Kategori : Essai

Meraup Untung dari Digital Planner di Tengah Pandemi ala Orang Barat

     Masa pandemi tidak menjadi halangan bagi para pebisnis digital planner dalam mengembangkan kreativitas, khususnya masyarakat Barat. Perlu diketahui bahwa di Barat, saat ini peminat produk digital planner semakin tinggi. Hal tersebut dapat dilihat melalui salah satu platform ide kreatif Pinterest, di mana postingan digital planner semakin meningkat dan beragam.      Para development digital planner

Ateisme: Agama Masa Depan

Oleh: Zaki, Prodi SAA Saya bertanya-tanya, apa ada rakyatnya Firaun yang sempat mempertanyakan masa depan dari eksistensi Dewa Matahari pada masa itu? Jika ada, maka dia adalah filsuf yang namanya tak sempat masuk dalam buku-buku sejarah filsafat. Sebab, mempertanyakan masa depan agama pada zaman itu adalah hal yang luar biasa progresif. Mungkin saja tidak terbayang

Prioritas Pemerintah saat Pandemi, Ekonomi atau Kesehatan?

Oleh: Yusan Dunia saat ini telah dihadapkan oleh pandemi Corona Virus Deases 2019 atau Covid-19. Sejak pertama kali ditemukan pada pertengahan desember 2019 tepatnya di Provinsi Wuhan, Cina. Virus ini telah menyebar ke seluruh dunia. Dilansir dari data Tribun News, pertanggal 17 Mei telah tercatat sekitar 39,5 juta orang di dunia terjangkit virus ini. Dengan

Mahasiswa yang Memunggungi Teoretikusnya

       Pembahasan mengenai mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control dapat dijumpai hampir di seluruh ruang diskusi mahasiswa, mulai dari perbincangan non-formal yang ngalor-ngidul, hingga karya ilmiah yang ditulis oleh seorang akademisi. Bahkan, doktrin tersebut sudah ditanamkan kepada mahasiswa sejak pertama kali menyandang status kemahasiswaannya, baik saat sosialisasi pra-Ospek (Orientasi Studi dan

Mengadopsi Buatan Asing, Salahkah?

Oleh: Erliana W P Dewasa kini agaknya anak bangsa tak perlu lagi untuk dicerdaskan. Terbukti dengan adegan-adegannya yang molek memainkan peran orang dewasa, meskipun belum saatnya. Jika dulu orang tua selalu mengajarkan budi dan perilaku baik kepada anak cucunya, maka saat ini rasanya orang tua tak perlu lagi berperan. Drama ini seolah-olah menampilkan keadaan anak negeri

Covid-19: Pendidikan ataukah Kesehatan?

Oleh: Jawahirul Ahmad Al Ubaidi Sebuah pemandangan yang tak biasa terjadi tepat pada tahun 2019 lalu, yakni sebuah musibah yang melanda seluruh dunia. Ya, virus tersebutlah yang menyebabkan guncangnya kehiduan di dunia. Karena, banyak hal yang berubah saat datangnya musibah ini. Selama berbulan-bulan, dunia mengalami mati suri yang mana seluruh aktivitas di luar sama sekali

Nilai Spiritual Gaya Hidup Minimalis terhadap Kesehatan Mental

Minimalist lifestyle atau gaya hidup minimalis ternyata dapat berdampak pada nilai spiritual seseorang, sekaligus memberikan efek pada kesehatan mental. Hal tersebut dapat diamati lewat bagaimana seorang minimalis menjalani kehidupannya. Mulai dari mengatur rutinitas, keuangan, pikiran, sekaligus mengendalikan emosi. Semuanya dapat berubah seiring dengan perubahan gaya hidup dan kesadaran akan nilai minimalis itu sendiri. Perlu diketahui

Ambisi: Katastrofe Manusia(?).

Kaisar Romawi, Marcus Aurelius (Romawi, 121-180) pernah menulis, “Nilai seorang manusia tidaklah lebih dari nilai ambisinya.” Ambisi (ambitio), artinya “berkeliling untuk mencari dukungan”. Kata ini bisa dipahami sebagai upaya untuk mencapai pengakuan dari publik. Namun, bukanlah aib apabila banyak sekali ditemukan manusia yang berpresepi bahwa diakui oleh publik atau mencari eksistensi dan reputasi merupakan salah

Pesan Tersirat Tembang Dolanan Ilir-Ilir dalam Progesivitas Pendidikan Karakter Anak.

Tembang Ilir-ilir karangan Raden Said atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga, ternyata dapat memberikan kontribusi yang besar dalam progesivitas Pendidikan karakter anak. Melalui bait-bait tembangnya, Raden Said yang memiliki gelar lengkap Sira Ingkang Sinuwun Kanjeng Sunan Kalijaga Waliyullah Tanah Jawa Langgeng ing Banawa ini, menyiratkan nilai-nilai kehidupan yang dapat dijadikan sebagai pijakan. Khususnya

Menjadi Pembela Samudra, atau Perusaknya?

  Setiap tahun, manusia bisa menggunakan plastik hingga sebanyak 78 juta ton. Dari jumlah tersebut, hanya 2% saja yang didaur ulang dan 32% diketahui masuk ke dalam ekosistem darat yang kemudian masuk juga ke dalam laut. Tak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini laut kita sedang rusak. Entah karena polusi, sampah, ataupun limbah. Harus dengan apalagi