De-sakralisasi

                           doc.google

Oleh: Darah Kopi*

Geger genjik tentang teologi kembali mewarnai Bumi Pertiwi. Dalam drama bernuansakan konflik internal yang tersaji dan disajikan oleh alam semesta, aktor dan sutradanya tetap: kalang ekstrimis Kanan. Seolah-olah, para kaum ekstremis Kanan tersebut memang didapuk sebagai protagonis di setiap drama-drama dalam negeri. Namun ada hal yang berbeda dari drama ini, yaitu dengan plot naskah yang berbeda; perihal sejarah Kanjeng Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasalam.

Dilansir dari Suara.com, sosok kiai karismatik dari kalangan NU (Nahdlatul Ulama’) yang tinggal di daerah Yogyakarta bernama K.H. Ahmad Muwafiq, atau lebih populer dengan panggilan Gus Muwafiq, baru-baru ini menjadi sorotan di berbagai linimasa, salah satunya di Twitter dengan trending topik #kamibersamagusmuwafiq yang menembus angka lebih dari 51 ribu (SuaraJogja.id).

Fenomena ini bermula ketika salah satu anggota DPP Front Pembela Islam (FPI) bernama Amir Hasanuddin melaporkan Kiai Gondrong alumnus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta tersebut ke Bareskrim Polri akibat tuduhan penodaan agama. Narasi itu sebelumnya menggema ketika viral di media sosial sebuah gambar yang menunjukkan para aktivis 212 menghardik Gus Muwafiq melalui spanduk dalam reuni dua hari Desember kemarin.

Dugaan tersebut lantaran materi ceramah Gus Muwafiq yang menjelaskan sosok Nabi Muhammad ketika kecil. Pihak yang mempermasalahkan menudingnya menghina Nabi Muhammad, misalnya ketika mengatakan bahwa masa kecil Nabi tidak terlalu terurus oleh kakeknya dan rembes. Gus Muwafiq juga mengajak para jamaah yang hadir di majelis tersebut untuk melihat sejarah kelahiran Nabi Muhammad sebagai peristiwa kelahiran anak manusia biasa; jangan terlalu kelihatan takjub, misalnya, dengan cerita bahwa ketika Nabi Muhammad lahir ada cahaya yang menembus langit.

Dalam proses memahami sejarah agama, penulis mengamati Gus Muwafiq mengajak jamaahnya untuk melakukan desakralisasi agama untuk melihat Nabi Muhammad. Artinya, jamaahnya perlu melakukan sedikit pereduksian aspek kejadian sakral yang berlebihan, dan beralih melihat Nabi Muhammad sebagai sosok manusia biasa dengan batasan tertentu.

Ini bukan soal kebenaran klaim (truth claim) dalam akidah keagamaan. Tetapi terkait pemosisian suatu tokoh junjungan agar lebih mudah mengambil tauladan darinya. Sederhanya, ini hanyalah soal perbedaan perspektif dalam melihat sejarah tokoh idola.
Jika semua kisah-kisah tentang Nabi Muhammad senantiasa bertabur narasi kejadian supranatural, tentunya kita (termasuk penulis) sebagai masyarakat awam atau kaum abangan akan kesulitan menyaksikan gambaran pribadi Muhammad sebagai seorang manusia. Dampaknya daripada itu adalah masyarakat menjadi gagap dan gugup menghayati sosok Nabi Muhammad. Maka, dengan mendudukkan beliau sebagai manusia biasa sama halnya yang lain akan lebih mudah dicontoh kepribadiannya.

Hal ini selaras dengan salah prinsip tauhid yang mengatakan Al-a’rodlu basyariyah, Nabi Muhammad memiliki sifat dan perilaku kemanusiaan pada umumnya selagi tidak mengurangi derajatnya sebagai Nabi. Beliau tetap berdagang, menggembala kambing, tapi tetap terjaga dari dosa (ma’shum), misalnya.
Sebagai komparasi, Lesley Hazelton dalam buku “Pribadi Muhammad: Riwayat Hidup Sang Nabi dalam Bingkai Sejarah, Politik, Agama, dan Psikologi”, (judul aslinya: The First Muslim: The Story of Muhammad. terj. Adi Toha, Banten: Pustaka Alvabet, 2015) mengajak pembaca untuk melihat Muhammad dari sudut pandang kesejarahan yang tetap terikat dengan konteks antropologis, sosiologis, dan psikologis sebagai manusia pribadi dan sosial. Perlu dicatat, penulisan ulang sejarah oleh Hazelton tetap mengacu pada sumber literasi utama yang sudah diakui, seperti karya Al-Thabari, Ibnu Khaldun, dan lain-lain.

