Penulis: Wafiq Azizah

Editor: Moh. Faiqul Waffa

Pagi menyapa begitu hangat, rona mentari halus menembus kulitku, pijakan mantap yang setiap harinya kupanjatkan pada Tuhan dengan seribu harapan. Rantauan bagai awan yang membawaku mencari pelangi, rela menerpa hujan dan badai demi indahnya ujung langit.

Fajar menyingsing. Sang surya baru akan pulang saat malam menjelang. Itu bukan pemandangan yang asing bagiku. Pulang dengan pundak penuh tanggung jawab menjadi alasan kasurku harus awet lebih lama, bantal yang menjadi saksi pilunya cerita hidupku, hingga noda air mata yang sukar berpindah.

Aku Rania, perempuan kecil dengan seribu usaha untuk duniaku yang penuh warna, aku tak jemu menciptakan tawa di sekelilingku, menyembunyikan pilu yang tak satupun mereka tahu.

Setiap harinya aku pergi ke kampus, menjadi anak organisasi yang menurutku begitu menyenangkan. Namun, bukan alasan itu yang membuatku pulang larut. Tahukah kalian, seberapa sering namaku disebut? Bukan karena aku penting, mungkin hanya hasil didikan orang tua yang berhasil.

Keaktifanku terkadang membuat luka bagi sebagian mereka yang memiliki rasa, bagiku tenggelam dalam diksi mati rasa seolah menciptakan seorang Rania yang tak pandai menghargai. Aku dianggap “mau” dengan banyak lelaki, padahal aku tak pernah menggoda siapapun, menyakiti dan menolak dengan tak sopan menjadi fitnah terbesar yang mengoyak batinku.

Dalam sepi dan ketenangan aku pergi dengan langkah lesu meniti satu perdua anak tangga yang sedikit berlumut, jika salah sedikit saja aku memijak, mungkin aku tak merasakan luka lagi namun bahagia bersama dekapan Ilahi.

Aku termangu seorang diri. Diam, tapi isi kepala begitu liar, berisik, seperti pasar yang penuh hiruk-pikuk. Lantai lusuh itu menjadi saksi betapa lamanya bangunan ini terbengkalai, tak seorang pun mengunjungi selain aku hari ini.

Kukira aku akan larut dalam kesendirian. Tiba-tiba, seseorang menyodorkan sehelai saputangan. Tanpa bertanya sepatah kata pun, aku meraihnya untuk mengelap air mata yang entah sudah berapa banyak jatuh.

“Rania, aku tidak tega melihatmu terus seperti ini” katanya pelan.

“Aku ingin membahagiakanmu. Mungkin orang lain melihatmu sebagai gadis hebat dengan segudang kesibukan. Tapi mereka tidak tahu bagaimana semesta kadang tak berpihak padamu” Sambung lelaki itu dengan nada menenangkan.

Aku mengenalnya, Itu suara Restu. Laki-laki yang satu organisasi denganku. Sialnya, aku tak mengenalnya lebih jauh. Bisa dibilang, aku tak menggubris perkataannya dan terus membisu. Hingga mega biru berubah jingga, pertanda malam segera tiba.

Masih sabar saja laki-laki itu menemaniku. Bahkan menuntun langkahku yang sedikit goyah, mungkin karena duduk terlalu lama dengan posisi yang terus meringkuk, membuat otot dan sendiku kaku.

Kami berjalan hingga pertigaan. Kebetulan tempat tinggal kami tak begitu jauh, hanya berbeda arah. Kami berpisah di sana. Di bahu jalan, ia masih tertegun, menungguku hilang dari pandangannya. Ia menyelipkan senyum tipis, penuh ketulusan.

Aku merebahkan tubuhku di kasur andalanku. Kali ini, bukan kesedihan yang membayangiku. Justru sekelebat senyum itu—senyum Restu—terus terbayang di kepalaku.

Apa ini yang dinamakan cinta?

