Bawa Angin Segar, Ngosek Klimaks Bicarakan Industri 5.0

Reporter: Azilatul Husna

Editor: Sabitha Ayu Nuryani

Sumber: Dema FUF

FORMA (26/02) – Serial Online Ngosek Klimaks pertama oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) diselenggarakan pada Jumat, 26 Februari 2021. Acara ini diikuti 99 peserta dan berlangsung sejak pukul 18.30 – 21.55 WIB dengan mengangkat topik “Society 5.0 dan Optimalisasi AI” yang dijelaskan oleh 3 pemateri sekaligus: Andes Rizky (Managing Director Shinta VR dan Managing Director Milealab), Afif Akbar Iskandar (AI Scientist Bukalapak), dan Kevin Nobel Kurniawan (Penulis dan Dosen Sosiologi UI).

“Alasan kami mengambil tema ‘Society 5.0 dan Optimalisasi AI’ (adalah) dikarenakan keperluan kita untuk memetakan tuntutan zaman dan bagaimana kita bisa mengoptimalkannya,” jelas Akbar Arry selaku Ketua Pelaksana Serial Online Ngosek Klimaks saat diwawancarai pada Jumat (26/02).

Sesuai yang telah dijadwalkan, Andes Rizky sebagai pemateri pertama membawakan materi berjudul “Virtual Reality Is Now!” di awal acara. Ia menjelaskan bahwa virtual reality yang dimaksud yaitu teknologi yang bisa mengirim manusia ke dunia virtual dengan segala skenarionya dan membuat manusia tenggelam ke dalamnya.

Acara dilanjutkan oleh pemateri kedua, Afif Akbar Iskandar, dengan mengangkat materi berjudul “Society 5.0 dan Optimalisasi AI”. Menurut penjelasannya, dikatakan bahwa AI (artificial intelligence/kecerdasan artifisial) adalah program yang mampu belajar menalar seperti manusia. Bahkan, AI mampu membantu manusia itu sendiri melakukan hal yang sulit sekalipun.

Pemateri terakhir, Kevin Nobel Kurniawan mengangkat materi berjudul “The (In) Save Digital Society”. Di tengah penjelasannya, Kevin Nobel Kurniawan mengatakan bahwa AI adalah program yang mampu menuntaskan banyak masalah di dalam kehidupan manusia. AI bisa berkawan dengan manusia dan sebaliknya manusia pun bisa berkawan dengan AI, tetapi jangan sampai alasan ‘berkawan dengan AI’ menjadikan kita dependen kepada AI yang bisa menyebabkan kita tidak mau berkomunikasi lagi dengan manusia dikarenakan terlalu nyaman dengan AI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *