Penulis: Fatkhur Rozaq Al Akbar
Editor: Thoriq Syauqillah
Senja sore itu berbeda seperti sore-sore sebelumnya: langit cerah berwarna jingga, pohon-pohon yang rimbun, bau hujan bercampur tanah siang tadi, dan banyak hal-hal lain yang tidak bisa kuceritakan.
Setiap kali menikmati senja, aku selalu terpana, entah karena keindahannya atau karena menunjukkan waktu pulang sekolah hampir tiba.
“Keyra ayo pulang, waktunya sudah habis”
Suara temanku berhasil membuyarkan lamunanku. Astaga, ternyata aku telah melamun sejak pelajaran ipa tadi.
“Makanya jangan melamun saja to” temanku terkekeh
Aku melangkah dari bangku tempat dudukku sambil menggerutu,
“Aishhhh…..kau telah menyita waktu belajarku senja… mentang-mentang kau indah” .
Aku berjalan bersama temanku meninggalkan sekolah kami. Sekolah yang dindingnya terbuat dari bambu anyaman seadanya, atapnya terbuat dari seng yang memiliki banyak lubang, sehingga kalau hujan suaranya lebih nyaring daripada suara guru.
Sekolah pertiwi
Itulah nama sekolahku, tempat di mana anak-anak pedalaman sepertiku menempuh pendidikan dengan fasilitas dan perjalanan yang sangat jauh dari kata nyaman. Aku pernah berimpian untuk pergi ke kota dan tinggal di sana, tapi sangat menakutkan jika aku meninggalkan kampungku yang asri nan sejuk ini.
Ditengah perjalanan pulang aku menanyakan sesuatu kepada temanku
“Hei..kenapa ya sekolah kita sangat berbeda dengan sekolah-sekolah yang ada dikota besar” ucapku dengan nada bertanya
“Hmmmm…..tidak tau, mungkin karena papua ini sangat jauh dari pusat kota”
“Apakah karna papua jauh dari ibu kota, lalu kita dibedakan dengan anak yang dari kota??”sanggah ku dengan nada tak terima
Temanku mengehela nafas panjang
“Aishhh… sudah lah, kepalaku ini sudah pusing sekali, kita terima nasib saja masih untung ada sekolah di sini, kalau tidak ada?? Bagaimana?? Malah lebih parah ke” ujaran temanku dengan nada agak tinggi (entah karena dia tidak tahu penjelasannya atau dia memang sudah lelah dengan pelajaran tadi)
“Hmmmmm….ya sudah lahh” ucapku dengan nada pasrah dan menyerah menemukan jawabanya
Sepanjang perjalanan pulang aku melihat hutan sekitarku, hutan yang dulu jadi penopang hidup kami masyarakat pedalaman, hutan yang kami aggap sebagai mama karna jasanya selama ini, hutan yang tidak hanya berjasa kepada kami tapi juga ke semua manusia indonesia
Namun, itu semua hanyalah kenangan saja. Hutan yang kami bangga-banggakan sekarang menjadi objek eksploitasi oleh proyek-proyek sialan itu.
Pohon yang ditebang habis-habisan
Tanah yang dikeruk secara besar-besaran
Sungai yang penuh limbah-limbah pabrik
Mereka datang bagaikan pahlawan kesiangan dengan janji-janji manis untuk meningkatkan ekonomi Papua… tapi nyatanya? Justru yang meningkat adalah kerusakan hutan yang disebabkan oleh proyek sialan itu; justru yang meningkat adalah konservasi kami… orang-orang pedalaman.
Jalanan yang dulu penuh dengan rumput dan akar pohon, kini berubah menjadi jalan kendaraan proyek
Burung-burung yang berkicau dulu, sekarang sudah berubah menjadi mesin-mesin pengebor
Singa yang dulu mengaum sebagai raja rimba. Kini, mengaum sebagai hewan yang diambil dari rumahnya
Aku menundukkan kepala saat melewati sebuah bukit yang kini hampir gundul. Dulu bukit itu dipenuhi pohon matoa dan tempat bermain kami sepulang sekolah. Sekarang hanya tersisa tanah merah dan bekas roda alat berat.
“Sedih ya…” gumamku pelan sambil menunjuk ke arah bukit
Temanku ikut berhenti berjalan. Ia memandang bukit itu beberapa saat dan berkata, “Bapakku bilang nanti di sana mau dibangun perusahaan besar.”
“Perusahaan lagi…” desisku lirih.
Apakah kemajuan ekonomi itu harus mengorbankan hutan dan bukit? Apakah para pengusaha itu belum cukup dengan harta yang mereka miliki? Apakah negara ini belum puas menyiksa kami?
Kalau kalian bertanya kenapa kami menyetujui proyek-proyek itu masuk ke Tanah Papua… heii, jangankan setuju…. bahkan kami saja tidak tahu menahu. Mereka datang sendiri lalu pergi dengan segala kerusakan yang disebabkan, lalu masyarakat kami menanggung akibatnya.
Pikiran-pikiran itu berhasil membuat kepalaku penuh tanda tanya tanpa menemukan jawaban yang pasti.
Aku dan temanku berpisah di persimpangan jalan tadi. Rumah kami memang terbilang dekat, hanya beda dusun saja. Setiap dusun di sini memiliki ciri khas masing-masing. Dusunku yang terkenal dengan rumah anyaman bambunya, dusun temanku yang khas dengan peternakannya, serta masih banyak lagi dusun dengan ciri khasnya masing-masing.