Aku memegang pipiku yang hangat. Merah, agaknya. Kuraih bolpoin dan notebook bersampul merah muda dari dalam ransel kecilku. Mulai menggores tinta, merangkai kata, mencari diksi paling langka agar tak seorang pun memahaminya.

Benar saja setelah kejadian itu aku menjadi sering menulis tentang laki-laki itu, saat aku berpapasan ia selalu melontarkan senyum paling indahnya atau hanya sekedar menyapa

“Selamat pagi, Rania” dengan penuh semangat dan lambaian yang bergerak sangat lamban.

“Selamat pagi, Restu” selalu saja pipiku tampak memerah, ah itu kan hanya sapaan belaka.

Aku seperti gila. Tersenyum sendiri. Seakan aku manusia paling bahagia di muka bumi ini.

Suatu hari aku sangat sibuk, sepertinya akan larut malam untuk pulang kali ini. Akhir-akhir ini kertas-kertas menumpuk di meja belajarku, entah soal baru atau revisi untuk organisasi.

Dalam kesibukanku yang melebihi dosen itu menjadi alasanku untuk sedikit lupa kepada Restu, ia pun tidak tampak beberapa hari ini, aku tak terlalu mempermasalahkan hal itu dan hanya terus berpikir ia memiliki kesibukan yang tak kalah banyak dariku.

Alih-alih bisa melupakannya aku malah semakin memendam kerinduan padanya, setiap aksara yang panjang hanya akan menjadi kalimat singkat yang berisi pesan rindu setiap baitnya, puisi yang nyaris utuh enggan untuk kuselesaikan, enggan untuk memberi ending bahagia karena khawatir akan kata melupa.

Di depan cermin, aku berkata pada diri sendiri:

“Rania, ingatkah saat ia menemanimu? Saat engkau merasa menjadi gadis paling bahagia? Tapi ingat juga saat fitnah keji menghantammu. Saat kau tertatih-tatih bertahan, memeluk dirimu sendiri. Secepat itu kau lupa?”

Celotehan itu menghancurkan niatku untuk berhenti mempercayai seseorang, aku juga menulis untuk tidak lagi memberi ruang pada siapa saja yang hendak menempati rumahku, rumah dalam hati kecilku.

Cerita yang tidak pernah kita mulai tampaknya harus berakhir, harus berakhir dengan sepihak atau ada kemungkinan engkau sedang menyiapkan sesuatu yang indah untukku nanti? Sampai harus meninggalkanku dalam sepi tanpa basa basi, ah lagi-lagi ini hanya ilusi…toh untuk apa aku menerimanya lagi jika sekalipun ia mengucap janji.

Besok malam, sepulang kuliah, aku berniat mengelilingi Kota ini. Kebetulan tiga hari ke depan adalah cuti bersama. Kota Lama jadi tujuanku. Entah untuk termenung, mencicipi kuliner, atau sekadar melihat manusia yang lalu-lalang.

Pagi hari setibanya di kampus, aku menjalani kegiatan seperti biasa, mahasiswi rapi yang aktif diskusi dan organisasi, kebetulan kegiatan dalam organisasi yang sama-sama kami ikuti sepi akan agenda beberapa bulan ini sehingga aku lebih tenang untuk tak sesering dulu bertemu dengannya. Aku hanya berfokus pada satu organisasiku yang lain, memberi kabar baik bahwa aku bisa berkembang dan kabar buruknya tak sekali aku harus menelan sepi.

Rona jingga mulai menyoroti jendela kelas, seluruh mahasiswa berhamburan meninggalkan kampus untuk kembali pulang, pemandangan lesehan meja bundar di atas trotoar kampus masih menjadi pemandangan epic yang menyuguhkan tanda pola pikir mahasiswa masih waras.

