Penulis: M. Hengki Fernando

Editor: Moh.Faiqul Waffa

Empat dari enam program studi Strata 1 (S1) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya sedang menghadapi reakreditasi. Beberapa pagu mahasiswa bahkan ditambah menjadi dua kelas dengan total 70 mahasiswa. Jurnal Teosofi juga sedang didorong untuk masuk dalam indeks Scopus. Semua ini menunjukkan ambisi besar fakultas untuk meningkatkan kualitas dan reputasi institusi. Namun, dibalik ambisi besar tersebut terdapat beberapa potret yang harus kita lihat, seperti beban kerja yang menumpuk, tekanan psikologis yang menggerus dan berimbas pada penurunan intensitas mengajar dosen serta timbulnya cedera-cedera dari dalam yang dipaksa untuk ditutupi demi lancarnya proses akreditasi. Padahal sebuah luka harus segara diobati agar terhindar dari infeksi dikemudian hari, bukan dibiarkan membusuk untuk terlihat apik sementara waktu. Inilah yang saya sebut sebagai kondisi berkilau di atas berdarah di bawah.

Akreditasi merupakan instrument penting untuk menjamin mutu, tidak ada yang membantah itu. Namun, Ketika seluruh sumber daya difokuskan untuk mengesankan para asesor, apalagi sampai mencederai beberapa elemen di dalamnya, maka kita sudah mulai memasuki suatu keadaan yang berbahaya. Ketika pencitraan mengalahkan kejujuran, luka-luka ditutup paksa tanpa diobati bahkan dipoles dengan indahnya. Dalam suasana seperti ini, kerja dosen dan tenaga kependidikan menjadi tidak manusiawi, mahasiswa kehilangan hak atas pembelajaran yang ideal, dan atmosfer akademik menjadi pengap.

Salah satu contoh pernah ditulis oleh Nayaka Inabimanthra Wiwudha dalam opini yang dimuat dalam laman Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Forma, baca Fosilisasi Filsafat di Museum Pemikiran yang Sepi Pengunjung

Dalam wawancara liputan berita pemotongan dana ormawa, baca Perubahan POP Ormawa Tuai Protes, Kelalaian Wadek II Menjadi Penyebab.  Kami LPM Forma mencoba untuk mewancarai wadek III, karena beliau orang pertama yang menyampaikan tentang penurunan dana ormawa untuk pemateri.

Sayangnya, bukannya memberi jawaban yang memuaskan beliau malah mengarahkan untuk mencari informasi kepada wadek II, padahal beliau sebagai orang pertama dan stakeholder dari perwakilan mahasiswa yang seharusnya mengetahui hal tersebut.

“saya berharap LPM Forma turut berkontribusi, bukan menambah panas situasi dan kontraproduktif. Saya menghindari berkomentar utk hal-hal yang sangat sensitif, supaya semua tetap kondusif dan konstruktif.”

Ketika LPM FORMA mencoba merekam dan mengkritisi kondisi tersebut, respons yang muncul justru kekhawatiran akan “memanaskan suasana”. Padahal, kritik bukanlah ancaman. Kritik adalah bentuk cinta terhadap institusi. Kritik adalah suara mereka yang tidak punya akses ke ruang-ruang rapat keputusan. Justru ketika ruang kritik dibungkam atas nama “kekondusifan”, kita sedang memoles wajah sambil membiarkan luka bernanah di dalam.

Sehingga kesenjanggan antara kemampuan dan wajah yang dipaksa apik membuat dampak besar yang berimbas kepada kegagalan untuk mencapai tujuan. Branding belum matang, manajamen perekrutan peserta didik yang belum maksimal serta permasalahan internal di tengah menurunnya eksistensi setiap jurusan di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat berimbas kepada target pagu mahasiswa. 215  pendaftar SPAN-PTKIN yang diterima di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat hanya 122 yang melakukan daftar ulang, harapan fakultas untuk memenuhi pagu kelas memiliki tantangan yang semakin berat dan menantang.