Ceritanya juga hampir sama dengan keterangan Gus Muwafiq terkait hubungan Abdul Mutholib, kakek yang mengasuhnya, kurang peduli terhadap cucunya, Muhammad. Mungkin menyebut sumber referensi tertentu akan lebih elok ke depannya, meski berada forum di pengajian umum.
Hal yang menarik, paling tidak bagi penulis adalah proses desakralisasi agama yang dilakukan oleh Hazleton semacam itu menjadikan Nabi Muhammad semakin pantas dikagumi sebagai sesama manusia dan kemudian diimani karena menerima cerita-cerita mukjizat yang tidak lazim. Tak ada yang salah dengan proses semacam itu.

Misalnya ketika pertama kali Nabi Muhammad mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril di Gua Hira, tubuh Nabi Muhammad gemetar, dan kemudian lari ke rumah. Seperti umum diketahui kemudian, Nabi Muhammad meminta istrinya Khadijah untuk menyelimutinya.
Perjumpaan manusia dengan Tuhan atau Malaikat akan kurang diterima bagi kaum rasional. Apalagi seandainya sikap Nabi Muhammad kemudian menunjukkan sikap kegembiraan yang diiringi oleh lantunan musik surgawi. Maka konsekuensi, dengan mudah orang yang tidak beriman menyebutnya sebagai fabel dengan ramuan agama.

Keengganan Nabi Muhammad untuk memercayai apa yang barusan dilihat di Gua Hira menunjukkan sisi manusiawi, apakah ini halusinasi atau semacamnya. Kecemasan dan kegelisahan Nabi Muhammad ketika menerima seruan keilahian untuk menjadi utusan-Nya bisa menjadi pembeda awal mula risalah kenabian bagi umat Islam sangat manusiawi, tidak dengan kelahiran kembali atau pengangkatan ke langit, menyebarangi dimensi luar, dan lain-lain.

Tidak ada legenda semacam itu dalam sejarah pertama kali wahyu turun. Sehingga, kata Hazleton, “Tak ada hal yang bisa membuat kita mudah mencerca, untuk menuduh, keseluruhan kisahnya itu sebagai sebuah karangan, sebuah samaran untuk menutupi sesuatu yang bersifat duniawi seperti delusi atau ambisi pribadi.”

Ringkas kata, sebuah upaya desakralisasi kesejarahan agama, dengan koridor tertentu, tidak perlu dipermasalahkan, selama pembingkaian narasi historis tersebut semakin menambah keyakinan dan menebalkan iman. Bukan sebaliknya, desakralisasi menjadikan kekaguman kepada Nabi Muhammad semakin menurun.

Lantas, bagaimana dengan desakralisasi sejarah Gus Muwafiq tentang Maulid Nabi Muhammad? Apakah semakin memperkuat citra baik terhadap Nabi Muhammad atau justru sebaliknya? Silakan nilai sendiri! Lebih baik husnudzon, barangkali apa yang Gus Muwafiq utarakan adalah usaha introdusir: memanusiakan Nabi Muhammad agar semakin bertambahnya iman di hatinya para jamaah. Namun, pola komunikasi dakwah kiai asal Lamongan tersebut, bagi sebagian kalangan, dinilai terlalu kasar dalam menggambarkan Nabi Muhammad.

Terlepas dari semua itu, sekiranya perlu adanya klarifikasi dengan cara diadakannya dialog dan diskusi dari kedua belah pihak yang berkonflik untuk memberikan demi mengurangi potensi kegaduhan sosial yang dapat memicu datangnya pihak-pihak “eksternal untuk memanfaatkan” kondisi dari situasi tersebut.

*) Mahasiswa Studi Agama-agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *