ilustrasi gambar dari AIsumber: ilustrasi editor dari AI

Penulis: Fathur Rozaq Al-Akbar

Editor: Fatwa Am ‘Azza KD

Setiap tahun, Idul Adha selalu datang membawa pesan yang sama: tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kemanusiaan. Orang-orang mengenakan pakaian terbaiknya, masjid dipenuhi gema takbir, sapi dan kambing dipersiapkan untuk disembelih. Di banyak tempat, daging kurban dibagikan kepada masyarakat kecil yang mungkin bahkan jarang menikmati daging sepanjang tahun. Ada rasa hangat, ada rasa kebersamaan, ada keyakinan bahwa manusia masih punya empati terhadap sesamanya.

Namun, di waktu yang sama, negeri ini justru semakin terbiasa menyaksikan bentuk pengorbanan lain yang jauh lebih kejam. Bukan hewan yang dikorbankan, melainkan rakyat-rakyat kecil yang hidupnya perlahan digilas atas nama pembangunan, stabilitas, investasi, bahkan kemajuan negara.

Saya rasa judul “Idul Adha dan Pesta Babi” terasa relevan hari ini. Sebab, di tengah semangat kurban yang seharusnya mengajarkan pengendalian nafsu dan kepedulian sosial, sebagian penguasa justru terlihat sedang berpesta di atas penderitaan rakyatnya sendiri. Rakus seperti babi yang tak pernah kenyang, proyek terus dibangun, angka pertumbuhan ekonomi terus dipamerkan, tetapi di balik itu ada rakyat kecil yang diam-diam dikorbankan.

Pertanyaan sederhananya adalah: sebenarnya siapa yang sedang disembelih di negeri ini?

Pembangunan di Indonesia sering kali terdengar indah di pidato, tetapi menyakitkan di kenyataan. Jalan tol dibangun, tambang diperluas, hutan dibuka, kota dipoles agar terlihat modern. Semua dibungkus dengan kata “kemajuan”. Tapi jarang ada yang bertanya: kemajuan untuk siapa?

Di Papua, hutan dibabat demi tambang dan proyek besar. Di pesisir, nelayan kehilangan lautnya karena reklamasi. Di kota-kota besar, rakyat miskin digusur atas nama penataan wilayah. Mereka yang punya uang dan kekuasaan duduk nyaman di ruangan ber-AC sambil berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, sementara rakyat kecil dipaksa menerima bahwa penderitaan mereka adalah “harga pembangunan” atau harga sebuah kemajuan.

Lucunya, negara sering meminta rakyat berkorban demi masa depan bangsa, padahal yang menikmati hasilnya belum tentu rakyat itu sendiri. Yang kaya semakin kaya, yang kecil semakin dipaksa bertahan hidup dari hari ke hari.

Kita hidup di negara yang aneh. Ketika rakyat protes soal harga kebutuhan pokok yang naik, mereka diminta bersabar. Ketika lapangan pekerjaan makin sulit, mereka diminta meningkatkan kualitas diri. Ketika pendidikan mahal, kesehatan sulit, dan pajak naik, rakyat lagi-lagi diminta memahami keadaan negara. Tetapi anehnya, para pejabat tetap hidup mewah, proyek mercusuar tetap berjalan, mobil dinas tetap berganti, bahkan korupsi masih seperti budaya yang tidak pernah benar-benar hilang.

Di titik ini, Idul Adha terasa seperti ironi besar.

Karena esensi kurban sebenarnya bukan soal siapa yang paling banyak menyembelih hewan, tetapi siapa yang paling berani menahan kerakusannya. Nabi Ibrahim diperintahkan mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya sebagai bukti ketundukan kepada Tuhan. Sedangkan hari ini, banyak penguasa justru mengorbankan rakyatnya demi mempertahankan kekuasaan dan kepentingan ekonomi.

Banyak luka bangsa ini yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Kasus-kasus pelanggaran HAM terus menjadi bayangan gelap yang sengaja dilupakan. Tragedi demi tragedi berlalu tanpa kejelasan. Korban kehilangan keluarga, kehilangan rumah, kehilangan hidupnya, tetapi negara sering kali hanya memberi janji dan pidato.