Wadek III Andi Suwarko melakukan terobosan dengan melakukan pendampingan terhadap mahasiswa baru yang dibungkus dengan pendampingan beasiswa. Pendampingan beasiswa dilakukan oleh beberapa prodi terakreditasi unggul seperti prodi Akidah Filsafat Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, dan Studi Agama-Agama, dan benar saja buah dari kegagalan dalam mencapai pagu mahasiswa membuat wadek III melakukan terobosan yang terkesan mendadak dan tanpa persiapan.

Tepat pada jam 01.18 dini hari wadek 3 mengirim surat undangan rapat ormawa dalam grup wa yang membahas terkait pendampingan mahasiswa. Waktu jam tidur yang kadang digaungkan oleh para dosen bahwa tidak sopan jika melakukan komunikasi dengan dosen pada malam maupun dini hari. Gubernur DEMA Fakultas Ushuluddin dan Filsafat M. Dhaffa Assyahwal menanggapi dalam komunikasi via grup wa tersebut dengan keberatan dikarenakan rapat yang terkesan mendadak, bagaiamana tidak, undangan rapat jam 1 dini hari sedangkan pelaksanaan rapatnya hari itu juga jam 13.00, namun dengan dalih waktu yang mepet dan pendampingan belum sesuai harapan maka harus ada langkah darurat rapat tetap dilaksanakan secara mendadak, mendidik, menduduk.

Fakultas Ushuluddin dan Filsafat tengah berada pada persimpangan yang krusial. Ambisi untuk mendapatkan pengakuan formal melalui akreditasi adalah langkah wajar dan positif. Namun, ketika seluruh energi fakultas dikuras untuk menyajikan wajah yang tampak apik demi penilaian eksternal, sementara luka di dalam dibiarkan membusuk, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah kita sedang membangun mutu, atau sekadar memoles citra?

Sudah saatnya fakultas tidak hanya berlari mengejar pengakuan administratif, tetapi juga menata ulang tubuhnya dari dalam secara struktural, budaya, dan relasi. Oleh karena itu, beberapa solusi substantif perlu segera dilakukan demi menyelamatkan nilai-nilai akademik di lingkungan fakultas.

Reformasi Manajemen Akademik, menyiapkan planning secara matang sehingga tidak ada kegiatan yang terkesan mendadak dan memberatkan pihak-pihak terkait. Pemulihan Atmosfer Akademik dan Kualitas Pembelajaran, karena kuliah bukan hanya mengerjakan artikel jurnal, presentasi lalu pulang, ruang akademik harus di warnai dengan inovasi-inovasi yang dapat mengembangkan nalar mahasiswa dan bersaing dengan tantangan zaman sehingga akreditasi itu akan datang dengan kualitas yang memang kita miliki. Akreditasi Berbasis Perbaikan Nyata, Bukan Pencitraan Agar hasil akreditasi benar-benar mencerminkan kualitas sejati, bukan sekadar citra sementara, kita perlu membentuk tim mutu internal yang bekerja sepanjang tahun, mengawal standar kualitas fakultas dengan konsisten, jujur, dan terbuka.

Tulisan ini bukan ajakan untuk menolak akreditasi, melainkan ajakan untuk mengembalikan makna sejatinya. Jika kita sungguh mencintai fakultas ini, maka kita harus bersedia melihat lukanya, merawatnya, dan memperbaikinya bersama. Sebab, fakultas yang sehat bukan yang selalu tampak sempurna, tetapi yang mampu terus belajar dari kekurangannya. Penulis jadi teringat penggalan lagu hindia berjudul Evaluasi

“Bilas muka gosok gigi evaluasi”.

Bersihkan kotoran yang ada bahkan hingga ke sela sela gusi lalu jangan lupa untuk memulai hidup lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *