Reporter: Hatman Roqfah
Editor: Fatwa Am ‘Azza KD
FORMA (26/05) – Parkir mobil di depan gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Sunan Ampel Surabaya kembali menjadi sorotan. Kondisi tersebut dinilai merusak estetika wajah fakultas yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Sorotan muncul setelah DEMA FUF menempelkan surat peringatan pada sejumlah kendaraan yang parkir di area depan gedung fakultas sebagai bentuk respons atas keluhan mahasiswa terkait parkir sembarangan di area larangan parkir.
Ketua DEMA FUF, Hengki Fernando, menjelaskan bahwa mahasiswa telah lama mengeluhkan kondisi tersebut karena dinilai mengganggu tampilan depan gedung fakultas.
“Kadang ada tamu atau mahasiswa yang ingin foto di depan fakultas merasa terhalang karena ada mobil parkir. Padahal di sana sudah ada tulisan ‘Dilarang Parkir’,” ujarnya.
Menurut Hengki, persoalan parkir tersebut sebelumnya telah dibahas bersama pihak dekanat dalam forum Sapa DEMA. Dalam pembahasan itu, mahasiswa menyampaikan keinginan agar area depan gedung tetap steril dari kendaraan demi menjaga estetika fakultas. Pihak dekanat juga telah meletakkan pot tanaman sebagai pembatas agar tidak digunakan untuk parkir, tetapi pot tersebut kerap dipindahkan.
“Mahasiswa sudah banyak mengeluhkan kondisi tersebut. Akhirnya kami melakukan tindakan sendiri dengan memindahkan kembali potnya dan memberikan ultimatum tersebut. Dari Pak Dekan juga sudah ACC,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Abdul Kadir Riyadi, membenarkan bahwa penataan area depan fakultas telah menjadi perhatian pihak dekanat sejak lama. Menurutnya, area depan gedung memang tidak diperuntukkan sebagai tempat parkir.
“Kami ingin area depan tidak dipakai parkir karena mengurangi keindahan. Apalagi kalau parkirnya menumpuk, saya melihatnya kurang enak. Kami semua juga punya inisiatif agar area depan dibersihkan dari parkir mobil,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kendaraan yang parkir di lokasi tersebut tidak selalu berasal dari dosen maupun tenaga kependidikan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.
“Kadang yang parkir bukan dosen kami atau pegawai kami, tetapi tamu maupun pengguna lain,” katanya.
Di sisi lain, salah satu dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Nurhidayat Wahiddudin, mengaku memahami keinginan pihak fakultas untuk mensterilkan area depan gedung. Namun, ia menilai kebiasaan parkir di lokasi tersebut tidak lepas dari minimnya lahan parkir di lingkungan kampus.
“Kalau tempat parkir lain sudah penuh, akhirnya banyak yang parkir di depan fakultas. Lama-lama itu seperti menjadi kebiasaan atau normalisasi,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan utama bukan hanya soal ketertiban parkir, tetapi juga keterbatasan fasilitas parkir bagi pegawai akademik.
Hal serupa juga disampaikan oleh petugas keamanan kampus, Muhammad Fiki. Ia mengatakan kondisi parkir di lingkungan UINSA selama ini berjalan secara kondisional karena kapasitas parkir mobil yang terbatas.
“Kalau area samping Ushuluddin dan FSH sudah penuh, pengguna kendaraan sering bingung harus parkir di mana,” katanya.
Dalam wawancara, pihak dekanat berencana mengoptimalkan penggunaan gedung parkir bertingkat di belakang Fakultas Ushuluddin serta membuka area depan gedung B4 sebagai lokasi parkir alternatif.