Bertumpuk buku-buku berbobot dan terlihat seseorang berambut gondrong tampak menjelaskan sesuatu, itu sudah pasti kajian ilmu, kegiatan mahasiswa kala mata kuliah telah usai. Atau ada yang hanya sekedar menyeruput kopi sambil berbincang ringan dengan alas bekas yang masih dapat digunakan.

Sungguh nikmat dengan sepoi-sepoi angin yang mengisi ruang kosong pada setiap tongkrongan mereka. Aku tak berkehendak mampir kali ini, seperti niat awal yang akan mengunjungi Kota lama.

Sesampainya di kos aku langsung membersihkan diri dan bersiap-siap. Selia, temanku, tampak heran melihatku tergesa. Sebab aku takut bus yang akan ku tumpangi lebih sesak penumpang jika terlalu malam.

Selia yang tak tahan melihatku kesana kemari akhirnya menegurku

“Rania, mau ke mana? Rapi banget. Humm, pasti mau ketemu ‘dia’, ya?” godanya.
“Apa sih, Sell. Aku cuma mau lihat bintang malamnya kota ini.”
“Jangan lupa oleh-oleh yaaa!” teriak Selia sambil tertawa.

teriakan andalan Selia yang masih terdengar samar karena aku telah berlari meninggalkan kos.

Setelah menanti sekitar 10 menit di halte, bus merah dengan kerangka yang gagah menghampiriku, dengan sigap kaki ku melangkah menaikinya, perjalanan 30 menit terasa singkat karena aku sibuk melamun.

Setibanya di Kota lama, suasana begitu ramai. Aku membeli satu minuman dan duduk di anak tangga.

Aku merogoh pena dan buku kecil, Menulis sambil menikmati megahnya malam. Angin silir tak henti berhembus.

Tepat pukul 21:00 aku berniat pulang, saat perjalanan menuju halte bus tiba-tiba di seberang seperti sedang terjadi kericuhan. Aku berhenti sejenak dan mengamati perlahan, terlihat banyak laki-laki berseragam hijau kecokelatan, serta orang-orang yang mengerumuni dengan penasaran.

Perlahan, kerumunan terbuka.

Betapa aku terkejut setengah mati. Itu Restu, dengan wajah babak belurnya menatap ke arahku.

Mataku terbelalak, tubuhku kaku seolah tak percaya bahwa laki-laki yang pernah hidup dalam ceritaku dan hilang secara misterius kini berdiri di depanku.

Dengan wajah tak karuan akibat tonjokan pria kekar yang sedang di amankan sekelompok petugas berseragam itu. Hal yang membuatku lebih tertegun adalah ketika memandang laki-laki yang sedang diamankan petugas berseragam. Tak lain adalah teman beda jurusan yang pernah menyatakan cintanya padaku, sungguh aku tak bisa untuk menerima perasaan baiknya, aku ingat sekali masa itu.

Aku sontak berlari kecil dan membiarkan kejadian itu berlalu begitu saja, jantungku tak karuan, panik. Aku hanya ingin pulang sesegera mungkin malam itu. Untungnya bus tiba tak lama setelah beberapa menit aku menunggu, masuk dan duduk tepat di samping jendela, bus berlalu dengan meninggalkan sekelebat bayang kericuhan dan senyum tipis Restu yang hampir tak terlihat karena lebamnya bibir dan sembabnya mata.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, dan hilangnya Restu saat itu, apakah ia beradu otot sebab diriku atau menghilang sebab tak ingin menyakiti ku?

Dan laki-laki itu…

Sepanjang jalan dihiasi seribu pertanyaan yang tak henti berputar di kepalaku, apakah ia ingin membalas dendam pada Restu? Jika ini ada kaitannya denganku bagimana? Aku sesekali meneteskan air mata diselimuti penasaran dan rasa bersalah. Beberapa hari setelah cuti bersama, perkuliahan kembali aktif. Semua organisasi berjalan seperti seharusnya, tapi anehnya aku tidak pernah melihat Restu lagi sejak kejadian terakhir malam itu di Kota lama…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *