Penulis : Maftuch Fuadi
Editor : Dennia Shinenauky Niza
Pada kehidupan sehari-hari, kita seringkali mengisi waktu dengan membaca berita, atau sekedar mengikuti trend yang sedang berkembang dalam platform digital. Khususnya pada platform media sosial, juga tidak jarang kita terseret dalam arus masa yang seringkali menggugah emosi, muatan berita yang kadang kontroversi serta diperkuat oleh narasi publik yang seringkali ngawur dan liar. Persoalan-persoalan tersebut seakan merupakan hal yang biasa, bahkan sudah menjadi konsumsi sehari-hari, hal tersebut semakin hari semakin normal dan bahkan menjadi pengendali penilaian kita terhadap suatu isu, masalah, trend, dan sebagainya.
Minimnya perhatian atas apa yang benar dan salah, apa yang baik dan buruk, mengakibatkan penurunan kualitas kita dalam melihat dan menilai sesuatu. Dan kita tidak sadar sedang dikendalikan oleh siapa dan untuk apa? Budaya scrolling Twiter (X), Instagram, TikTok, dan seterusnya. Pada dasarnya, seringkali mempermudah kita dalam mencari dan menyimak isu yang sedang berkembang. Dulu, untuk mengakses berita dan trend kita perlu untuk menonton TV atau membaca berita, namun sekarang cukup buka HP, lalu buka aplikasi sosial media kita sudah bisa tahu semua hal tersebut.
Namun dibalik kemudahan dan percepatan informasi tersebut, kita dipaksa dan dibiasakan untuk mengambil kesimpulan secara cepat. Seperti hal yang sangat sepele, mislnya memberikan like, komentar, atau posting ulang. Dalam dunia Pendidikan pun juga seperti itu, dengan kemudahan kita mengakses pengetahuan melalui AI, seringkali kita malas untuk membaca buku-buku tebal, mencari artikel, bahkan menulis prompt yang agak panjang dan jelas pun, kita malas.
Hal ini sering kali dianggap wajar dan normal, tapi coba kita bertanya dan merenung sebentar, untuk apa sebenarnya kita perlu mengetahui segala sesuatu yang sedang menjadi tren dan perbincangan hangat? Apakah untuk menganalisis dan memperbaiki? Apakah Untuk refleksi dan belajar? Atau untuk sekedar Eksis? Atau hanya untuk ada obrolan di tongkrongan? Yang jelas tujuan kalian mau apapun itu tidak ada yang membatasi. Tapi tidak menutup kemungkinan juga, kita akan terseret dan ikut campur dengan urusan yang semestinya kita sendiri pun tidak faham. Pada abad 400 SM ada orang tua yang dianggap gila bernama Socrates. Jika menerima suatu informasi, Socrates akan mengajukan tiga pertanyaan mendasar: apakah informasi tersebut benar?, apakah informasi tersebut baik?, dan apakah informasi tersebut bermanfaat?.
Jika tidak ada yang lolos dalam tiga pertanyaan tersebut maka Socrates akan menolak informasi tersebut. Tapi apakah kita sekarang yang hidup di era serba capat dan canggih ini masih mempertimbangkan hal itu? Atau malah kita ini berkebalikan dengan Socrateslebih mementingkan keberadaan informasi itu sendiri daripada menilai apakah informasi tersebut benar-benar penting? Tapi memang benar kalau Socrates itu dianggap gila, untuk apa bertanya tentang hal yang tidak perlu, kalau semisal informasi itu benar, baik, atau bermanfaat pastinya kita juga akan menyaring itu secara otomatis.
Kemarin ketika kelas perkuliahan berssama Pak Suhermanto Goevara, beliau sempat menyinggung tentang parameter kebenaran. Beliau menjelaskan tentang parameter kebenaran itu (dulu) ada 3, yaitu:
1. Koherensi (konsisten dan runtut)
2. Korespondensi (sesuai dengan fakta)
3. Pragmatis (bermanfaat atau tidak). Tapi sekarang, di Era digital parameter tersebut sudah jarang digunakan karena sesuatu bisa dianggap sebagai kebenaran dan bisa dinilai ketika sesuatu tersebut mendapatkan perhatian banyak orang (memiliki banyak like, komentar, dan posting ulang). Di Era digital seperti sekarang parameter kebenaran merupakan data di media sosial, tidak peduli itu benar-salah, baik-buruk yang penting viral itu adalah benar.