Semua itu bertujuan agar kami hidup saling melengkapi
Setibanya di rumah, aku melihat bapaku di depan teras sambil memperbaiki jaring ikannya dengan wajah lelah .
“Bapak dari pantai??” tanyaku
“Iyaa” bapak jawab pelan “sekarang semakin dikit hasil tangkapan”
“Oh iya pak..kenapa?” tanyaku terheran
“Lautnya kotor dan tercemar limbah, ikan-ikan kabur semua,” jawab Bapak sambil terus memperbaiki jaring ikan yang robek sana-sini.
Aku…
Bukan karena tidak mau menanggapi, tapi karena aku sudah binggung dengan semua ini
Apakah ini kemajuan yang Anda maksud, wahai Bapak pemimpin negara?
Bapaku mungkin tidak pernah sekolah. Dia tidak pernah mempelajari apa itu geografi, matematika, maupun fisika, tapi dia cukup pintar untuk mengetahui bahwa ini semua bukan kemajuan bagi kami.
Akupun berjalan masuk ke dalam dan duduk di ruang tengah dengan ibuku yang sedang menjahit pakaian
Buku menjahit dalam diam. Suara mesin jahit tua itu terdengar pelan, kadang tersendat seperti kehabisan tenaga. Cahaya matahari masuk dari celah-celah dinding bambu rumah kami, mencapai wajah ibu yang tampak semakin tua.
“Keyra, kamu kenapa diam saja?” tanya ibu tanpa henti jahitannya.
Aku duduk di samping ibu lalu memandangi kain subur yang sedang dijahit.
“Ibu… memangnya hutan kita tidak bisa kembali seperti dulu?”
Pertanyaan itu membuat tangan ibu berhenti sejenak. Ia memandang lama, seolah sedang mencari jawaban yang paling tepat untuk anaknya yang masih terlalu kecil untuk memahami betapa rakusnya dunia.
“Hutan bisa tumbuh lagi,” jawab ibu pelan. “Tapi hati manusia yang serakah… itu sulit diperbaiki.”
Aku teringat akan kata pepatah si buta kehilangan tongkat
Kalimat ibu sederhana, tapi rasanya lebih tajam daripada parang milik masyarakat desa kami.
Malam mulai turun. Suara jangkrik terdengar bersahutan dari arah kebun belakang rumah. Aku keluar sebentar menuju halaman. Angin malam Papua biasanya sejuk, tapi sekarang terasa berbeda. Bau tanah bercampur dengan asap mesin proyek samar-samar masuk bersama udara.
Aku memandang langit.
Bintang-bintang masih ada.
Untung saja mereka belum ikut ditebang.
Bulan juga masih bersinar
Untung saja dia belum tercemar limbah
Keesokan harinya, sekolah diliburkan lebih cepat. Kata guru, akan ada rombongan orang kota datang ke kampung kami. Mereka ingin “bersosialisasi” tentang pembangunan baru.
Aku dan teman-temanku hanya saling memandang.
Kami sudah hafal arti kata pembangunan.
Artinya pohon tumbang.
Artinya sungai keruh.
Artinya suara burung hilang.
Dan artinya… kami harus kembali mengalah.
Di balai kampung, beberapa mobil besar berwarna hitam terparkir rapi. Orang-orang berdasi turun sambil tersenyum lebar. Senyum yang menurutku terlalu bersih untuk orang yang datang membawa kerusakan bagi hutan kami, sungai kami, dan juga harga diri kami.
Seorang pria berkacamata maju ke depan warga.
“Bapak Ibu semua, kami hadir membawa kemajuan!”
Kalimat itu langsung membuat kepalaku panas.
Kemajuan lagi.
Entah kenapa aku selalu membenci kata itu.
“Apakah kemjuan itu dikatakan berhasil jika yang dikorbankan adalah hutan, sungai, dan masyarakat kami??” aku bertanya kepada diriku sendiri
Mereka berbicara tentang lapangan pekerjaan, jalan raya, dan peningkatan ekonomi. Tapi tak satu pun membahas hutan yang hilang. Tak satu pun membahas sungai yang mati. Seolah-olah pohon-pohon itu memang tidak pernah hidup.
Aku melihat bapak berdiri di antara warga lain. Wajahnya datar, tapi matanya sorot penuh kemarahan yang ditahan.
Tiba-tiba seorang lelaki tua dari ujung kampung berdiri.
“Kalian bilang mau bangun Papua,” katanya lirih namun tegas. “Tapi kenapa setiap kalian datang, kami justru kehilangan rumah?”
Suasana syahdu.
Tak ada yang menjawab.
Bahkan angin pun seperti ikut diam.
Aku menggenggam rok sekolahku erat-erat. Untuk pertama kalinya aku sadar, mungkin suara orang kecil memang sering kalah keras dibandingkan suara uang dan mesin.
Namun, hari itu aku juga menyadari sesuatu.
Auman sang raja hutan ternyata belum benar-benar hilang.
Ia masih hidup… dalam kemarahan orang-orang yang mempertahankan tanahnya.
Ia masih hidup… dalam air mata ibu-ibu yang melihat hutannya rusak.
Dan ia masih hidup… dalam hati anak-anak pedalaman sepertiku yang belum mau menyerah pada keserakahan.
Sejak saat itu, aku merasa bahwa kamilah sang raja hutan itu
Kami memiliki hak atas tanah nenek moyang kami
Dan, aku akan terus melindungi kampung halamanku
Selayaknya sang singa yang melindungi buah hatinya.

