Ilustrasi lanskap seorang mahasiswa UIN duduk lesu di bangku taman kampus di tengah kerumunan orang yang sibuk. Di sekitarnya terdapat balon kata berisi kritik sosial seperti 'Kok kamu terus?' dan 'Haus validasi?'. Terdapat tulisan 'Donatur dilarang ngatur' di dinding belakang.

Penulis :Mohammad Hengki Fernando
Editor  : Thoriq Syauqillah

Mengurai budaya serba salah di antara mahasiswa”

Menjadi mahasiswa UIN ternyata bukan hanya soal belajar di ruang kelas atau berdiskusi tentang kitab dan teori. Ada satu pelajaran lain yang sering tidak disadari: bagaimana bertahan di tengah budaya kampus yang serba salah. Terlalu progresif dianggap berlebihan, tetapi menjadi manusia apatis juga tidak pernah dibenarkan. Mahasiswa akhirnya hidup dalam situasi yang aneh; bergerak dicurigai, diam disalahkan.

Fenomena ini bukan hanya datang dari pihak kampus atau birokrasi, tetapi justru sering terasa lebih kuat dari sesama mahasiswa sendiri. Ada semacam budaya tidak tertulis yang mengatur seberapa jauh seseorang boleh terlihat aktif. Ketika seseorang terlalu sering muncul dalam kegiatan atau diskusi, komentar-komentar kecil mulai bermunculan. Komentar itu tidak selalu keras, tetapi cukup untuk membuat seseorang merasa sedang dinilai.

“Kok Sumardi terus.”

“Kok kamu terus.”

“Coba ajarin yang lain.”

Kalimat-kalimat seperti ini terdengar biasa saja, seolah hanya bentuk kritik yang wajar dalam organisasi. Namun jika didengar berulang kali, kalimat-kalimat itu perlahan terasa seperti tuduhan. Seolah-olah keaktifan adalah sesuatu yang mencurigakan dan hal itu bisa berpengaruh terhadap keaktifan mahasiswa, apalagi mahasiswa Gen Z yang terkenal bermental strawbery; baper

Padahal prosesnya tidak sesederhana yang terlihat. Banyak kegiatan berjalan melalui usaha yang tidak sedikit: menghubungi orang satu per satu, mengatur waktu rapat, menyusun konsep, memperbaiki proposal, sampai menghadapi kemungkinan penolakan. Tidak semua usulan diterima. Beberapa gagasan berhenti di meja diskusi. Tetapi proses itu tetap dijalani dengan harapan ada sesuatu yang bisa bergerak.

Ironisnya, ketika kegiatan berjalan dengan orang-orang yang sama, kesimpulan yang muncul sering kali terlalu cepat: terlalu dominan. Usaha untuk berbagi peran jarang diperhitungkan. Ajakan sudah dilakukan, kesempatan sudah dibuka, bahkan proses mengajari sudah dicoba. Tetapi tidak semua orang mau mengambil peran yang sama. Sebagian memilih ikut seperlunya, sebagian lagi memilih tetap di pinggir. Namun kegagalan kolektif itu sering berakhir menjadi kesalahan individu.

Lebih jauh lagi, keaktifan bahkan kadang dibaca sebagai motif pribadi. Tidak jarang muncul komentar yang terasa lebih tajam daripada sekadar kritik organisasi.

“Kamu haus validasi ya.”

Kalimat seperti itu mungkin dimaksudkan sebagai candaan atau sindiran ringan, tetapi dampaknya tidak ringan. Seolah-olah setiap usaha untuk bergerak selalu dicurigai memiliki kepentingan tersembunyi. Seolah-olah seseorang tidak mungkin bergerak hanya karena merasa bertanggung jawab atau karena ingin membuat sesuatu berjalan.

Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Ada orang-orang yang tetap bergerak meskipun beberapa usulannya ditolak. Tetap mencoba meskipun hasilnya tidak selalu sesuai harapan. Tetap hadir meskipun sering merasa lelah. Namun yang terlihat oleh banyak orang hanya permukaannya saja: nama yang muncul berulang-ulang.

Di sinilah letak paradoks menjadi mahasiswa yang mencoba progresif. Kampus sering berbicara tentang pentingnya mahasiswa aktif dan kritis, tetapi dalam kehidupan sehari-hari keaktifan sering memunculkan jarak sosial. Seseorang bisa saja dihargai di forum resmi, tetapi dipersoalkan dalam percakapan santai antar mahasiswa.

Akibatnya muncul situasi yang serba salah. Jika terlalu aktif, akan muncul komentar-komentar yang mempertanyakan motif dan kehadiran. Jika memilih diam, akan muncul penilaian bahwa seseorang tidak peduli atau tidak mau berkontribusi. Mahasiswa akhirnya seperti berjalan di ruang yang sempit: terlalu maju dianggap berlebihan, terlalu mundur dianggap tidak berguna.

Budaya seperti ini perlahan melahirkan kelelahan yang tidak terlihat. Yang melelahkan bukan hanya pekerjaan organisasi, tetapi juga suasana sosial di sekitarnya. Seseorang bisa menerima penolakan program dengan lapang, tetapi sulit menerima tuduhan bahwa usahanya hanyalah bentuk mencari pengakuan.

Lebih berbahaya lagi, budaya ini mendorong banyak mahasiswa untuk memilih jalan aman. Diam menjadi lebih nyaman daripada bergerak. Tidak terlihat menjadi lebih aman daripada mencoba sesuatu. Apatisme akhirnya bukan muncul karena mahasiswa tidak peduli, tetapi karena mereka belajar bahwa bergerak terlalu jauh hanya akan mengundang penilaian.

Padahal organisasi mahasiswa selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia mencoba, meskipun tidak selalu berhasil. Kegiatan tidak berjalan hanya dengan niat baik atau wacana besar. Ia berjalan karena ada orang-orang yang mau mengurus hal-hal kecil yang sering tidak terlihat.

Mungkin inilah derita yang jarang diceritakan: derita menjadi anak UIN yang mencoba bergerak di tengah budaya yang ragu terhadap orang yang bergerak. Terlalu progresif dianggap masalah, tetapi menjadi manusia apatis justru dianggap lebih bermasalah.

Pada akhirnya mahasiswa sering dihadapkan pada pilihan yang melelahkan: tetap bergerak dan siap dicurigai, atau berhenti bergerak dan perlahan menghilang. Dan di tengah pilihan yang sempit itu, pertanyaan yang paling sering terdengar tetap sama:

“Kok kamu terus?”

Ah sial, saya terlalu banyak mengumpat, saya sudah lelah, apa berhenti saja ya, tapi kok aku kalah sama keadaan atau sebenarnya keadaan itu sendiri yang tak pernah mengerti, karena aku sudah jadi warga Surabaya. Oke, aku akan bilang “Janc03…..”.

Sialnya, -eh untungnya- katanya Bernadya hidup harus tetap berjalan, maka penawar utama kita, lawan saja roda setan itu. Ah, lagi lagi saya lebih banyak membual mungkin karena capek ya, ya sudahlah mari kita baringkan badan sejenak putar lagu baskara, kali ini berjudul “cincin” Hindia.

Persetan kata siapa mau bilang apa tak guna

Mereka hanya tahu namamu mereka takkan jadi diriku

Intinya kawan, Selain DONATUR, dilarang NGATURRRR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *