Reporter: Satria Pringgandani Abdillah dan Erlangga Nasution
Editor: Imdi Fahma
FORMA (12/05) — Sejumlah mahasiswa memadati Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya untuk mengikuti seminar bedah buku “Rumah” karya penulis JS Khairen, Selasa (12/05). Kegiatan yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Aqidah dan Filsafat Islam ini merupakan kegiatan rutin untuk menjaga tradisi literasi di lingkungan kampus, sekaligus menyoroti relevansi kehidupan pesantren dengan dunia literasi modern.
Pemilihan buku “Rumah” sebagai objek buku bedah didasari oleh latar belakang cerita yang mengangkat kehidupan pesantren. Tema ini dinilai relevan dengan mayoritas mahasiswa UINSA yang menempuh pendidikan di pesantren.
“Kami memilih buku ini karena sedang ramai dibahas. Selain itu, latar belakang tokoh utamanya adalah anak pesantren, namun ditulis oleh penulis non-pesantren. Ini menjadi sudut pandang menarik bagi mahasiswa UINSA,” ujar Ketua Pelaksana kegiatan.
Antusiasme peserta terlihat sejak sesi tanya jawab dimulai. Banyak peserta yang mendapat kesempatan untuk berdialog langsung dengan JS Khairen. Tidak hanya itu, puluhan pelajar rela mengantre demi mendapatkan tanda tangan langsung pada koleksi novel mereka.
“Saya membawa 11 buku untuk ditandatangani langsung oleh beliau,” ungkap Muham, salah satu peserta seminar.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini memberikan pandangan baru mengenai pentingnya literasi bagi mahasiswa.
“Membaca adalah salah satu pilar mahasiswa,” tegasnya.
Peserta lain, Rizky, menyoroti pesan moral dalam buku tersebut. Menurutnya, buku “Rumah” memberikan definisi baru mengenai tempat kembali.
“Rumah bukan sekedar tempat kembali, namun tempat di mana kita boleh gagal dan menjadi diri sendiri,” tuturnya.
Meski berjalan lancar, panitia sempat menemui kendala teknis terkait keterlambatan pemateri akibat kepadatan lalu lintas di Surabaya. Hal ini berdampak pada durasi penggunaan gedung yang terbatas. Panitia pun harus melakukan koordinasi tambahan terkait biaya perpanjangan waktu penggunaan auditorium.
“Acaranya sudah bagus, meski JS Khairen sempat terlambat karena kondisi jalanan Surabaya. Namun secara keseluruhan tetap memuaskan,” pungkas Muham.
Melalui agenda ini, HMP AFI menunjukkan bahwa minat siswa terhadap diskusi intelektual tetap tinggi di tengah gempuran budaya digital yang serba instan.