Aksi Kamisan menjadi contoh yang sudah berjalan sekitar 900 Kamis. Ya, 900 mungkin bagi para penguasa itu hanya sekadar angka. Tapi bagi kita, itu merupakan perjuangan yang tak pernah dan tak boleh reda.

Waktu terus berjalan, tetapi keadilan seperti sengaja diperlambat sampai rakyat lelah berharap.

Kita sering mendengar kalimat “jangan membuka luka lama”. Padahal masalahnya, luka itu tidak pernah benar-benar diobati. Bagaimana sebuah negara bisa berbicara tentang kemajuan jika masa lalunya sendiri penuh darah dan ketidakjelasan?

Ironisnya, masyarakat kecil selalu menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan. Mereka tidak punya akses kekuasaan, tidak punya media besar, tidak punya uang untuk membeli pengaruh. Suara mereka kalah keras dibanding suara investor, elite politik, atau pemilik modal.

Hari ini ekonomi juga sedang tidak baik-baik saja. Banyak anak muda kesulitan mencari pekerjaan. Harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan mahal, dan hidup terasa semakin sempit. Orang bekerja lebih keras dari sebelumnya, tetapi tetap sulit merasa aman secara finansial.

Namun, di tengah situasi seperti itu, kita masih dipaksa percaya bahwa semuanya sedang baik-baik saja hanya karena angka pertumbuhan ekonomi diumumkan naik sekian persen.

Padahal rakyat tidak makan grafik.

Rakyat tidak hidup dari rapat-rapat kabinet.

Rakyat hidup dari harga beras, dari isi dompet, dari apakah mereka masih mampu membayar sekolah anaknya bulan depan.

Kadang terasa negeri ini terlalu sibuk membangun gedung, tetapi lupa membangun rasa keadilan. Terlalu sibuk mengejar investasi, tetapi lupa menjaga martabat rakyatnya sendiri. Seolah kemajuan hanya diukur dari beton, jalan raya, dan angka statistik, bukan dari apakah masyarakatnya benar-benar hidup dengan layak.

Dan yang lebih menyedihkan, sebagian masyarakat mulai terbiasa melihat ketidakadilan. Kita marah sebentar di media sosial, lalu lupa keesokan harinya. Kita mengutuk korupsi, tetapi tetap memilih pemimpin yang sama. Kita sedih melihat rakyat kecil ditindas, tetapi diam ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.

Mungkin karena kita terlalu lelah. Atau mungkin karena kita mulai kehilangan harapan bahwa keadaan bisa berubah.

Idul Adha seharusnya menjadi momen refleksi bahwa manusia harus mampu menaklukkan sifat rakus dalam dirinya. Sebab, kehancuran sering lahir bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena keserakahan yang tidak pernah diberi batas.

Negeri ini sebenarnya kaya raya. Tanahnya subur, lautnya luas, sumber dayanya melimpah, katanya. Tetapi, entah kenapa rakyat kecil masih harus hidup dengan ketakutan soal makan besok pagi, masih ada banyak generasi bangsa yang tidak mendapat akses pendidikan yang layak.

Karena itu, pertanyaan “siapa yang diam-diam dikorbankan?” mungkin tidak perlu dijawab terlalu jauh.

Jawabannya ada di sekitar kita.

Mereka adalah petani yang tanahnya diambil.

Nelayan yang lautnya tercemar.

Mahasiswa yang suaranya dibungkam.

Masyarakat adat yang hutannya dihancurkan.

Buruh yang diperas tenaganya.

Dan jutaan rakyat kecil yang hidupnya terus diminta mengerti keadaan, sementara para elite sibuk menikmati pesta kekuasaan di tengah penderitaan.

Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan seharusnya lahir dari ketulusan dan kemanusiaan. Bukan dari kerakusan yang dibungkus pidato pembangunan.

Sebab ketika rakyat terus-menerus dijadikan korban, mungkin yang sedang kita rayakan bukan lagi semangat kurban, melainkan pesta besar orang-orang yang lupa bahwa kekuasaan juga punya tanggung jawab moral.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *