan mencapai itu semua Tuhan. Saat idiom para pemuka agamaku, selalu mengatakan untuk “tunduk terhadap iman” .
Lalu iman mana yang ia tuju. Apakah iman yang mengamini pertumpahan, atau iman yang rahmatan.

Aku benar-benar buta Tuhan, saat telah jelas kau persaksikan pintu konstantin terbuka untuk Al- Fatih.
Atau bahkan Al Ayubi menyembuhkan Lion Heart IV dipintu ajalnya.

Dimana kebenaranMu Tuhan!
Saat umatmu mempermasalahkan keEsaanmu lewat diktum-diktum monotheis.
Padahal, telah kau kumandangkan suara kebajikan Lewat Theressa tua, dengan tangan gemetarnya memanggul pesakitan warga india.

Lalu apa, iman yang ia amini itu Tuhan!.
Sedang Bagiku iman yang sungguhnya, adalah berdamai dengan sesama tanpa prasangka.
Jika itu terlalu berlebihan Tuhan, maka disisi manalagi kami harus menaruh harap.
Akankah kita harus menaruh harap, pada pedang yang saban hari kita asah
Untuk menusuk saudara kita dilain hari
Sampai kapan, kita harus tertunduk diatas jurang pemisah antara Rohman dan Rokhim Mu.

Saat segalanya sudah tersaji jelas, dinampan perjanjian madinah Rosulmu.
Aku hendak berteriak Tuhan, ditengah hingar binggar takbir atasmu.
Aku hendak memaki, ditengah hening sepi kalangan sufi.
Hidayahkan pada kami Tuhan sebenar-benarnya iman.
Bimbing kami, agar kami pantas berdiri sebagai khalifahmu dibumi
Dan, saat itu semua kita tak perlu repot-repot untuk menEsakan namamu dipertumpahan darah sesama kami

Akary
Pimpinan Redaksi LPM FORMA
-Saat rintihan nurani terdengar
25/12/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *