Penulis: Nabila Khusna
Hujan akhir Oktober menitik pelan di pelataran kampus tua,
membelai dedaunan gugur yang menyimpan sisa langkah kita.
Langit berwarna kelabu, seolah menyulam duka jadi doa,
sementara rintik-rintiknya menulis syair di halaman kenangan.
Di kelas yang hangat, cahaya senja masuk lewat jendela,
menyentuh buku-buku yang terbuka seperti dada yang rindu.
Suaramu dulu adalah jeda di antara bunyi hujan dan waktu,
membuat diam menjadi bahasa paling indah yang pernah kutahu.
Kelas yang ramai kini bagai orkestra yang tak lagi berirama,
tawanya menggema tapi tak mampu mengisi ruang yang kosong.
Aku duduk di bangku yang sama, mendengar gema langkahmu,
berharap satu kali lagi, hujan memanggilmu lewat suara yang samar.
Pada bentala yang menua, petrikor menebar aroma yang sendu,
seolah bumi tengah bernapas, mengingat kisah yang telah pudar.
Aku menatap langit, mencari makna di antara kabut dan air,
namun yang kutemukan hanya bayanganmu, samar tapi tetap hangat.
Rintik hujan menciptakan syair tentang pulang yang tak terucap,
membawaku pada ruang di mana kenangan menjadi rumah.
Dan di bawah langit Oktober yang menangis sore ini,
aku tahu, tak semua yang pergi benar-benar menghilang.