Persoalan tersebut juga sempat dibahas oleh Budi Hardiman dalam bukunya “Aku Klik maka Aku Ada”. Beliau sempat menyinggung tentang cara berfikir manusia modern dimana teknologi semakin maju dan tak terkendali, manusia justru malah semakin primitif (cara berfikirnya semakin mundur). Kita semakin dibiasakan untuk cepat, cepat, dan cepat. Informasi terus datang tak beraturan, setiap menggeser layar sudah beda isu bahkan sudah beda permasalahan, mulai dari politik, ekonomi, bahkan kasus-kasus orang yang tidak kita kenal tapi karena ramai diperbincangkan kita terbawa dalam narasi-narasi yang sedang ada bahkan ikut komentar dan menjusftifikasi.
Sungguh kita harus bersyukur dengan perkembangan teknologi yang semakin maju ini, tapi harus diimbangi dengan etika dan cara berpikir yang benar agar kita tidak semakin buas dan liar. Karena kebebasan yang muncul dalam bermedia sosial seringkali membawa kita terhadap perilaku-perilaku primitif; menanggapi dengan seenaknya bahkan sampai mencaci orang-orang yang tidak sesuai dengan kita.
Inilah masalah yang sebenarnya kita hadapi sekarang, yaitu ketidaktahuan kita akan sesuatu yang tidak kita ketahui. Semua informasi masuk, semua informasi kita terima, dan kita respon. Tanpa ada pemahaman dan pengetahuan yang memadai, hal itu semakin berbahaya ketika pendapat kita viral. Karena dengan ke populeran, semua mata akan tertuju dan menggunakan perspektif kita sebagai pembanaran, padahal kita belum saling kenal.
Memang dengan adanya platform dapat mewadahi kita dalam berkomunikasi lebih cepat untuk menghubungi seseorang, bahkan semakin mudah untuk berinterksi dengan keluarga jauh. Dan ini adalah tantangan yang memang harus kita perhatikan bersama, tentang kekosongan hukum, nilai, dan norma dalam bermedia sosial. Tanpa etika kita akan terjebak dalam perilaku primitif, saling merendahkan, bahkan rasis. Tidak bisa dipungkiri, memang manusia sudah memiliki dorongan untuk diakui, ingin didengar, dan ingin dianggap benar. Dilain sisi, media sosial juga memberikan panggung yang lebih besar untuk mendorong hal tersebut. Akibatnya, pengakuan sosial menjadi suatu kebutuhan yang bisa didapatkan secara instan, dan sarana media sosial seperti like, komen, dan share akan menjadi simbol kecil daripada pelegitimasian tersebut.
Maka bisa kita simpulkan bahwa ukuran nilai kita sudah bergeser dari kebenaran ke popularitas, perubahan itu tidak hanya pada cara kita berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi tentang bagaimana cara kita memahami realitas itu sendiri. Di Era ini, setiap orang bisa berbicara ke banyak orang, tapi tidak semua orang bisa bisa sama-sama saling belajar bagaimana berpikir sebelum berbicara.
Di zaman ini, mungkin kita tidak bisa menolak semua informasi seperti halnya Socrates, dimana dia sampai disebut sebagai orang gila di zamannya, dengan keberanian dan kegigihannya dalam menegakkan kebenaran dia sampai zaman sekarang pun masih berpengruh terhadap kehidupan manusia. Dari kisah Socrates tersebut, mungkin kita tidak bisa menerapkan semua yang dilakukan olehnya. Tapi setidaknya, kita masih bisa untuk mewarisi satu hal darinya, yaitu; bertanya sebelum percaya, dan berpikir sebelum bereaksi.
Karena tantangan terbesar kita sekarang bukan kekurangan informasi seperti halnya orang-orang zaman dulu, tetapi lebih kepada bagaimana mengolah dan memilah informasi tersebut dengan bijaksana. Dan kebijaksanaan hanya akan didapatkan ketika kita berani mempertanyakan ulang atau memberikan jeda untuk refleksi terhadap diri kita sendiri, dengan berani meragukan kita akan mendapatkan “Apa sebenarnya kita sekarang”.

